Menanam Benteng Masyarakat Pesisir

Kompas - - NUSANTARA - Oleh ANGGER PUTRANTO

Bagi masyarakat Desa Gebang yang tinggal di pesisir Teluk Lampung, tanaman mangrove tak ubahnya seperti benteng kehidupan. Mangrove tidak hanya meminimalkan kerusakan alam, tetapi juga melindungi 7.771 warga desa dari kemiskinan dan penyakit. Pasalnya, berkat mangrove, tangkapan ikan para nelayan berlipat dan warga terhindar dari malaria.

Desa Gebang adalah salah satu desa di Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, yang terletak di Pesisir Teluk Lampung. Secara geografis, Gebang memiliki garis pantai sepanjang 5 kilometer. Garis pantai itu belum termasuk garis pantai di Pulau Mak Itam dan Pulau Tegal yang secara administrasi masuk Gebang. ”Sebelum tahun 2000, kawasan mangrove di Gebang 250 hektar. Namun, dengan semakin maraknya usaha tambak, kawasan mangrove rusak dan luasnya berkurang. Sampai akhir 2010, kawasan mangrove tinggal 170 hektar,” kata Dadang, Kepala Desa Gebang, Rabu (14/12). Beruntung kerusakan alam di kawasan mangrove Desa Gebang diketahui para aktivis pemerhati lingkungan Mitra Bentala. Secara perlahan, pendampingan dan program penyelamatan kawasan mangrove digalakkan di Gebang. Dadang menyebutkan, sejak 2011 hingga 2016 luas kawasan mangrove perlahan pulih. Dalam waktu lima tahun, setidaknya kawasan mangrove bertambah sekitar 9 hektar sehingga luas kawasan mangrove hingga September 2016 sekitar 179 hektar. Tak ingin kawasan mangrove kembali rusak, warga desa melindungi tanaman mangrove dengan peraturan. Peraturan itu tertuang dalam Peraturan Desa Gebang Nomor 01/V/Tahun 2015 tentang Penataan dan Pelestarian Desa Gebang. ”Di peraturan ada larangan keras menebang pohon mangrove. Kalau ada yang berani menebang, sanksinya denda Rp 500.000 per batang. Peraturan ini harus keras karena kalau dibiarkan, orang akan terus menebang mangrove,” ujar Dadang.

Banyak ikan

Dampak dari aturan itu kini dirasakan warga. Kawasan mangrove kembali lebat. Ikan pun semakin banyak di sekitar perairan Gebang. Hal itu dibenarkan M Nasir, warga Gebang yang berprofesi sebagai nelayan. Ia mengaku, hasil tangkapannya semakin banyak dan tidak perlu mencari ikan di tempat jauh setelah hutan mangrove kembali lestari. ”Dulu mencari ikan semalaman hanya mendapat ikan 2 kg sampai 5 kg. Sekarang setelah mangrove semakin banyak, dalam semalam saya bisa mendapat 10 kg sampai 20 kg dalam semalam,” ucap Nasir. Nasir mengatakan tidak perlu jauh-jauh melaut. Jika biasanya harus melaut dengan waktu tempuh lebih dari tiga jam, kini dengan jarak tempuh tak lebih dari dua jam ia sudah mendapat banyak tangkapan. Nasir dan nelayan lain biasa mencari berbagai jenis ikan, udang, dan rajungan. Berkat keuntungan yang melimpah, Nasir menjadi lebih bersemangat me- lestarikan mangrove di Gebang. Nasir bersama sejumlah warga turut bergabung dalam Kelompok Pelestarian Mangrove Desa Gebang. Kelompok tersebut diketuai Bambang Supriyadi. Bambang mengisahkan, keuntungan kelestarian mangrove tidak hanya dirasakan para nelayan. Keuntungan yang lebih besar dirasakan hampir seluruh warga Gebang. ”Daerah kami merupakan daerah endemis malaria. Mangrove ini bisa menjadi solusi karena mangrove bisa mengusir nyamuk malaria. Dulu pernah ada beberapa kasus malaria yang menyerang warga desa, alhamdulillah lima tahun terakhir sudah tidak pernah ada,” katanya. Bambang menuturkan, mangrove memiliki kisah historis yang dekat dengan warga di pesisir Teluk Lampung. Kisah tersebut diceritakan turun-temurun dari para sesepuh dan dipercaya hingga saat ini. Konon, gelombang tsunami besar pernah melanda Lampung pada 1883, menyusul letusan Gunung Krakatau. ”Keluarga Raden Kukhang Gincing yang tinggal di Desa Menanga bisa selamat dari tsunami berkat mangrove. Keluarga itu tidak turut tersapu ombak tsunami karena berlindung dan berpegangan pada pohon mangrove yang cukup besar,” katanya. Salah satu bentuk nyata warga untuk melestarikan mangrove diwujudkan dengan menanam mangrove. Penanaman pertama dilakukan tahun 2011. Kala itu, lebih kurang 50.000 batang ditanam warga bersama sejumlah aktivis lingkungan. Bambang mengatakan, upaya pelestarian terus dilakukan hingga saat ini. Dua bulan sekali kelompok pelestari mangrove Desa Gebang menanam lebih kurang 1.000 mangrove. Warga kini juga mendirikan pusat pembibitan mangrove. Kelompok atau instansi tertentu yang ingin turut serta dalam pelestarian mangrove dapat membeli dan menanam mangrove di sekitar Gebang. ”Kami jual bibit siap tanam dengan harga Rp 1.500-Rp 2.000 per batang. Hasil dari pembelian kami gunakan untuk operasional pengawasan mangrove yang dilakukan tiga bulan sekali,” ujarnya. Tidak berhenti di upaya pelestarian, warga Gebang kini juga tengah merancang program pariwisata lestari. Hutan mangrove akan dijadikan wahana pariwisata yang mengedepankan edukasi dan konservasi. Pengunjung diharapkan tak hanya disuguhi keindahan alam, tetapi juga informasi mengenai manfaat mangrove. Dalam program pariwisata lestari itu, pengunjung juga dapat turut serta melestarikan lingkungan dengan menanam mangrove. Dadang, Nasir, dan Bambang berharap mangrove di Gebang terus lestari dan terus membentengi pesisir tempat tinggal mereka. Berkat mangrove, perekonomian dan kesehatan warga menjadi lebih terlindungi.

KOMPAS/ANGGER PUTRANTO

Warga yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat Pelestari Mangrove Desa Gebang menanam mangrove di Pesisir Teluk Lampung, Desa Gebang, Kabupaten Pesawaran, Lampung, Kamis (24/11).

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.