Para Pemetik Kata

Orang-orang ini gemar menonton film Indonesia. Sembari nonton, mereka juga mengingat petikan-petikan kalimat yang terasa membekas. Petikan kata-kata itu lalu mereka abadikan, di dalam jiwa ataupun di dunia maya ....

Kompas - - HALAMAN DAPAN - OLEH SRI REJEKI

Orang-orang ini gemar menonton film Indonesia. Sembari ”nonton”, mereka juga mengingat petikan-petikan kalimat yang terasa membekas. Petikan kata-kata itu lalu mereka abadikan ....

Pasti tidak asing, kan, dengan petikan kalimat ini, ”Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu, jahat!” atau ”Ani, tadinya kukira kau seorang gadis yang lain di kampung ini! Tadinya kukira kau sebuah pribadi!”, atau juga ”Yang baju merah jangan sampai lepas”. Kalimat-kalimat itu menemukan momentumnya di zamannya masing-masing. Tidak mudah dilupakan meski zaman berganti. Angel Pakpahan (33) paling suka menonton film Indonesia. Ia boleh dibilang tidak menyukai nonton film asing. Sampai-sampai teman-temannya kadang meledek dirinya sebagai ”norak” karena tidak suka film Barat, tetapi Angel bergeming. Sambil menonton, ia juga hobi mencatat kalimat-kalimat yang diucapkan para pemeran yang dirasanya menyentuh hati. ”Manusia ga diprogram buat bisa melupakan masa lalunya, tapi diberi kebebasan untuk melukis pelangi masa depannya dengan bekal pengalamannya” adalah petikan kalimat yang paling disukai Angel. Petikan itu diucapkan Rayya (Titi Rajo Bintang) dalam film Rayya, Cahaya di Atas Cahaya (2012). Angel mencatat kalimat-kalimat yang disukainya di telepon seluler. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak ia kuliah. Dulu, kata-kata yang telah ia catat ia salin ke buku tulis. Namun, setelah adanya media Twitter, ia pindahkan catatannya ke media sosial itu sejak tahun 2011 di akun @Petikan_Film. Belakangan, sejak mewabahnya Instagram, ia juga mengabadikan petikan-petikan kata-kata yang menarik ke media tersebut. ”Ternyata sambutannya bagus banget. Banyak orang punya hobi sama. Mereka lalu follow akun Petikan Film. Sampai sekarang follower kami ada puluhan ribu orang,” ungkap Angel yang sehari-hari juga berprofesi sebagai penyiar radio ini. Berhimpunnya para pencinta film Indonesia, khususnya mereka yang senang menyimpan catatan petikan kalimat dalam film ini, membentuk komunitas tersendiri meski sifatnya lebih banyak di dunia maya. Tidak jarang, mereka mengirimkan petikan kata dalam film yang mereka catat melalui pesan pribadi di Twitter maupun Instagram. Di dunia nyata, komunitas Petikan Film Indonesia beberapa kali menggelar acara nonton bersama film-film Indonesia. Mereka juga kerap mendapat tawaran kerja sama untuk ikut mempromosikan sebuah film yang akan diputar di bioskop, antara lain melalui promosi di Twitter dan Instagram atau sebagai publicist. Angel juga pernah ditawari menjadi anggota komite juri Piala Maya, penghargaan untuk film-film Indonesia yang digagas para pencinta film. Bella Fitrianah (22) juga hobi menonton film Indonesia. Ia juga suka mencatat kalimat-kalimat yang menarik dari film yang ditontonnya. Kebetulan ia juga mahasiswa Jurusan Penulisan Skenario Fakultas Film Institut Kesenian Jakarta. Ia salah satu pengikut akun Petikan Film Indonesia (PFI) sebelum akhirnya sejak setahun terakhir aktif dalam kegiatan PFI di dunia nyata. Bella kini menjadi admin akun-akun Petikan Film. ”Sebelum aku gabung Petikan Film, aku juga suka menyimpan petikan-petikan kalimat film lalu disimpan di HP, lalu aku tweet di akun Twitter pribadiku,” kata Bella. Kini Bella bertugas men-tweet petikan-petikan kalimat dalam film di akun Petikan Film. Jika diunggah ke Instagram, ia menambahkannya dengan visual dari petikan kalimat tersebut karena Instagram memamerkan foto. Belakangan, instastory juga dimanfaatkan untuk menambah variasi unggahan.

