Momentum Lestarikan Sejarah Depok

Kompas - - METROPOLITAN - (UTI)

DEPOK, KOMPAS — Tanggal 28 Juni komunitas Kaoem Depok yang merupakan keturunan para budak tuan tanah Belanda, Cornelis Chastelein, di Kota Depok, merayakan HUT ke-303. Peringatan HUT ini diharapkan menjadi momentum bagi Kota Depok melestarikan peninggalan sejarah masa lalunya. Ketua Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) Eduard G Jonathans, Sabtu (29/7), mengungkapkan, bazar HUT Kaoem Depok yang diadakan di Lapangan Kamboja, Depok Lama, Kota Depok, berlangsung hingga Minggu. ”Saat HUT, Juni lalu, kami mengadakan ucap syukur. Perayaan baru dapat kami laksanakan hari ini,” ujarnya. Eduard mengatakan, perayaan ini bertujuan memperingati lahirnya Kaoem Depok yang sebelumnya merupakan budak Castelein lalu dibebaskan. Budak-budak yang terdiri atas 12 marga itu dibebaskan Castelein berdasarkan surat wasiat yang dibuatnya sebelum meninggal pada 28 Juni 1714. Para budak itu juga mewarisi tanah milik Chastelein seluas total 1.244 hektar yang kemudian diambil alih pemerintah. Mereka terdiri atas 12 marga, yaitu Bacas, Isakh, Jacob, Jonathans, Joseph, Laurens, Loen, Leander, Samuel, Soedira, Tholense, dan Zadokh, yang keturunannya hingga kini banyak dikenal dengan sebutan Belanda Depok. Hanya marga Zadokh yang kini tidak ada keturunannya. Hal ini disebabkan keturunan Zadokh rata-rata perempuan sehingga tidak dapat meneruskan marga. ”Sebenarnya kami tidak suka disebut dengan Belanda Depok. Itu hanya sebutan karena banyak yang menganggap kami dekat dengan Belanda. Padahal, kami waktu itu adalah budak, hanya saja kebetulan Chastelein yang merupakan tuan tanah tidak setuju perbudakan sehingga budak-budaknya dibebaskan,” ucapnya. Ulang tahun ini, kata ketua panitia HUT Kaoem Depok, Chico Jinny Tholense, menjadi momentum bagi semua pihak mengingat sejarah Kota Depok pada masa lalu bahwa Kota Depok terbentuk pada 1714 dengan dibebaskannya para budak dan pembentukan daerah otonom pada 1913. Oleh karena itu, semua peninggalan sejarah yang ada harus dilestarikan dimulai dari kepedulian komunitas Kaoem Depok sendiri. Beberapa bangunan cagar budaya yang ada di Kota Depok yang masih ada hingga kini dan dikelola YLCC antara lain RS Harapan, rumah tinggal presiden Depok, kompleks kantor YLCC, Makam Kamboja, dan Jembatan Panus. ”Kami berupaya agar minimal pemerintah dapat menetapkan bangunan-bangunan itu sebagai cagar budaya. Dengan begitu, sejarah Kota Depok bisa terus dikenang. Sekarang bangunan-bangunan itu dikelola YLCC,” ujar Chico. Komunitas Kaoem Depok kebanyakan masih tinggal di kawasan Depok Lama, terutama di Jalan Pemuda dan sekitanya. Keturunan yang ada saat ini adalah keturunan kedelapan dan kesembilan. Selain di Depok, mereka tersebar di Jabodetabek dan sebagian tinggal di Belanda.

KOMPAS/AMANDA PUTRI

Gereja GPIB Imanuel di Jalan Pemuda, Kota Depok, Sabtu (29/7), merupakan salah satu bangunan cagar budaya peninggalan Kaoem Depok, komunitas para budak Cornelis Chastelein. Lahirnya Kaoem Depok ditandai pembebasan para budak setelah wafatnya Chastelein, tuan tanah dari Belanda, pada 28 Juni 1714.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.