Mereka Terjerat dan Bangkit...

OLEH LARASWATI ARIADNE ANWAR

Kompas - - HALAMAN DAPAN - (MHD/EDN)

Wajah MI (26) pucat. Keringat dingin tampak membasahi lehernya hingga meresap di kaus berwarna merah yang dikenakannya. Tidak lebih dari 10 menit sebelumnya, pria yang kini bekerja sebagai pengojek itu meminum 50 mililiter metadon di Puskesmas Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, Senin (24/7). ”Ini untuk menekan kecanduan saya,” kata MI. Petugas kesehatan menyu- ruhnya beristirahat selama minimal 30 menit sehingga efek metadon di tubuh mereda. Barulah dia boleh pulang dan mengendarai sepeda motornya. Sebagai mantan pencandu narkoba jenis putau, MI sudah dua tahun menjalani Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM). Awalnya, dia menjalani terapi di Puskesmas Tebet, Jakarta Selatan, lalu pindah ke Puskesmas Gambir karena lebih dekat dengan wilayah kerjanya. Baginya, PTRM berguna menekan keinginan untuk kembali

JAKARTA, KOMPAS — Pemilihan presiden/wakil presiden masih dua tahun lagi, pada 2019. Wacana koalisi yang ada saat ini dinilai masih cair dan masih mencari bentuk, termasuk urusan calon yang akan diusung. Petahana dinilai masih berpeluang walau pencalonannya bisa terganjal beberapa persoalan. Dalam diskusi yang diadakan Lingkar Madani di Jakarta, Minggu (30/7), Wakil Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Maman Imanulhaq mengatakan, meski terkadang berbeda sikap, partainya sangat loyal terhadap pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Jokowi dinilai mampu memberi harapan bagi perkembangan Indonesia yang lebih baik. PKB juga memastikan akan menjadi jangkar dan jembatan komunikasi pemerintahan Jokowi. Dalam berbagai hal, menurut Maman, para pengurus partai sering kali menjembatani pemerintah dengan para kiai ataupun pengurus pesantren untuk menjelaskan kebijakan pemerintahan. Salah satunya, soal relasi antara umat Islam dan pemerintah. ”Isu kriminalisasi ulama harus diakui masih sangat kencang di bawah. Masih mengemuka,” kata Maman. Selain Maman, hadir dalam diskusi Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Tubagus Ace Hasan Syadzily, pengamat politik dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirojuddin Abbas, dan Direktur Lima Ray Rangkuti. Tubagus Ace mengatakan, sejauh ini, Golkar tidak mengubah sikapnya untuk mendukung pemerintahan Jokowi-JK. Hasil rapat pimpinan nasional Partai Golkar di Kalimantan Timur beberapa bulan lalu memastikan posisi ini, termasuk di dalamnya mendukung pencalonan kembali Jokowi sebagai capres 2019. Mengenai posisi cawapres, menurut anggota Komisi II DPR itu, sudah menjadi tradisi di partainya bahwa penetapan cawapres diserahkan kepada capres itu sendiri.

Alternatif

Sirojuddin Abbas mengatakan, dua tahun memang masih sangat jauh untuk mulai menggadang-gadang capres dan cawapres. Saat ini belum banyak alternatif baru capres di luar Jokowi, yang sudah didukung beberapa partai, termasuk Golkar. Diperkirakan, konfigurasi capres dan cawapres baru muncul pada 2018, sesuai dengan tahapan pemilu. Di luar kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan, menurut Sirojuddin, terdapat beberapa hal yang kemungkinan besar bisa menjadi ganjalan pencalonan kembali Jokowi, yaitu hubungan antara Jokowi dan pemilih yang mayoritas Muslim. Selain kelompok moderat dan konservatif, ada kelompok ultrakonservatif yang menuntut perhatian tersendiri. Bahkan, menurut Sirojuddin, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang selama ini dianggap sebagai perwakilan umat Islam tidak bisa lagi menganggap hal tersebut sebagai sebuah permasalahan yang mudah untuk diselesaikan. Masalah lain adalah hubungan dengan militer. Menurut dia, saat ini muncul persepsi bahwa di bawah Jokowi, Indonesia tidak cukup kuat. Pilihannya adalah memilih pemimpin dari kelompok militer atau menggandengnya sebagai wapres agar terjadi keseimbangan.

KOMPAS/ALIF ICHWAN

Diskusi membahas Undang-Undang Penyelenggaraan Pemilu, khususnya tentang ambang batas pencalonan presiden, berlangsung di Jakarta, Minggu (30/7). Pembicara yang hadir (dari kiri) Direktur Program SMRC Sirojuddin Abbas, anggota DPR Fraksi PKB Maman Imanulhaq, Direktur Lingkar Madani (Lima) Indonesia Ray Rangkuti, dan politisi Partai Golkar Tubagus Ace Hasan Syadzily.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.