Kantong Air Bersih Dipetakan

Peran Pemerintah dan Pemerintah Daerah Strategis

Kompas - - METROPOLITAN - (JOG)

JAKARTA, KOMPAS — Sebagian besar air dari cekungan air tanah Jakarta sudah tidak layak konsumsi karena pencemaran ataupun intrusi air laut. Balai Konservasi Air Tanah memetakan titik-titik kantong air bersih dari air tanah yang nantinya bisa dikonsumsi warga di sekitarnya. Salah satu sumber air tanah layak konsumsi berada di kompleks kantor Balai Konservasi Air Tanah (BKAT) di Jalan Tongkol, Pademangan, Jakarta Utara. Balai itu bernaung di bawah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. ”Sekarang sumur air tanah tersebut menjadi sumber air bersih bagi kantor,” kata petugas keamanan BKAT yang juga warga sekitar, Maksudi (52), Minggu (30/7). Konsumsi air tanah berlebih yang mengabaikan kesetimbangannya sangat berisiko, antara lain menimbulkan penurunan muka tanah. Namun, menurut Kepala BKAT Mochamad Wachyudi Memed, hal itu bisa dicegah dengan prosedur pengendalian. ”Konservasi itu agar air tanah bisa terus berfungsi. Jika sudah tidak bisa untuk air minum, konservasi tidak jalan,” ujarnya. Tantowi Eko Prayogi, Penyelidik Bumi Pertama BKAT, menambahkan, tim terus meneliti sumber-sumber air tanah, terutama di bagian utara cekungan air tanah (CAT) Jakarta (tidak hanya merujuk pada Jakarta Utara). Untuk saat ini, berdasarkan analisis dan pengamatan terhadap sejumlah lokasi penelitian di wilayah utara CAT Jakarta, hanya 18 persennya yang memenuhi standar baku mutu air minum sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Sementara 82 persen tidak memenuhi standar akibat pencemaran limbah atau kontaminasi air asin. Terkait hal itu, para peneliti BKAT terus memetakan lokasi-lokasi sumber air tanah dengan air berkondisi masih baik agar nantinya bisa dimanfaatkan memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat di tingkat rumah tangga. ”Air bersih di wilayah utara CAT Jakarta sangat berharga bagi masyarakat, terutama yang berpenghasilan rendah. Apalagi, air tanah di sana sudah terpengaruh air asin sehingga harga air bersih mahal di beberapa lokasi,” kata Tantowi.

Progres pemetaan

Saat ini, tim sudah memetakan lokasi air tanah dangkal berkualitas baik di wilayah utara CAT Jakarta di Pademangan, Kecamatan Koja, Kebon Jeruk, Joglo, Medan Satria, Babelan, Neglasari, dan Pinang. Di Pademangan, misalnya, terdapat dua titik yang sudah dipetakan. Wachyudi mengibaratkan pencarian titik air tanah berkualitas baik seperti mencari kumpulan gajah. Jika menemukan satu gajah, berarti di sekitarnya terdapat gajah lagi karena gajah biasa hidup dalam kawanan. Jika mendapati ada satu titik sumber air tanah berkualitas baik, peneliti bakal mampu memetakan titik-titik dengan air yang sama di lokasi berdekatan karena berada dalam satu akuifer. Yang menantang bagi peneliti dalam mencari titik-titik itu, katanya, adalah geometri akuifer yang bermacam-macam: bisa lurus, berkelok, tipis, dan tebal. Di Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu, pembangunan fondasi apartemen dan sebuah universitas memotong akuifer setebal 30-35 meter yang mereka sebut tidak disengaja. Akibatnya, terjadi semburan air tanah tanpa pompa pendorong yang kemudian dimanfaatkan pemilih proyek untuk memenuhi kebutuhan air bersih apartemen hingga 60 persennya. Semburan air itu, kata Wachyudi, sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan warga di sekitar lewat pengaturan oleh pemerintah dan pemerintah daerah. Lepas dari kasus itu, Wachyudi mengusulkan pemerintah dan pemda membuat fasilitas pemanfaatan air tanah sebagai sumber air bersih bagi warga di sekitar titik yang sudah dipastikan berdasarkan hasil riset nanti. Fasilitas tersebut bisa berupa tempat mandi, cuci, kakus umum dan pengolahan air minum. Sumur gali untuk mengambil air tanah di dalam kompleks BKAT, katanya, juga bisa dimanfaatkan untuk semacam itu. Untuk menghindari pemakaian air berlebih, sumur pantau dibangun dengan jarak 5-10 meter dari sumur tempat air tanah diambil guna mengukur seberapa banyak air sudah disedot. Selain itu, karena air tanah dangkal berasal dari air hujan, lingkungan sekitar sumur juga mesti dirancang agar memudahkan air hujan meresap ke tanah, antara lain dengan memperbanyak sumur resapan dan biopori.

Keberpihakan

Di sisi lain, agar ide pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat bisa terealisasi, Wachyudi memandang landasan hukum di daerah perlu dibuat. Setelah itu, prosedur operasional standar disusun, antara lain air tidak boleh untuk kebutuhan industri, hanya untuk rumah tangga. Langkah selanjutnya, pembuatan desain rekayasa rinci untuk sumur-sumurnya. Tanpa aturan hukum jelas dan tegas, dikhawatirkan kepentingan warga atau rumah tangga akan terus dikalahkan kepentingan bisnis. Pemerintah dan pemerintah daerah semestinya mengatur pemakaian air tanah mengingat air dikuasai negara untuk kemakmuran rakyat, bukan sebagian pihak.

KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA

Petugas keamanan Balai Konservasi Air Tanah (BKAT) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Maksudi (52), Minggu (30/7), memeriksa sumur gali yang menjadi sumber air bersih kantor balai tersebut di Jalan Tongkol, Penjaringan, Jakarta Utara. Di tengah kondisi sebagian besar air tanah di Jakarta yang tidak layak konsumsi, BKAT merekomendasikan pemetaan akuifer air tanah yang airnya masih bagus untuk pemakaian bersama secara terkendali bagi warga untuk kebutuhan rumah tangga.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.