”Sekarang Saya Merasa Negara Mulai Hadir...”

Kompas - - HALAMAN DAPAN - Oleh WINDORO ADI

Rumah Itjca (83) ada di lingkungan Jalan Jembatan Gantung 6/8, Kelurahan Kedaung, Kali Angke, Cengkareng, Jakarta Barat. Suasana khas permukiman padat sangat terasa. Dua sepeda motor kesulitan berpapasan di gang sempit di depan rumah tersebut.

Itjca adalah janda seorang veteran pejuang kemerdekaan, Prajurit Satu Abdul Rahim, yang meninggal tahun 1982. Meski sudah berumur, ia masih sehat. Pendengaran dan bicaranya masih normal. Ia tak banyak tahu tentang kerja suaminya semasa masih menjadi anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR). ”Tahunya jadi tentara saja. Sering ngilang dijemput kawan-kawan gerilyawan Bapak. Mondar-mandir dari Bojong ke Basmol. Waktu itu Basmol masih hutan. Jadi tempat persembunyian gerilyawan,” tutur Itjca menyebut salah satu nama kampung di Kembangan Utara, Jakarta Barat. Saat itu kalangan prajurit TKR berpangkat rendah hanya mengandalkan cangkul dan bambu runcing untuk berjuang. ”Bapak biasanya memikul cangkul dengan seikat bambu runcing ditutup rerumputan. Tentara Belanda biasanya membiarkan petani lalu lalang tanpa pemeriksaan,” ujar Itjca. Menjelang kemerdekaan, suaminya berdinas di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. ”Berangkat kosongan kalau pulang kadang bawa granat. Katanya buat nyerang Jepang.” Selebihnya Itjca tak tahu apa kegiatan suaminya. ”Setahu saya Bapak cuma kurir. Disuruh ke sana-kemari bawa perlengkapan senjata api, granat, dan mortir. Jarang berperang menyerang. Ya cuma sesekali,” ujar ibu lima anak itu. Itjca dan keluarganya mulai tinggal di rumahnya sekarang sejak awal 1970-an. ”Tadinya kami tinggal dekat gedung Pertahanan Nasional, Rawabuaya, Cengkareng. Tanah kami waktu itu luasnya 1.000 meter persegi,”

katanya. Karena alasan penataan kota, keluarga Abdul Rahim-Itjca dan sejumlah pejuang kemerdekaan lain beserta warga dipindah ke Jalan Jembatan Gantung. ”Waktu pindah baru ada empat rumah di sini. Rata-rata luas tanahnya 200 meter (persegi) dengan luas bangunan 69 meter persegi. Belum ada listrik. Listrik baru masuk tahun 1980-an,” kenang Muharom (60), anak sulung Itjca. Kala itu warga masih sering menggelar kesenian cokek, lenong, dan tanjidor Betawi. ”Kebanyakan warga, termasuk keluarga kami di sini, orang Betawi,” ujarnya. Itjca tersenyum mendengar cerita menggebu Muharom. ”Emang die nih nyang paling demen lenong sama tanjidor,” ujarnya.

Bantuan renovasi

Tak berapa lama setelah tinggal di Jalan Jembatan Gantung, Abdul Rahim meninggal. Sejak itu, Itjca menerima uang pensiun suaminya. Nilai pensiunnya mulai dari Rp 20 sebulan sampai saat ini menjadi Rp 1,3 juta per bulan. ”Gaji enggak pernah terima. Kami hidup dari bertani, menanam padi, jagung, dan sayuran. Abis kemerdekaan, suami saya lebih banyak bertani. Ke kantor paling cuma ngapel terus balik, nyawah lagi,” tuturnya. Sore itu, rumah Itjca tampak cerah karena warna biru temboknya masih baru. Menurut dia, rumahnya baru direnovasi dengan bantuan dari Kodam Jaya lewat Kodim 0503 Jakarta Barat. ”Renovasi berlangsung pada 14 Desember sampai 22 Desember 2016,” kata Muharom. Sebelum direnovasi, beberapa bagian plafon rumah itu rusak berlubang. Atap banyak yang bocor karena genteng pecah dan kayu penahan banyak yang patah. Setelah direnovasi, atap dan plafon diganti dengan bahan asbes. Lantai pun dipasangi keramik. Beberapa bagian dinding tembok diperbaiki agar tidak rembes air. Setelah itu, seluruh tembok dicat ulang. Renovasi juga dilakukan di rumah Mamat, tetangga Itjca. ”Alhamdulillah lebih adem sekarang. Enggak kepanasan lagi. Dulu atapnya bolong-bolong,” kata pria kelahiran Jakarta 1927 itu. Mamat bin Mahmud juga veteran pejuang kemerdekaan berpangkat prajurit satu. Salah satu dinding tembok rumahnya yang berwarna hijau digantungi piagam penghargaan Peristiwa Perang Kemerdekaan Kesatu dan Kedua tahun 1958 yang ditandatangani Menteri Pertahanan Republik Indonesia. ”Sekarang saya merasa negara mulai hadir dalam keluarga kami. Belum lama juga diberi bantuan bahan kebutuhan po- kok oleh Kodim (0503),” kata bapak delapan anak dan kakek 27 cucu itu. Pria asli Betawi Cengkareng itu selama ini hidup dengan mengandalkan uang pensiun Rp 2 juta per bulan. ”Uang pensiun habis hanya buat berobat. Kalau pakai BPJS antre lama, enggak kuat nunggu,” ujar Mamat yang menderita asma. Komandan Kodim 0503 Jakbar Letnan Kolonel (Inf) Wahyu Yudhayana, pada hari yang sama, mengatakan, ada delapan veteran yang mendapat bantuan renovasi rumah di lingkungan wilayah Kodim 0503. Kepala Penerangan Kodam Jaya Kolonel (Inf) Heri Prakosa mengatakan, dana bantuan renovasi rumah ini berasal dari dana tanggung jawab sosial perusahaan PT PLN (Persero). ”Di seluruh Jakarta ada 71 rumah yang direnovasi dengan biaya tiap rumah Rp 40 juta,” tutur Heri. Ia mengatakan, jumlah veteran di lingkungan Kodam Jaya mencapai 27.000 orang. Wahyu berharap ada bantuan renovasi setiap tahun bagi veteran. ”Bukan soal besar kecilnya nilai bantuan, melainkan kepedulian kita kepada mereka yang beranjak senja. Berat sama dipikul, ringan sama dijunjung,” ujarnya.

KOMPAS/ RONY ARIYANTO NUGROHO

Veteran pejuang melintasi foto-foto anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) saat perayaan HUT Ke-60 LVRI Tingkat Jawa Barat di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat di Bandung, Selasa (10/1). Dari sekitar 915.000 veteran pejuang, saat ini sekitar 120.000 orang masih hidup dan umumnya berusia di atas 80 tahun.

Opinions

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.