Pantau Sales lewat E-Order

Jawa Pos - - EKONOMI BISNIS -

Disrupsi telah mengubah pola bisnis, termasuk hubungan produsen dengan konsumen. Dari sebelumnya metode konvensional berganti via digital. Pelaku usaha pun mesti bersahabat dengan teknologi.

DALAM bisnis, teknologi bisa dipandang dari dua sisi. ”Bisa jadi pengganggu atau malah berperan agar bisnis yang dijalankan semakin praktis dan efisien,” tutur Direktur Mikatasa Agung Martin Hendriadi Fu. Pria asli Surabaya tersebut mencontohkan bisnis perhotelan yang mulai terganggu dengan aplikasi online yang menyediakan penginapan murah. Demikian pula bisnis transportasi yang kelabakan karena diganggu aplikasi online.

Namun, Martin bersyukur karena Mikatasa belum sampai jungkir balik terkena disrupsi teknologi. ”Bagi industri berbasis manufaktur seperti kami, bentuk disrupsinya adalah e-commerce

yang memangkas rantai distribusi,” ujar representative owner Hotel Majapahit itu.

Meski begitu, Mikatasa yang menaungi brand lem Rajawali serta Taka Paints itu memiliki berbagai strategi dalam melakukan shifting di era disrupsi. Salah satunya, mengefisienkan proses bisnis. Terutama terkait dengan konsumen dalam memperoleh barang. Saat ini sudah lebih dari 10 ribu outlet

di tanah air yang bekerja sama dengan Mikatasa. Selain itu, perusahaan telah mengekspor produk ke berbagai negara Asia dan Afrika.

”Kami bermainnya masuk ke tokotoko ritel, kemudian baru ke end user.

Dulu, jika ritel mau order ke Mikatasa, sales kami mendatangi mereka, lalu mencatat pesanan. Lalu, sales-nya

pulang ke kantor dan bikin laporan, kemudian gudang menyiapkan dan seterusnya. Cukup ribet,” tutur dia.

Namun, kini perusahaan telah melakukan transformasi untuk mengefisienkan cara kerja. Yaitu melalui program e-order. Program tersebut baru berjalan tahun ini. Tim sales Mikatasa dibekali tablet ketika datang ke ritel. Tablet tersebut memiliki banyak fungsi. Antara lain, menjadi sarana check in dan check out tim sales saat berada di toko. Dengan begitu, perusahaan bisa memonitor aktivitas pihak sales tersebut. ”Di dalam tablet ada GPS. Jadi, kami bisa tahu sales itu kapan masuk ke toko, berapa lama di sana, dan apakah beneran datang ke toko atau tidak,” papar Martin.

Manfaat lainnya, apabila pihak ritel ingin memesan lem ataupun cat, tim sales bisa langsung mengeklik di tablet tersebut barang yang mau diorder. Juga, jumlahnya berapa dan mau dikirim kapan. Dengan begitu, tidak perlu lagi menulis manual. ”Order via tablet langsung masuk ke pabrik dan diproses saat itu juga. Pengiriman bisa lebih cepat serta memangkas administrasi. Kinerja sales juga lebih efisien, tidak perlu bolak-balik kantor,” jelasnya.

Tablet tersebut juga berfungsi sebagai brosur atau marketing tools. Dengan demikian, produk baru bisa langsung ditunjukkan kepada konsumen. Tidak perlu lagi mencetak brosur di kertas. Dia mengakui, e-order membuat kinerja perusahaan meningkat signifikan. Penetrasi perusahaan menjadi lebih baik.

”Kami bisa masuk ke daerah-daerah yang tidak bisa dijangkau sebelumnya. Kami dulu cuma bisa ke kota-kota kelas 1, kelas 2. Tapi, dengan e-order, sekarang bisa ke area pelosok,” ungkap pria yang menjabat direktur Mikatasa Agung sejak 2013 itu. Ke depan, dia akan memperkuat digitalisasi di perusahaan. Dengan terus melakukan riset, Mikatasa bisa memanfaatkan teknologi terbaik untuk bisnisnya.

Saat masuk Mikatasa pada 2007, Martin memulai karirnya di bagian supporting business. Kala itu perusahaan ingin mengimplementasikan enterprise resource planning (ERP) atau memindahkan semua proses bisnis dari manual ke komputer. Martin berhasil menerapkannya. Proyek lainnya ketika itu adalah menerapkan sistem pengoplosan cat dengan sekali klik.

”Itu untuk mengantisipasi warna cat yang diinginkan konsumen, tetapi di kami tidak tersedia. Dengan adanya teknologi, kami hanya suplai cat putih, kemudian konsumen bisa minta warna apa saja dan catnya bisa langsung dioplos di tempat hanya dengan satu kali klik,” tutur dia.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.