Pengusaha Memerlukan Data yang Akurat

Kompas - - EKONOMI - (MKN)

JAKARTA, KOMPAS — Kalangan usaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri Indonesia berharap pemerintah menyediakan data tunggal yang akurat dan diakui semua pihak. Selain rentan memicu kegaduhan dan kesalahan perencanaan pembangunan, problem akurasi menuntut pengusaha lebih cermat dan hati-hati dalam mengambil keputusan. Hal itu mengemuka dalam diskusi ”Sinkronisasi dan Akurasi Data Statistik Pangan Nasional” yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Jakarta, pekan lalu. Keresahan pengusaha tersebut dilandasi sengkarut data yang dikhawatirkan memengaruhi mutu perencanaan usaha sekaligus pembangunan pangan nasional. Selain pengurus dan anggota Kadin, diskusi juga dihadiri antara lain Direktur Statistik Tanaman Pangan dan Hortikultura Badan Pusat Statistik (BPS) Hermanto, Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Pertanian Suwandi, dan Pelaksana Harian Deputi Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Prijambodo. Ketua Komite Tetap Kadin Bidang Ketahanan Pangan Franciscus Welirang mengatakan, selain inefisiensi keuangan, data yang tak akurat memicu ketidakpastian usaha. Selain data yang akurat, kalangan industri membutuhkan informasi yang lebih detail dan terkini, seperti lokasi panen, volume panen, dan pengangkutannya. Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman mengatakan, pengusaha, khususnya di industri makanan dan minuman, berharap tak ada lagi kesalahan data yang memicu kesalahan kebijakan. Pengusaha juga tidak ingin ada kegaduhan terkait data yang kontraproduktif bagi pengembangan usaha. Hal lain yang dikhawatirkan terjadi karena ketidakakuratan data pangan adalah kesalahan perencanaan kegiatan dan penyimpangan alokasi anggaran. Terkait ini, Kadin berencana menyampaikan rekomendasi tertulis kepada pemerintah, berisi harapan agar data disinkronkan dan ditingkatkan akurasinya. Kendati masih ada pro dan kontra, tetapi pemerintah menilai kualitas data pangan kini lebih baik. Menurut Suwandi, Kementan telah memanfaatkan citra satelit dan teknologi informasi untuk mencocokkan laporan dari petugas di lapangan. Data itu bisa diketahui siapa pun melalui situs sig.pertanian.go.id. ”Wilayah mana yang sedang tanam atau panen padi bisa diketahui dari warna yang muncul. Informasi yang dimuat antara lain luas lahan, letak wilayah, perkiraan umur tanaman, perkiraan hujan, bahkan status tinggi rendah muka air waduk setempat,” kata Suwandi. Hermanto mengatakan, pemerintah—melalui BPS—tengah merampungkan metodologi penghitungan dengan kerangka sampling area (KSA). Akurasi data yang dihitung dengan metode KSA dinilai lebih baik karena memanfaatkan citra satelit, mensyaratkan pengecekan lapangan oleh petugas, dan menerapkan teknologi untuk validasi kondisi tanaman serta akurasi lokasi.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.