Mereka Terjerat dan Bangkit...

Kompas - - IPTEK LINGKUNGAN & KESEHATAN - (D REYNALDO TRIWIBOWO/WINDORO ADI)

menggunakan zat berbahaya itu, sekaligus menghilangkan sakau, rasa sakit yang ditimbulkan setelah efek mabuk menghilang. MI tumbuh di wilayah miskin kota di Jakarta Pusat. Di lingkungannya lazim ditemukan penyalah guna narkoba ataupun zat adiktif yang terkandung di dalam obat-obatan generik. Dia terbiasa melihat orang-orang di sekitar rumahnya terlihat lemas akibat baru memakai narkoba. Belum genap berusia 15 tahun, temannya ke rumah MI membawa sebungkus kecil serbuk putih dan jarum suntik. MI tidak tahu benda itu bernama putau. ”Kata teman, mainan baru. Saya enggak ngerti. Jadi, ikut-ikutan aja,” kata MI. Setelah menyuntikkan putau ke pembuluh darah, MI merasa senang. Efeknya dia merasa optimistis dan tidak mengkhawatirkan apa pun. Segalanya terasa santai. Akan tetapi, begitu efek menyenangkan itu surut, MI mulai merasa tidak enak badan. Seluruh tubuhnya ngilu, mata berair, dan perutnya mual-mual. Di tengah deraan itu, temannya mengatakan, penyakit itu hanya akan sembuh dengan menyuntikkan putau kembali. MI memercayainya dan meminta temannya membelikan putau. ”Harga seperempat gram pada tahun 2006 hanya Rp 50.000,” katanya. Sejak saat itu, ia tak bisa lepas dari putau. Dalam sehari, ia bisa menyuntikkan zat itu tiga kali ke pembuluh darahnya. Akibatnya, pendidikan MI pun terganggu. Ia putus sekolah di bangku kelas X SMP. Selain menjual telepon genggam, ia juga sering berutang kepada orang lain. ”Kadang-kadang, ketika barang habis, saya sakau hingga setengah hari. Tembok rumah habis saya pukulin, bahkan juga jedotin kepala,” kenang MI. Kalau sudah begitu, dia memanggil temannya dan meminta untuk mencarikan putau. Tak sampai satu jam, narkoba itu sudah sampai di tangan MI tanpa perlu meninggalkan kamar. Akibat tekanan ekonomi, MI terpaksa merantau ke Kalimantan Selatan pada 2011. Di Banjarmasin, dia menjadi buruh serabutan. Terminal, pasar, dan pelabuhan menjadi tongkrongannya. Di sana pula dia bertemu dengan pencandu putau dan melanjutkan kebiasaan. Setelah dua tahun merantau, dia kembali ke Jakarta. MI mendapati peredaran putau turun drastis. Narkoba itu kini seharga Rp 650.000 seperempat gram. Tidak mampu membelinya, MI menanggung sakau. Pada masa menderita itu, dia menyadari kehidupannya tidak sehat dan memiskinkannya. Beruntung di wilayah tempat tinggalnya, lembaga swadaya masyarakat (LSM) Karisma melakukan penjangkauan untuk pencandu narkoba. Melalui LSM itu, MI diarahkan ikut rehabilitasi PTRM ke Puskesmas Tebet. Sekarang MI sudah bisa bekerja dan memiliki kehidupan sosial yang baik. Namun, setiap hari dia harus menjalani program itu agar benar-benar bisa membersihkan dirinya.

Rasa penasaran

Putau juga ”bertandang” ke kamar RM (40). Dimulai 1998, ketika ia lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan, temannya membawa sebungkus putau dan bong (alat pengisap). ”Saya tahu betul itu narkoba, tetapi rasa penasaran membuat saya mencoba. Apalagi, ketika mengisapnya, saya dan teman merasa seperti tokoh penjahat di film,” ujarnya di sela-sela rehabilitasi di Panti Sosial Pamardi Putra (PSPP) Galih Pakuan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (25/7). Harga putau Rp 6.000 untuk seperempat gram membuat RM sama sekali tak terbebani. Jumlah itu dibagi-bagi untuk lima kali konsumsi dalam satu hari. Dampaknya RM betah berdiam diri di kamar. Bahkan, kebiasaan itu berlanjut lima bulan kemudian ketika dia diterima bekerja di sebuah biro perjalanan. Dari penghasilannya, ia membagi untuk keluarga dan jajan pribadi. Uang untuk keluarga tak disentuh, tetapi uang jajan digunakan membeli putau. RM menikah, tetapi istrinya tak tahu kecanduan yang dialaminya hingga tahun ketiga pernikahan mereka. RM kehilangan waktu komunikasi dengan istri. Selepas jam kerja, bukannya pulang, dia malah ke rumah teman atau bandar narkoba untuk mengisap putau. Dia menunggu beberapa jam hingga efek melayang reda sehingga baru tiba di rumah larut malam. Barang di rumahnya juga mulai habis dijual demi membeli putau dalam jumlah lebih banyak. ”Saya menceritakan soal kecanduan kepada istri dan keluarga. Beruntung sekali, walau kaget, mereka mendukung saya menjalani rehabilitasi selama sembilan bulan,” ujar RM. Setelah itu, ia menjalani hidup bersih selama satu tahun. Namun, RM kembali mengisap putau saat bertemu temannya. Ia lalu mendaftarkan diri ke panti rehabilitasi yang berbeda pada 2014. Dia mengikuti program pemulihan selama delapan bulan. ”Kecanduan itu penyakit. Untuk sembuh sulitnya luar biasa. Selesai program rehabilitasi kedua, saya malah mengalami split,” ujarnya. Split adalah istilah ketika pencandu mengalihkan kecanduannya ke zat lain. RM tak lagi memakai putau, tetapi beralih ke minuman keras, ganja, dan sabu. RM sadar harus sembuh, terlebih ia ingin hadir sebagai ayah yang sehat untuk putranya. Sudah enam bulan ia mengikuti rehabilitasi dan memindahkan keluarga ke Jawa Barat agar bisa memulai hidup baru. Di PSPP Galih Pakuan, RM dipercaya sebagai pasien dengan tugas khusus, semacam ketua kelompok bagi teman-teman yang menjalani rehabilitasi, membantu konselor memberikan bimbingan dan dukungan moral kepada pasien lain.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.