Kalau kamu sungguh-sungguh ingin melakukan sesuatu, kenapa kamu mengganggap kemungkinan melakukan hal itu sendirian menjadi penghalang keinginanmu?

Kawanku - - DARI REDAKSI -

ertanyaan itu tertera besar di sebuah artikel di Hufftingtonpost yang saya baca beberapa waktu lalu. Link tulisan berjudul TheStigmaOfDoingThingsAlone di- share oleh salah satu teman saya di Facebook. Salah satu temannya meninggalkan komen, “Ohmygod.Thatishorrible! NooneshouldbedoingANYTHINGalone.Sosad.” Sebagai seseorang yang sering menikmati waktu sendiri, jelas saya merasa tersentil. Kenapa harus sedih melakukan sesuatu sendirian? Seharusnya dia yang sedih karena merasa harus ditemani orang lain untuk merasa senang. Lalu terjadilah ajang saling balas komen. Yang mana diakhiri dengan kami berdua setuju untuk tidak setuju. Jelas banget kami memang berbeda pandangan dalam melihat sebuah ‘kesendirian.’ Buat saya menghabiskan waktu sendiri berarti bisa melakukan apapun yang diinginkan tanpa harus direcoki orang lain. Bisa ngobrol sama diri sendiri sekaligus menjadi reflektif atas apa yang sudah dan akan dilakukan. Atau bisa juga enggak mikir sama sekali dan menikmati apa yang ada di depan kita. Sementara temannya teman saya ini menganggap berdialog dengan diri sendiri itu ‘psycho.’ Dia bilang kebahagiaan itu baru nyata bila ada teman berbagi, seperti keluarga, teman atau pasangan. Ketika dia menyatakan hal ini saya mulai malas berdebat. Apa yang dia katakan tidak seluruhnya salah. Iya betul kebahagiaan itu terasa menyenangkan bila kita bisa membaginya bersama orang yang disayangi. Namun buat saya, bukan berarti kebahagiaan menjadi tidak nyata saat kita merasakannya sendirian.

Metime umumnya dilakukan dengan meringkuk di rumah sambil nonton TV atau film. Tapi ketika harus menghabiskan waktu di luar sendirian, seperti makan malam, nonton, traveling, olahraga, banyak di antara kita yang langsung ciut. Rebecca Hamilton, pengarang InhibitedFromBowling Alone, bilang, “Kita enggak keberatan sendirian melakukan aktivitas praktis seperti belanja di supermarket atau ambil laundry. Tapi begitu melakukan aktivitas yang ‘hedonis’ atau hura-hura yang umumnya dilakukan dengan orang lain, kita merasa aneh melakukannya sendirian. Kita jadi khawatir karena orang akan melihat kita enggak punya teman.” Ini karena di situasi publik, kita merasa orang lain memperhatikan dan membuat kesimpulan atas diri kita, lanjut Rebecca.

Padahal, nih, sejujurnya orang lain juga belum tentu merhatiin dan bodo amat kita mau sendirian atau berame-rame sama geng. Seperti halnya kita seringkali terlalu sibuk sama diri sendiri untuk memperhatikan satu persatu orang tak dikenal yang ada di sekitar kita. Menurut riset yang dilakukan Rebecca, pada dasarnya orang akan merasakan kenikmatan yang sama ketika melakukan suatu aktivitas menyenangkan itu sendirian maupun dengan orang lain.

Jadi, kalaupun kita memang pengin banget melakukan sesuatu, jangan jadikan alasan takut sendirian untuk membatalkan niat kita. Karena kita bakal merasa keren banget ketika kita sadar bisa punya kekuatan untuk havefun sendirian.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.