Canda Tawa yang Menyatukan

Kompas - - PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN - (ALOYSIUS B KURNIAWAN)

Di tengah ruang publik yang semakin sensitif, penuh kecurigaan, dan saling lempar ujaran negatif, Stand Up Gunung 2017 menawarkan wahana ekspresi budaya yang merangkul segala macam perbedaan. Dalam canda, semuanya disatukan. Dalam tawa, kritik disampaikan tanpa kebencian.

Ini adalah tahun kedua penyelenggaraan Stand Up Gunung di Bumi Perkemahan Wonogondang, Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penyelenggaraan pertama November tahun lalu. Jika tahun lalu Stand Up Gunung dihadiri 400-an peserta, tahun ini panitia mencatat 1.300-an peserta ikut dalam kegiatan yang dimulai Sabtu (29/7) hingga Minggu (30/7). Dari berbagai latar belakang dan daerah, mereka disatukan dalam satu kesamaan, yaitu hobi mengonsumsi kejenakaan. Stand Up Gunung menggabungkan pementasan stand up komedi sambil berkemah di lereng gunung. Bertema kebinekaan, semua peserta diajak menikmati keberagaman Indonesia dalam canda dan tawa Selama dua hari, ribuan penikmat stand up dijamu dengan penampilan maraton 38 komedian tunggal (komika) dan para master ceremony (MC) kocak, seperti Mukti, Rispo, Alit Jabang Bayi, dan penggagas acara ini, Anang Batas. Ribuan peserta tidak bergeser dari depan panggung. Mereka sangat menikmati penampilan demi penampilan para komika. Hari pertama Stand Up Gunung 2017 dibuka pukul 11.00 oleh MC kemudian disusul pentas musik Hasoe Angels. Mulai pukul 13.30 hingga pukul 16.45, satu per satu komika pentas masing-masing sekitar 10 menit. Rintik-rintik gerimis hujan tak membuat para penonton beranjak. Mereka tetap setia duduk menyaksikan penampilan para komika. Setelah diselingi istirahat, shalat, makan sejenak, dan penampilan band Satab Gnana, mulai pukul 19.20 para komika tampil lagi hingga pukul 22.45 dengan ditutup pertunjukan musik Orkes Pensil Alis dan Vikri Rasta Band.

Komitmen bersama

Stand Up Gunung bukan sekadar ”pesta” pertunjukan stand up bagi penggemarnya, tetapi juga ajang ekspresi secara total bagi para komika. Jika di layar kaca mereka harus berhati-hati menata kata, pada acara ini para komika ibarat meluapkan semua ekspresinya dengan bebas. Meski kadang-kadang terdengar agak liar dan lugas, penggagas Stand Up Gunung, Anang Batas, mengajak audiens dan para komika untuk membuat kesepakatan bersama. ”Kita semua sepakat menikmati kebersamaan. Karena itu, seluruh peserta tidak boleh merekam dan mengunggah video penampilan para komika. Kalau hanya ambil gambar dan ber-selfi ria silakan sepuas-puasnya,” ujarnya kepada peserta. Tak satu pun peserta protes terhadap komitmen bersama ini dan mereka pun terlihat menikmati semua pertunjukan. Kesepakatan untuk tidak mengunggah video ini penting agar para komika bisa tampil dengan santai dan rileks sekaligus mengantisipasi munculnya kesalahpahaman di media sosial. Komitmen bersama juga diwujudkan para peserta dalam menjaga kebersihan Bumi Perkemahan Wonogondang. Mereka sepakat membuang sampah di kantong-kantong sampah yang disediakan panitia.

Humor satire

Berulang kali dalam penampilannya, para komika menyampaikan humor-humor satire yang pedas tetapi jenaka. Komika Dzawin, misalnya, menyentil soal kurangnya penghargaan bangsa ini terhadap sosoksosok warga negara Indonesia yang sukses di luar negeri. ”Gua juara tiga stand up di Malaysia, tetapi tidak ada yang memberitakan satu pun di Indonesia. Padahal, gua bawa devisa untuk Indonesia. Ada pula mereka yang terkenal di luar negeri karena sukses ikut kompetisi tertentu. Di Indonesia mereka terkenal juga, tetapi bukan karena pencapaiannya, melainkan karena dicaci maki dan di-bully,” seloroh Dzawin. Sementara itu, komika Coki Pardede dan Muslim memilih tampil berdua sembari sahut-sahutan melontarkan canda. ”Kami sungkan membahas soal agama. Kami kritik acara-acara televisi saja. Ada acara (reality show) mikrofon pelunas utang di televisi. Ngapain orang difabel disuruh ikut kompetisi, udah kalah masih harus bayar utang lagi,” ujar mereka yang langsung disambut gelak tawa penonton. Awwe, Presiden Stand Up Komedi Indonesia sekaligus salah satu inisiator Stand Up Gunung, mengapresiasi semua penonton. ”Gua salut pada kalian yang tidak sensi dengan omongan-omongan kami,” paparnya. Stand Up Gunung benar-benar menjadi saksi berkumpulnya komika dan para penikmat stand up komedi dari seluruh Indonesia. Di sana sekat-sekat sensitifitas diretas, kotak-kotak perbedaan dileburkan, semua hanyut dalam totalitas ekspresi dan tawa lepas.

KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Komika Vikri Rasta tampil di panggung Stand Up Gunung 2017 yang digelar di Bumi Perkemahan Wonogondang, Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (29/7) hingga Minggu (30/7). Di acara ini, sebanyak 1.300 penikmat stand up komedi datang menyaksikan penampilan 40-an komika nasional.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.