Populasi Harimau Sumatera Meningkat 30 Persen

Kompas - - IPTEK LINGKUNGAN & KESEHATAN - (ITA/VIO/AIN)

JAMBI, KOMPAS — Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan, populasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) naik 30 persen dalam 10 tahun terakhir. Hasil evaluasi terbaru menunjukkan, populasi harimau sumatera meningkat dari 400 ekor menjadi 600 ekor. Meskipun begitu, konflik satwa dan manusia serta perburuan liar masih menjadi ancaman serius. Berdasarkan hasil evaluasi aksi konservasi harimau sumatera (SRAK) tahun 2007-2017, peningkatan populasi harimau sumatera cukup signifikan, khususnya pada kawasan hutan konservasi, antara lain di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Berbak. ”Terjadi peningkatan yang cukup menggembirakan,” kata Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bambang Dahono Aji di sela-sela peringatan Global Tiger Day, di Jambi, Minggu (30/7). Data berbeda disampaikan Regional Coordinator Sumatera Tiger Project dariProgram Pembangunan PBB (UNDP) Very Iwan Setiawan di Lampung. Berdasarkan data UNDP, jumlah harimau sumatera kini hanya berkisar 300-400 ekor. Keberadaan satwa ini tersebar di Taman Nasional (TN) Gunung Leuser, TN Kerinci Seblat, TN Way Kambas, TN Berbak dan Bukit Barisan Selatan, serta Suaka Margasatwa Kerumutan dan Bukit Rimbang-Bukit Baling. Bahkan, katanya, populasi harimau sumatera dikategorikan kritis dalam kepunahan. Ancaman kepunahan itu disebabkan oleh hilangnya habitat harimau sumatera secara tak terkendali dan perdagangan ilegal. Bagian-bagian tubuh harimau diperjualbelikan untuk obat tradisional, perhiasan, dekorasi, dan lainnya. Selain itu, terjadi konflik antara harimau dan manusia yang membuat masyarakat dendam kemudian memburu dan membunuh harimau. Sepanjang tahun 2016, terungkap dua kasus perburuan dan perdagangan harimau sumatera di Lampung.

Ancaman tinggi

Ketua Forum Harimau Kita Munawar Kholis, di Jambi, mengatakan, ancaman perburuan satwa dilindungi belakangan ini sangat tinggi. Dalam operasi sapu jerat yang digelar serentak di Sumatera, pekan lalu, pihaknya menemukan banyak jerat harimau. Di bagian barat TN Kerinci Seblat ditemukan 48 jerat harimau. Temuan ini merupakan yang terbanyak dalam rentang waktu yang singkat, yakni hanya sepekan. ”Ini menandakan ancaman perburuan harimau sangat besar, termasuk dalam kawasan konservasi,” ujarnya. Dalam operasi setahun terakhir, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi, Balai Penegakan Hukum Kementerian LHK Wilayah II Sumatera, dan Kepolisian Daerah Jambi menangkap lebih dari 30 tersangka. Praktik perburuan dan perdagangan liar satwa dilindungi ini mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 5 miliar. Prihatin dengan ancaman tersebut, kemarin, para pencinta harimau sumatera yang tergabung dalam berbagai organisasi menggelar kampanye Pelestarian Harimau, di Bandar Lampung. Kampanye dalam rangka perayaan Global Tiger Day 2017 ini juga diselenggarakan serentak di Jakarta, Banda Aceh, Medan, Jambi, Palembang, dan Pekanbaru.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.