Belanja Online

Editor JOY Galuh Wulandari mengakui kalau dirinya keranjingan belanja secara online. Namun kegemaran ini terjadi bukan tanpa alasan!

JOY Indonesia - - Joylist -

ika ditanya soal produk yang saya beli pertama kali secara online, saya sulit menjawab. Tapi saya ingat betul euforianya. Apabila hati seorang Vina Panduwinata “berlomba” ketika menanti pak pos yang mengantar surat cinta pertamanya, hati saya justru berdegup tidak menentu menunggu pak pos bawa barang belanjaan online yang baru saja dibeli. Kado untuk diri sendiri telah tiba! Entah itu pakaian, sepatu, televisi, DVD, atau tablet. Masih kurang ekstrem? Saya juga membeli pisau dapur, panci presto, hingga selang kebun (yang ukurannya bisa mengembang hingga tiga kali lipat dari ukuran biasanya!) dari beragam toko online dunia. Ya, begitulah. Itu juga belum termasuk voucher spa, hotel hingga tiket diskon masuk ke water park.

Bagi yang gemar belanja online, saya yakin kalian mengerti jalan pikiran saya. Jika tidak, pertanyaan seperti, “Yakin aman? Kalau barang tidak sampai? Tidak takut ukurannya salah? Asli atau tidak?” pasti muncul. Kata saya, semua pertanyaan tersebut bisa ditepis dengan riset… di mana? Ya, (lagi-lagi) di internet! Dari validitas toko online, barang (material, merek, dimensi, kualitas), harga, sampai ulasan dari para pembeli lain di luar sana. Semua ada, cukup klik dan klik. Sambil kenakan piyama juga boleh, tidak ada satpam mal yang bakal menegur! Nah, faktor inilah yang membuat saya lebih memilih belanja online ketimbang mencari langsung ke toko. Jujur saja, setelah energi terkuras di kantor, rasarasanya hati sudah tidak sanggup menembus hiruk pikuk ibu kota untuk sekadar beli selang kebun. Belanja di akhir pekan juga tidak menolong, karena orang-orang yang bikin ramai jalan raya semuanya pindah ke dalam mal! Takut ditipu? Ya beli di toko online yang sudah terpercaya dengan nama yang besar, dong. Memang salah satu poin minusnya adalah Anda tidak dapat langsung menggunakan barang itu karena harus melewati proses pengiriman. Tak apa, saya bisa bertahan sehari tanpa panci presto.

Saking banyak nilai plus, wajar jika saya bilang belanja online termasuk godaan yang hakiki. Bahkan ada masanya saya sempat hmmm, khilaf. Alhasil, beberapa app toko online sukses saya hapus dari gadget. Tapi lubuk hati terdalam tetap tersenyum karena saya tahu mereka selalu setia menunggu saya 24 jam sehari.

Toko selalu siap sedia 24 jam sehari”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.