Deteksi Dini dengan Periksa Pembuluh Darah

Kompas - - IPTEK LINGKUNGAN & KESEHATAN - (IKA)

JAKARTA, KOMPAS — Stroke yang merupakan penyebab kematian utama di Indonesia bisa dicegah baik dengan pola hidup sehat dan deteksi dini melalui pemeriksaan pembuluh darah ke otak yang disebut blue print pembuluh darah. Dengan pemeriksaan pembuluh darah, kelainan pembuluh darah yang bisa memicu stroke akan terdeteksi sehingga pengobatan bisa segera dilakukan. Aneurisma atau pelebaran pembuluh darah abnormal, misalnya, rawan pecah pada tingkat tekanan darah tertentu. Penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah bisa menyebabkan aliran darah ke otak kurang lancar dan menyebabkan stroke. ”Stroke terjadi karena pembuluh darah ke otak tersumbat atau pembuluh darah ke otak pecah. Langkah konkret pencegahannya adalah dengan mencegah sumbatan aliran darah ke otak dan yang pertama kali harus dicek (dideteksi) adalah (kondisi) pembuluh darah,” kata dr Julius July SpBS MKes IFANS, spesialis bedah saraf Rumah Sakit Siloam, dalam Forum Diskusi Kesehatan bertema ”Bahaya Stroke, Pencegahan dan Pemulihannya” yang diselenggarakan atas kerja sama harian Kompas dan Rumah Sakit Siloam, di Tanamera Cuisine, Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu (29/7). Selain Julius, pembicara dalam diskusi tersebut adalah dr Ray Indra Wibowo SpKFR, Koordinator Bidang Pengabdian Masyarakat dan Kemitraan Dalam dan Luar Negeri Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik (PB Perdosri), dan dr Zamhir Setiawan MEpid, Kepala Subdit Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Kementerian Kesehatan. Diskusi dipandu oleh wartawan Kompas, Evy Rachmawati, dan Tasya dari Radio Sonora Jakarta. Julius mengatakan, ada tiga metode pemeriksaan pembuluh darah, yaitu menggunakan magnetic resonance angiogram yang tingkat akurasinya 60-70 persen, CT angiography yang tingkat akurasinya 98-99 persen, dan angiography yang tingkat akurasinya hingga 100 persen. ”Pemeriksaan pembuluh darah bagi pasien stroke berdasarkan data pasien stroke di Rumah Sakit Siloam Karawaci bisa menurunkan risiko terkena stroke lagi hingga 2 persen. Apalagi jika itu dilakukan oleh mereka yang belum terkena stroke, pasti lebih efektif,” kata Julius.

Pola hidup

Zamhir mengatakan, stroke merupakan penyebab utama kematian di Indonesia, yaitu 21 persen. Kasus stroke terus meningkat, pada 2007 prevalensinya 8,3 per 1.000 penduduk, pada 2013 meningkat menjadi 12,1 per 1.000 penduduk. Selain akibat kelainan pembuluh darah, pola hidup yang tidak sehat juga bisa memicu stroke. Karena itu, pola hidup sehat tak bisa ditawar lagi. Untuk menjaga fungsi kerja jantung dan metabolisme tubuh, Zamhir menyarankan berolahraga minimal 30 menit per hari lima kali seminggu atau aktivitas fisik lainnya yang bisa membakar kalori. Makanan dijaga dengan cara diet sehat dan seimbang, antara lain banyak makan buah dan sayur. ”Hindari rokok dan asap rokok, istirahat cukup berkisar 6-8 jam per hari, serta mengelola emosi atau stres,” kata Zamhir. Masyarakat juga diimbau rutin cek kesehatan. Pasalnya, kata Zamhir, 70 persen penyakit tidak menular, termasuk stroke, tidak terdeteksi karena umumnya tidak ada keluhan. Bagi penderita stroke, kunci pemulihan adalah berobat dan terapi teratur. Ray mengatakan, terapi untuk memaksimalkan fungsi tubuh. ”Saat terkena stroke, proses belajar yang kita lakukan sejak kecil terhapus (dari otak), jadi harus dimulai lagi belajar,” katanya.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Forum Diskusi Kesehatan bertema ”Bahaya Stroke, Pencegahan dan Pemulihannya” yang diselenggarakan atas kerja sama harian Kompas dan Rumah Sakit Siloam digelar di Tanamera Cuisine, Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu (29/7). Pembicara dalam diskusi ini (dari kiri ke kanan), dr Zamhir Setiawan MEpid (Kepala Subdit Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Kementerian Kesehatan), dr Ray Indra Wibowo SpKFR (Koordinator Bidang Pengabdian Masyarakat dan Kemitraan Dalam dan Luar Negeri PB Perdosri), dan dr Julius July SpBS MKes IFANS (spesialis bedah saraf Rumah Sakit Siloam Lippo Karawaci), dengan moderator wartawan Kompas, Evy Rachmawati, dan Tasya dari Radio Sonora.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.