Keberagaman yang Banggakan Bangsa

Kompas - - HALAMAN DAPAN - Oleh TATANG MULYANA SINAGA dan BENEDIKTUS KRISNA YOGATAMA

Dari Bandung, kreativitas anak mudanya kembali membuat bangga bangsa. Ide-ide inovatif mengalir mencoba mengguncang dunia. Kebersamaan dan keberagaman menjadi modal utama.

Perayaan setahun acara ”Nonton Film di Gang” di gang kecil sekitar Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Jawa Barat, mendadak hening, Rabu (30/8) malam. Penonton bertanya-tanya seusai menonton film pendek berjudul Pembatas. Film tanpa narasi itu hanya berdurasi satu menit. Dibuat Deden M Sahid (34), tak banyak latar yang ditampilkan dalam film itu. Hanya ada rekaman gambar sekitar Gedung Merdeka, Museum Konferensi Asia Afrika, Jalan Braga, dan kedai kopi berjejaring global asal Amerika Serikat. Saking penasarannya, penonton yang didominasi sineas muda Bandung itu meminta film tersebut diputar sekali lagi. ”Pembatas yang dimaksud dalam film ini adalah Jalan Braga,” kata Deden menjawab rasa penasaran penonton. Jalan bersejarah dan ikonik itu, kata Deden, kini memisahkan dua dunia berbeda. Gedung Merdeka dan Museum Konferensi Asia Afrika di sebelah kiri jalan menjadi identitas

perjuangan melawan penjajahan. Sementara kedai kopi berjaringan global di seberangnya mengisahkan bentuk lain. ”Kedua sisi itu berbeda, tetapi hidup berdampingan di lokasi yang sama,” ujarnya. Penonton menyambut penjelasan itu dengan tepuk tangan meriah. Beberapa di antaranya ikut berdiri sebagai tanda apresiasi. Sekilas, film itu terlihat sangat sederhana. Pembuatannya hanya sehari menggunakan kamera di telepon pintar. Namun, maknanya punya arti besar. Pesan kuat bersama dalam keberagaman berhasil direkam Deden.

Rasa Indonesia

Tiga bulan lalu, Deden sudah membuktikan hal serupa. Dengan kamera di telepon pintar, film berjudul Semua Karena masuk nominasi 33rd Hamburg International Short Film Festival 2017 di Jerman. Film itu masuk nominasi kategori Three Minute Quickie Competition. Film itu berdurasi 1 menit 29 detik. Tanpa dialog, film dengan judul Semua Karena menggunakan uang kertas rupiah berbagai pecahan sebagai tokoh sentral. Dengan lipatan unik, Deden mengubah mimik wajah gambar pahlawan di uang itu terlihat senyum dan sedih. Film Semua Karena tak menang. Namun, sambutan meriah diterima Deden di negeri orang. Deden mengatakan, film itu terinspirasi konstelasi politik Indonesia, terutama saat Pilkada Jakarta 2017. Karut-marut politik nyaris mengancam integrasi bangsa. ”Saya ngeri melihatnya. Indonesia seperti mau hancur. Dulu, pahlawan berjuang mempersatukan bangsa. Namun, saat itu (pilkada), negara hampir terpecah belah,” katanya. Pesannya, jangan mau ditunggangi keinginan politik seseorang atau kelompok tertentu. ”Perbedaan dan keberagaman itu hadir untuk menyatukan, bukan menyuburkan permusuhan,” kata Deden. Rasa Indonesia juga hadir dalam gim ponsel Tahu Bulat garapan Own Games asal Bandung. Memperlihatkan kekhasan dan keberagaman Indonesia, Tahu Bulat meraih penghargaan Guilty Pleasure dalam ajang 1st International Mobile Gaming Awards (IMGA) South East Asia 2016 di Malaysia. ”Kami luar biasa bangga,” ujar Eldwin Viriya (29), pendiri Own Games. Rasa Indonesia di Tahu Bulat sangat kental. Tokoh utamanya pengusaha makanan tahu bulat, yang hanya ada di Indonesia. Dijual di sejumlah daerah, ikon setiap wilayah yang beragam terpatri nyata sebagai latar. Dari Gedung Sate di Bandung, Tugu SIB di Medan, hingga Patung Suro Boyo di Surabaya. ”Saat mengikuti acara Apps Campus Awards di Finlandia tahun 2014, mentornya selalu menekankan pentingnya identitas lokal,” kata Eldwin. Hasilnya di luar dugaan. Tahu Bulat versi pertama diunduh 8 juta kali dengan keuntungan hingga enam digit dollar AS. Pamor Tahu Bulat membayangi popularitas gim tenar Clash of Clan asal Finlandia. ”Tahun ini, kami membuat Tahu Bulat 2. Kisahnya pembangunan kota didanai penjualan tahu bulat. Dirilis Mei 2017, Tahu Bulat 2 sudah diunduh hampir 1 juta kali,” kata Eldwin. Namun, Eldwin mengatakan, sukses itu tak akan membuatnya ingin berhenti berkarya. Tema Indonesia akan kembali menjadi andalan di gim anyar yang tengah digarapnya. Keunikan dan keunggulan lokal ala Indonesia kembali akan dipamerkan kepada dunia. ”Kami masih terus berinovasi menciptakan gim bertema Indonesia. Semoga bisa terus membanggakan bangsa,” ujar Eldwin.

Promosi dunia

Kamis (14/9) sore, di Museum Konferensi Asia Afrika, salah satu obyek di film Pembatas, keinginan Deden dihidupkan lagi. Kali ini lewat Livi Zheng (28). Dilahirkan di Blitar, Jawa Timur, ia adalah sutradara muda kelas Hollywood. Karyanya, Brush with Danger, masuk daftar film layak pilih di ajang Oscar 2015. Ia kini tengah merampungkan empat film tentang Indonesia. Di hadapan 110 diplomat Indonesia dalam acara pembekalan bagi pejabat diplomatik dan konsuler Indonesia, Livi mengatakan, keberagaman Indonesia menjadi identitas menarik di mata orang asing. Rekan-rekannya asal Korea Selatan, Inggris, dan Amerika Serikat kagum dengan kemajemukan Tanah Air. ”Tantangannya hanya perlu membuat mereka datang sekali ke Indonesia. Mereka akan ketagihan datang lagi karena suasana kekeluargaan dan sambutan hangat,” ujarnya dalam acara yang digelar Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri. Salah satu sarana promosi yang bisa dimanfaatkan, kata Livi, melalui film. Bisa direkam dengan alat apa saja, film diyakini mampu memamerkan kebinekaan dan memanggungkan identitas Indonesia di mata dunia. ”Indonesia punya segalanya, negara yang indah, budaya beragam, dan kehangatan warganya. Mari tampilkan itu kepada dunia melalui film karya kita sendiri,” kata Livi. Anak-anak muda Indonesia tidak pernah kehilangan talenta. Kali ini, lewat keberagaman, mereka meretas menjadi legenda. Lihat Video Terkait ”Pembekalan Pejabat Diplomatik” di kompas.id

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.