Peneror Belum Ditangkap

Kepala Polri Menghadap Presiden Laporkan Perkembangan Kasus Novel

Kompas - - POLITIK & HUKUM - (INA/IAN/ODY)

JAKARTA, KOMPAS — Memasuki hari ke-111 setelah teror terhadap Novel Baswedan, belum ada titik terang mengenai siapa pelaku dan auktor intelektualis di balik penyerangan itu. Presiden Joko Widodo pun belum menerima laporan hasil penyidikan yang dilakukan Kepolisian Negara RI. ”Kemarin sudah saya sampaikan kepada Kapolri (tentang kasus Novel), besok (hari ini) mau menghadap,” ujar Presiden Joko Widodo saat ditanya kinerja kepolisian dalam menyelidiki kasus Novel, Minggu (30/7) di Jakarta. Meskipun demikian, Komisi Pemberantasan Korupsi memilih tetap memercayakan penanganan perkara ini pada kepolisian. Menurut rencana, KPK dan Polri akan kembali berkomunikasi mengenai penanganan perkara ini pada pekan ini. ”Dari hasil koordinasi dengan kepolisian sampai saat ini, kami masih berharap mereka bisa mengungkap semua ini,” ujar Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan. Sementara itu, Novel sebelumnya pernah mengungkapkan keraguannya atas upaya yang dilakukan kepolisian dan mendorong adanya tim gabungan pencari fakta yang independen untuk mengungkap upaya teror yang telah merusak penglihatannya. ”Kami memahami hal itu. Pimpinan pun sudah membicarakan ini supaya semua tindakan yang diambil tidak secara gegabah. Sebab bagaimanapun tindak pidana ini menjadi kewenangan kepolisian,” ujar Basaria. Ia pun meminta publik dan Novel tidak khawatir. Sejak awal, tim KPK sudah diturunkan untuk ikut dalam pencarian pelaku penyerangan terhadap Novel. Hal ini mengonfirmasi pernyataan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Tito Karnavian yang disampaikan pada bulan lalu seusai bertemu pimpinan KPK. Upaya permintaan keterangan terhadap Novel akan dilakukan lagi jika hal tersebut memang diperlukan oleh penyidik kepolisian.

Dukungan

Sejumlah tokoh lintas agama menandatangani pernyataan dukungan kepada KPK, sehubungan pelaksanaan angket oleh DPR. Mereka menyatakan dukungannya itu dalam pertemuan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/7). Pertemuan itu juga dihadiri oleh pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Shalahudin Wahid dan Ketua KPK Agus Rahardjo. Hadir dalam acara itu, sekitar 26 orang yang mewakili Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag) Jawa Timur dan Lembaga Keagamaan Kristen (LKK) Indonesia, Majelis Daerah Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Dewan Pengurus Pusat Perwakilan Umat Buddha Indonesia (DPP Walubi), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), dan perwakilan sejumlah klenteng atau Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD). KH Shalahuddin Wahid menegaskan, dipilihnya Tebuireng oleh komunitas ini berawal dari inspirasi bahwa pondok pesantren tersebut pernah melahirkan tokoh pendiri bangsa. Berkumpulnya agamawan di Tebuireng menjadi pertanda bahwa Tebuireng tidak meninggalkan tugas sejarahnya. Ketua KPK Agus Rahardjo menilai, keterlibatan organisasi sosial keagamaan ini bentuk memperluas dukungan pada sanksi sosial terhadap koruptor.

KOMPAS/ALIF ICHWAN

Personel Grup Band 90

ikut mengampanyekan pemberantasan korupsi dengan membentangkan spanduk sebagai dukungan di kawasan bebas kendaraan bermotor di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (30/7).

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.