Gagal Panen Mengancam

Hujan dan Penjemuran Garam secara Tradisional Menjadi Penyebab

Kompas - - NUSANTARA - (IKI/ETA/SYA/NIK)

CIREBON, KOMPAS — Ancaman gagal panen membayangi petani garam di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dan Surabaya, Jawa Timur. Hujan, mendung, dan teknologi penjemuran garam yang masih tradisional menjadi penyebab. Padahal, panen garam seharusnya bisa dilakukan sejak tiga minggu lalu. Kondisi itu tampak di tambak garam yang masih berisi air laut di Kecamatan Pangenan dan Kecamatan Mundu, Cirebon, Minggu (30/7) sore. Mendung masih menyelimuti wilayah sentra garam tersebut. ”Pengolahan lahan yang dimulai sejak Mei baru menghasilkan dua karung atau sekitar 1 kuintal garam. Sekarang masih mendung dan hujan,” ujar Taim (55), petani garam di Desa Astanamukti, Pangenan. Tambak garam seluas 7.000 meter persegi yang digarap Taim terendam air. Padahal, jika cuaca cerah, mampu menghasilkan 20 karung atau sekitar 1 ton garam dalam tiga hari. Taim khawatir tambak garam yang ia sewa Rp 2 juta per tahun itu kembali tidak membuahkan hasil seperti tahun 2016. Kemarau basah saat itu membuatnya tidak mendapatkan apa-apa. Hujan merusak proses pembuatan garam. Menggantungkan pengolahan garam pada terik matahari ikut memicu buruknya panen petani. ”Saya terpaksa panen karena butuh biaya sehari-hari. Apalagi, cuacanya masih belum bagus,” ujarnya. Talkin (36), petani di Desa Waruduwur, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, juga mengeluhkan kondisi cuaca. Ia baru dapat memanen garam 1 kuintal garam di lahan seluas 1.500 meter persegi. Padahal, jika kondisi normal, ia mampu menghasilkan 4 kuintal garam dalam sepekan. Kepala Seksi Pengembangan Usaha Laut dan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Cirebon Yuliah Harwati mengatakan, produksi garam di Cirebon sangat bergantung pada cuaca. Produksi garam hingga akhir Juli mencapai 795 ton dari total lahan 3.010 hektar. Pada tahun 2015, panen garam mencapai 440.053 ton dari luas lahan yang sama. Setahun kemudian, hujan membuat panen garam di lahan dengan luas sama anjlok menjadi 1.604 ton. Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar dalam kunjungannya ke Kabupaten Cirebon mengatakan, pihaknya akan melihat ke lapangan terkait kelangkaan garam. ”Ini problem nasional. Industri garam nasional perlu dibenahi,” ujar Deddy.

Hujan

Muhammad Nur Aini, petambak garam di Romokalisari, Benowo, Surabaya, mengatakan pula, ancaman gagal panen seperti tahun lalu menghantui kembali tahun ini. Meskipun sudah mengolah tambak garam sejak tujuh minggu lalu, belum ada petambak yang bisa panen garagara hujan. Jika cuaca kembali terik tanpa hujan lagi, garam diperkirakan bisa dipanen pertengahan bulan depan. Dia mengatakan, petani garam di Surabaya masih memakai cara tradisional. Waktu tunggu panen sejak air laut masuk ke tambak butuh 35 hari. Namun, hujan menurunkan kekentalan air laut sehingga proses pengkristalan menghabiskan waktu lebih lama lagi. Mundurnya panen membuat biaya operasional bertambah. Mat Rai (63), petambak di Benowo mengatakan, biaya operasional tambak seluas 10 hektar miliknya Rp 400.000 per minggu. Sudah hampir Rp 3 juta uangnya terkuras. Rai setiap hari juga dihubungi tengkulak dan pembeli yang menanyakan garam dan berani membayar mahal. Garam ditawar Rp 3.000 per kilogram (kg) dari biasanya Rp 500-Rp 700 per kg. Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jatim, Adi Hermanto, mengatakan, hujan dengan intensitas ringan masih akan melanda Surabaya hingga dua minggu ke depan. ”Baru pada minggu ketiga Agustus, diperkirakan hujan berhenti,” katanya. Sejak tiga tahun lalu, hujan juga membuat produktivitas petani garam di Surabaya selalu menurun. Pada 2014, produksi pernah 117.600 ton, tetapi setahun kemudian menjadi 86.227 ton setahun. Tahun lalu, produksi tinggal 1.429 ton. Padahal, kebutuhan garam di kota itu 100.000 ton. Garam diproduksi 124 petani di Kecamatan Benowo, Pakal, dan Asemrowo, dengan luas tambak 623 hektar. Kelangkaan pasokan garam dan tingginya harga di pasar konsumsi mendorong petani di Kabupaten Sidoarjo mempercepat panen. Langkah itu juga ditempuh untuk menyiasati anomali cuaca yang berisiko tinggi pada kegagalan produksi. Mereka berharap rencana impor garam tak merugikan agar kelangsungan usaha petani tetap terjaga. Petani garam, yang juga Ketua Kelompok Jaya Mulya Desa Tambakcemandi, Abdul Aziz mengatakan, penggarapan garam dilakukan sejak awal Juli dan panen mulai berlangsung pertengahan bulan lalu. Kendati masih ada hujan, petani nekat menggarap ladang garamnya karena tergiur harga tinggi dan kekosongan pasokan.

KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI

Petani memanen garam di Desa Astanamukti, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Minggu (30/7). Produksi garam petani di Cirebon masih terhambat cuaca tak menentu.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.