Perlunya Solusi Permanen

Kompas - - SOSOK - (BM LUKITA GARAHADYARINI)

Pemerintah akhirnya kembali membuka keran impor garam untuk bahan baku konsumsi sebesar 75.000 ton pada Agustus. Ini adalah impor kedua tahun ini setelah pertengahan April lalu mengalir garam impor untuk bahan baku konsumsi sebesar 75.000 ton. Impor yang dilaksanakan PT Garam itu dianggap sebagai solusi di tengah kelangkaan garam konsumsi. Kegagalan panen garam rakyat tahun 2016 akibat kemarau basah sepanjang tahun telah memicu kelangkaan stok nasional garam konsumsi pada tahun ini, yang berujung pada melonjaknya harga di tingkat konsumen. Kelangkaan produksi garam menjadi berkah bagi petambak garam yang memasuki masa panen pada Juli tahun ini. Harga jual garam di tingkat petambak mencapai Rp 3.500 per kilogram, atau level tertinggi yang pernah ada. Di masa panen, harga garam petambak biasanya anjlok, bahkan pernah mencapai level terendah Rp 200 per kg pada musim panen raya pada 2015. Namun, berkah sesaat yang dirasakan petambak garam seakan musibah bagi kalangan industri penghasil garam konsumsi dan konsumen. Sejumlah pabrikan dan industri kecil menengah mengaku tak mampu menyerap mahalnya garam yang menjadi bahan baku. Anomali stok dan harga membuat banyak industri berhenti beroperasi. Harga garam di konsumen ikut melonjak hingga tiga kali lipat. Impor selalu menjadi jalan pintas pemerintah di tengah kelangkaan komoditas. Bukan tak mungkin, solusi sesaat ini terus berulang jika pokok masalah jauh dari tuntas. Ketergantungan produksi terhadap cuaca, minimnya teknologi produksi, hingga lemahnya tata niaga membuat Indonesia sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia selama puluhan tahun tak mampu menunjukkan kekuatan sebagai produsen garam. Mengalirnya impor garam di awal musim panen garam menjadi dilema bagi petambak dan lampu kuning bagi pemerintah untuk mengawasi impor dan menata pasar agar hasil panen petambak garam tidak terjungkal akibat arus impor. Keberpihakan negara diperlukan pada kebangkitan dan kedaulatan garam nasional. Solusi permanen sangat mendesak diterapkan jika pemerintah serius ingin mengembalikan swasembada garam nasional. Swasembada garam konsumsi yang dicapai pada 2012 jangan sampai gugur karena salah kelola. Namun, mustahil melanggengkan swasembada garam jika skema produksi hanya mengandalkan cuaca. Kita patut becermin dari India dan Australia yang surplus produksi garam, tidak bergantung pada cuaca karena mengoptimalkan kemajuan teknologi, dan harga panen stabil. Penguatan sentra produksi garam rakyat di 44 kabupaten/ kota di Tanah Air mendesak di implementasi kan melalui terobosan teknologi dan optimalisasi lahan produksi. Sejumlah teknologi telah diperkenalkan, seperti penyaringan dengan filter ulin, teknologi geomembran untuk peningkatan volume dan mutu garam, atau teknologi prisma untuk mendorong produksi garam di tengah anomali cuaca dan kondisi hujan. Namun, butuh pendampingan dan akses permodalan bagi petambak untuk menjangkau teknologi tersebut. Di sisi hilir, pembentukan resi gudang oleh pemerintah akan sia-sia jika pemerintah tidak segera menetapkan harga pokok pembelian garam. Lonjakan dan terjun bebasnya harga garam petambak pada masa panen dipicu kelalaian pemerintah mengatur tata niaga garam. Jaminan harga layak diperlukan untuk membangkitkan semangat petambak berproduksi. Penyelesaian masalah klasik garam jangan lagi berhenti pada wacana. Saatnya berbenah dengan solusi jitu.

DIDIE SW

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.