Tiga Wali Kota Ditembak Mati

Pejabat Daerah Diduga Terlibat Jaringan Narkoba di Filipina

Kompas - - INTERNASIONAL - Tidak ada perlawanan (AFP/AP/BEN)

MANILA, MINGGU — Perang terus dikobarkan Presiden Rodrigo Duterte terhadap pengedar narkotika dan obat-obatan terlarang atau narkoba di Filipina. Reynaldo Parojinog menjadi wali kota ketiga yang ditembak mati aparat Kepolisian Filipina karena diduga kuat terlibat dalam bisnis gelap itu. Parojinog, Wali Kota Ozamiz City, salah satu kota di Pulau Mindanao, Filipina bagian selatan, tewas ditembak polisi Filipina, Minggu (30/7). Ia tewas bersama 11 orang lainnya, termasuk istri dan satu saudara lakilakinya. Program penanggulangan terhadap narkoba dan peredarannya adalah salah satu program utama pemerintahan Duterte. Sejak ia dilantik menjadi Presiden Filipina pada paruh kedua tahun lalu, 3.200 orang tewas dalam operasi kepolisian. Meski hal itu ditentang pegiat hak asasi manusia (HAM) karena dinilai sebagai bentuk pelanggaran HAM, Duterte bergeming. Ia menyatakan bertindak keras terhadap siapa pun yang terkait dengan peredaran narkoba, tidak peduli latar belakang mereka. Parojinog sendiri sejak tahun lalu telah disebutkan Duterte sebagai orang yang diduga keras terlibat dalam peredaran narkoba. Parojinog disebut di antara tiga nama pejabat lain. Kebetulan dua orang di antaranya juga wali kota dan telah tewas dalam operasi terpisah, tahun lalu. Mereka adalah Rolando Espinosa, Wali Kota Albuera, dan Samsudin Dimaukom, Wali Kota Saudi Ampatuan. Espinosa tewas ditembak di selnya, tempat dia ditahan pada November lalu. Dia ditahan karena dugaan keterlibatan dalam peredaran narkoba. Dia ditembak mati saat terjadi kerusuhan di penjara tempat dia ditahan. Publik sempat mempertanyakan hal itu mengingat Espinosa belum terbukti bersalah di pengadilan, tetapi tindakan polisi itu dibela Duterte. Adapun Dimaukom ditembak mati pada Oktober, atau sekitar sebulan sebelum tewasnya Espinosa. Ia ditembak di sebuah tempat pemeriksaan polisi. Polisi mencurigai Dimaukom yang tengah bersama pengawalnya itu sedang mengirim narkoba. Dalam peristiwa yang mengakibatkan tewasnya Parojinog, Kepolisian Filipina menyatakan, kedua belas orang itu tewas dalam sebuah operasi penyelidikan tentang peredaran narkoba yang digelar polisi di sebuah lokasi di Mindanao kemarin dini hari. ”Polisi tengah menyelidiki sebuah tempat ketika tiba-tiba sejumlah penjaga wali kota itu menembaki aparat kami, maka polisi pun membalas (tembakan itu),” kata juru bicara kepolisian wilayah Inspektur Lemuel Gonda. Namun, hal itu dibantah pihak Parojinog. Menurut salah satu orang kepercayaan keluarga Parojinog, Jeffrey Ocang, sama sekali tidak ada tembakan lebih dulu dari pengawal Parojinog. Ia pun mempertanyakan alasan keputusan polisi untuk menembak Parojinog. Keluarga Parojinog adalah keluarga yang dinilai memiliki pengaruh politik kuat di wilayah yang dipimpinnya. Spekulasi pun menyeruak atas peristiwa itu. Apalagi, seusai operasi itu, polisi menangkap dan menahan satu anak perempuan Parojinog. Melalui juru bicara kepresidenan, Ernesto Abella, Duterte menyatakan tetap akan meneruskan tekadnya untuk keras terhadap pengedar dan pengguna narkoba di negerinya. ”Pemerintah bertekad mengintensifkan kampanye antinarkoba di negeri ini,” kata Abella. Polisi setempat menyatakan, aparat sebelum bertindak selalu melakukan penyelidikan mendalam. Para penjaga Parojinog antara lain diduga berbekal senjata tanpa izin.

AP PHOTO/XINHUA/FEI MAOHUA

Pasukan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China berbaris dalam formasi saat mereka tiba untuk mengikuti parade militer memperingati 90 tahun berdirinya PLA di pangkalan militer Zhurihe, wilayah otonomi Mongolia Dalam, China, Minggu (30/7).

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.