Oleh: Rafi Diayu

Kawanku - - FIKSI -

Pagi itu selesai pelajaran olahraga, aku dan ketiga temanku duduk di tepi lapangan basket, sekedar melepas lelah setelah pengambilan nilai voli yang menyita hampir sepertiga lebih energi kami. Sementara Kanya, Silvi, dan Nadya asik bergurau, aku lebih memilih untuk menikmati pemandangan di depanku, sekumpulan anak cowok kelas sebelah yang sedang bermain basket. Baiklah, aku bohong. Sebenarnya kedua mataku sedari tadi berpendar memperhatikan cowok berkaus jersey 10 itu.

Lima menit berlalu tanpa melepaskan pandangan ke arahnya sedetik pun. Bagaimana bisa seorang Rangga Atmaja menyukaiku sampai segila itu dulu? Bagaimana bisa seorang Rangga Atmaja menjadi bodoh ketika dia kumaki habis-habisan karena berlebihan? Bagaimana bisa seorang Rangga Atmaja adalah temanku dari kecil dan aku enggak menyadarinya? Dan yang paling menyebalkan, bagaimana bisa Rangga Atmaja bisa semenarik ini sekarang?!

“Ah!” Aku memekik keras ketika tiba-tiba sebotol air mineral mendarat mulus di dahiku. Tanganku refleks mengelus dahiku yang malang lalu menoleh ke arah tiga gadis yang sedang memandangku dengan tawa. “Sorry.” Kanya terkekeh. “Kamu sih ngelamun aja.” Aku hanya berdecak. Tanganku bergerak memungut botol yang terjatuh tepat di bawah kakiku lantas meneguk seperempat dari isinya.

“Oh!” Aku berjingkat ketika ada yang menyahut botol tersebut dari tanganku lalu ikut meneguk isinya. Aku spontan mendongak kemudian tertegun. Tiga detik mataku mengamati seorang cowok berbadan tinggi tegap yang sedang meminum air mineral milikku dengan tanpa berkedip. Aku masih terdiam memandangnya

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.