Cinta film Indonesia

”Gara-gara gabung lebih aktif di Petikan Film, aku jadi lebih terdorong untuk menonton film-film Indonesia. Paling tidak sebulan 2-3 kali ke bioskop. Aku juga jadi lebih cepat tahu film-film baru. Ini juga mendukung kuliahku di bidang film karena aku jadi lebih banyak kenal orang-orang yang sudah lebih dulu berkecimpung di dunia film,” kata Bella. Gara-gara bergabung dengan Petikan Film, Bella jadi punya kesempatan untuk menghadiri premiere sebuah film. Ia juga bisa meluaskan jaringannya di dunia film karena bisa bertemu langsung dengan sutradara, produser, hingga kru film di acara pemutaran perdana atau pemutaran untuk kalangan terbatas sebuah film yang turut ia hadiri. ”Buat apa Tuhan nyiptain hati, kalau cuma buat dipatahin” adalah petikan kalimat dalam film Magic Hour yang menjadi kesukaan Bella. Tisa TS menjadi penulis skenario favoritnya. ”Secara teori, film itu mengandalkan gambar. Jadi, kalau ada kalimat dalam film, kalimat itu harus yang mengena di hati penonton,” kata Bella. Dila Puspita (23), anggota lain komunitas, bisa lebih sering lagi menonton film di bioskop. Mahasiswa Jurusan Broadcasting Universitas Sahid, Jakarta, ini bisa lima kali menonton di bioskop dalam sebulan. Jika ada kalimat yang ia sukai dan terlewat ia rekam, ia bisa menonton ulang agar bisa merekamnya dari awal. Dila punya kebiasaan merekam kalimat-kalimat dalam film yang ia sukai. Sambil menonton, ia akan menyiapkan aplikasi perekam di telepon selulernya. ”Biasanya kalimat-kalimat bagus bisa diulangi di bagian akhir atau kalau memang terlewat, saya biasanya nonton ulang filmnya. Jadi bisa merekam dari awal. Di rumah, saya salin kalimat-kalimatnya ke buku,” kata Dila yang sebulan terakhir terlibat aktif di Petikan Film. Tidak jarang, jika ponselnya mati dan ia tidak sempat mempersiapkan diri untuk mengisi ulang baterai sebelum menonton film, Dila akan mencatat kalimat yang ia sukai di sobekan kertas atau bahkan di telapak tangannya. Sesampainya di rumah, baru ia salin ke buku. ”Kata-kata dalam Surat dari Praha tuh aku suka banget. Buat aku, menonton film Indonesia itu lebih mengena karena dekat dengan kehidupan sehari-hari kita,” ungkap Dila. Menurut Angel, pihaknya berharap keberadaan Petikan Film dapat semakin mendorong kemajuan film Indonesia melalui kegiatan mereka mempromosikan film-film Indonesia. Selain berkiprah di dunia maya, mereka juga menggelar acara lain, seperti nonton bareng dengan anak-anak panti asuhan di bioskop khusus anak-anak. Seperti yang dilakukan akhir pekan ini. ”Saya ingin anak-anak ini juga bisa tahu bagaimana rasanya menonton di bioskop. Kebetulan Petikan Film sedang berulang tahun yang keenam. Jadi, ini sekalian ungkapan berbagi dan rasa syukur kami,” ujar Angel.

FOTO-FOTO: KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

ARSIP KOMUNITAS PETIKAN FILM

Komunitas Petikan Film mencatat petikan kata di film yang mereka sukai dan menyebarkannya di media sosial (kiri). Koleksi clapper board film (kanan atas). Koleksi karcis bioskop (tengah). Anggota komunitas berkumpul setelah menonton film bersama (kanan bawah).

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.