Menjadi TKI sambil mengejar pendidikan

Kawanku - - CEWEK KEREN -

Awalnya, cewek asal Ciamis ini bertekad membantu ibunya membangun rumah dengan pergi ke Hongkong untuk menjadi TKI. Enggak mau berhenti di sana, Heni juga sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk pulang dengan membawa gelar sarjana. Tekad bulatnya ini didapatkan Heni karena ia ingin kuliah dan menjadi guru, enggak seperti cewek-cewek di kampungnya saat itu yang sudah dinikahkan pada usia muda dan enggak kuliah.

Heni mengaku saat itu ia sangat takut untuk berangkat ke Hongkong, sebuah kota yang jauh baginya yang tinggal di kampung. Apalagi ceritacerita tentang perlakuan enggak mengenakkan ke TKI sering terdengar. Tapi Heni tetap nekat berangkat. Menurutnya berangkat ke Hongkong memang menyeramkan, tapi kalau ia enggak berani mengambil loncatan besar saat itu masa depannya akan jadi lebih menakutkan.

“Bayangin aja di kampung aku

umur 14 tahun itu udah menikah, punya anak dua. Yang umur 17 tahun sudah menjanda dua kali. Jadi bagi aku pergi ke Hongkong itu menakutkan tapi kalau aku enggak berangkat ke Hongkong, aku enggak ngambil satu lompatan besar dalam hidup aku, maka masa depan bagi aku akan jadi lebih menakutkan,” cerita Heni.

Setelah berangkat ke Hongkong dan menjadi TKI, jalan Heni ternyata enggak semulus yang dikira. Ia sempat dibohongi agensinya dan mendapat gaji di bawah gaji yang dijanjikan. Tapi Heni enggak pasrah saja. Saat ia libur, Heni pergi ke perpustakaan untuk menyalurkan hobi membacanya sambil mencaricari info tentang bagaimana hukum ketenagakerjaan di Hongkong. Di perpustakaan juga ia banyak membaca koran hingga akhirnya ia mendapatkan informasi untuk berkuliah di St. Mary University yang kuliahnya berbahasa Inggris.

Heni mengaku selama di Hongkong justru ia betul-betul bisa melihat potensinya. Selama kuliah sambil bekerja, Heni selalu mengirimkan semua gajinya ke rumahnya di Ciamis untuk membantu sang ibu memperbaiki rumahnya yang hampir rubuh. Untuknya sendiri bertahan hidup di Hongkong ia menulis dan menjadi kontributor untuk majalah dan koran-koran di Hongkong. Heni juga rajin mengikuti lomba-loba untuk menambah penghasilannya untuk kuliah. Dari sanalah akhirnya ia menyadari potensinya di dunia tulis menulis.

“Sebelumnya aku enggak pernah baca koran, di kampung kita enggak bisa beli koran. Kita enggak punya uang untuk beli koran, buat makan aja susah. Ketika aku di Hongkong, pertama kalinya tulisan aku dimuat di koran itu rasanya kayak ‘ini

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.