“DEMI CITRA, SAYA TERLILIT UTANG”

JOY Indonesia - - Report - EKA SITUMORANG-SIR (33) Blogger dan Penulis Novel Anti Hutang

Delapan tahun lalu adalah salah satu masa paling berat dalam hidup saya. Bayangkan saja, saya baru lulus dan mulai bekerja, lalu ingin menikmati gaji tapi malah terlilit utang kartu kredit. Beli sepatu dan tas mahal, makan di restoran mewah, serta nongkrong di kafe untuk bersosialisasi yang jadi agenda sehari-hari bikin saya terjerat dalam situasi itu. Niatnya, pembayaran menggunakan kartu kredit itu akan dibayar lunas ketika gaji datang di akhir bulan. Tapi selalu ada kebutuhan lain yang lebih mendesak dan akhirnya saya cuma mampu bayar tagihan minimal. Saya sampai stres sendiri melihat laporan penggunaan kartu kredit setiap bulan. Parahnya lagi, karena kaget melihat tagihan, saya malah belanja untuk tenangkan diri sendiri. Lalu stres begitu tagihan datang, belanja lagi, stres lagi, dan terus seperti itu. Tidur jadi tak nyenyak memikirkan cara bayar utang yang mencapai Rp10 juta. Mungkin bagi sebagian orang, jumlahnya memang tak seberapa, tapi perkaranya jelas, gaji saya kala itu tidak mampu menutupinya!

Akhirnya meski berat, langkah ekstrem pun mesti ditempuh. Saya mengubah gaya hidup dengan drastis sebab saya sadar jika pembelanjaan yang dilakukan dulu itu demi diterima dan dipandang dalam pergaulan. Mulailah saya membawa bekal dari rumah, diet belanja, hingga mengganti lingkungan pertemanan. Dengan upaya tersebut, utang kartu plastik saya lunas dalam jangka waktu satu tahun. Tapi bukan berarti karena kejadian beberapa tahun silam itu, saya jadi kapok punya kartu kredit lho. Kini saya punya lebih banyak kartu dengan limit yang lebih besar, tapi tak pernah terjebak utang lagi. Kuncinya ada pada disiplin diri dan cara kita memandang kartu tersebut. Saya menganggapnya sebagai alat pembayaran saja, bukan sebagai pengganti uang.”

Belajar dari pengalaman dan disiplinkan diri gunakan kartu kredit

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.