Radikalisme Bukan Ajaran Agama

Kompas - - POLITIK & HUKUM - (BKY)

BANDUNG, KOMPAS — Radikaslime bukan bagian ajaran agama mana pun. Hal itu muncul akibat rendahnya iman takwa dan intelektualitas seseorang atau kelompok tertentu. Presiden RI ke-3, BJ Habibie, mengungkapkan hal tersebut saat memberikan kuliah umum bertajuk ”Presidential Lecturing: Learn From the Leader” di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kota Bandung, Sabtu (29/7). ”Radikalisme itu bukan ajaran agama. Tidak ada satu agama pun di dunia ini yang mengajarkan soal kekerasan,” ujar Habibie. Menurut dia, para penganut radikalisme agama adalah orang-orang yang tersesat dalam memahami agama. Ini terjadi akibat rendahnya iman takwa dan intelektualitas orang yang bersangkutan. Oleh karena itu, Habibie mengatakan, Indonesia harus mengembangkan budaya pendidikan yang baik. Sebab, kualitas pemahaman dan pendidikan yang baik jadi kunci membentuk sumber daya manusia Indonesia. ”Pemahaman dan implementasi budaya pendidikan yang baik nantinya akan menghasilkan intelektualitas dan keterampilan yang positif. Perpaduan keduanya akan menghasilkan sumber daya manusia yang baik juga,” ujar Habibie. Menurut dia, seseorang yang memiliki intelektualitas baik, tetapi iman dan takwanya buruk hanya akan menghasilkan orang cerdas tanpa hati nurani. Dampaknya orang tersebut akan egois dan tidak peduli dengan pembangunan lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, jika seseorang dengan iman dan takwanya baik, tetapi intelektual i tas nya rendah, hal itu hanya menghasilkan sumber daya manusia yang baik dan patuh, tetapi bodoh dan tertinggal. Hasilnya, orang-orang tersebut kerap menjadi pihak yang dimanfaatkan oknum-oknum tertentu. ”Dengan keseimbangan iman takwa dan intelektual, radikalisme bisa ditangkal. Sebab, iman dan rasionya akan bisa mencerna bahwa ajaran radikalisme itu keliru,” katanya. Habibie meyakini, keseimbangan iman dan intelektual juga diperlukan untuk menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang unggul. Sumber daya yang unggul menjadi pekerjaan rumah negeri ini di masa mendatang. Indonesia harus berhenti mengandalkan sumber daya alam yang melimpah karena hal tersebut suatu saat akan habis dan bangsa ini pasti akan kewalahan menghadapinya. Rektor UPI Asep Kadarohman mengatakan, Habibie merupakan salah satu negarawan yang pemikiran dan nasihatnya patut disimak dan dilaksanakan. ”Sumbangan pemikirannya bisa jadi semangat untuk warga negara Indonesia,” ujar Asep.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.