Korut Ingin Imbangkan Kekuatan Militer

DK PBB Mengecam Pyongyang

Kompas - - HALAMAN DAPAN -

SEOUL, SABTU — Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menegaskan, Korut menginginkan kesetimbangan kekuatan militer dengan Amerika Serikat. Oleh karena itu, Pyongyang bertekad untuk menyelesaikan program pengembangan rudal dan senjata nuklir.

”Tujuan akhir kami adalah mencapai kesetimbangan kekuatan dengan AS dan membuat pemimpin AS tidak berani berbicara tentang opsi militer terhadap DPRK,” kata Jong Un, Sabtu (16/9), menyebut nama resmi Korut, yakni Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK), seperti dikutip kantor berita KCNA. Sehari sebelumnya, Pyongyang mengonfirmasi berhasil meluncurkan rudal balistik jarak menengah Hwasong-12, jenis yang sama dengan yang diluncurkan pada 29 Agustus. Hwasong-12 meluncur sejauh 3.700 kilometer di atas Pulau Hokkaido, Jepang, dan mendarat di Samudra Pasifik, jarak terjauh dari semua uji coba rudal Korut. Peluncuran rudal ini mengundang kecaman keras dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang menggelar rapat darurat di New York, AS, Jumat. DK PBB menuduh Korut mengancam perdamaian dan keamanan kawasan. DK PBB juga menyebut uji rudal dan nuklir Korut telah menyebabkan kekhawatiran besar soal keamanan di seluruh dunia dan membahayakan 193 anggota PBB. Di bawah kepemimpinan Jong Un, Korut mempercepat program uji coba rudal dan senjata nuklir. Termasuk dengan menggelar uji ledak nuklir keenam, dan yang terbesar pada 3 September, serta dua kali uji rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-14 pada Juli. Frekuensi uji coba yang semakin sering dan agresif membuat banyak pihak khawatir, Korut semakin dekat dengan ambisi mereka memiliki senjata nuklir yang dapat menjangkau daratan AS dan sekutunya di Asia. Uji coba ini juga dilihat sebagai upaya militer Korut untuk meraih kebebasan dan posisi tawar lebih besar di kawasan. KCNA memberitakan, Jong Un memperlihatkan kepuasan setelah peluncuran rudal terakhir. Dalam foto yang dipublikasi KCNA terlihat rudal itu diluncurkan dari truk peluncur. Jong Un terlihat tersenyum, bertepuk tangan, dan mengacungkan kepalan tangan ke udara. Ini untuk pertama kalinya Korut merilis peluncuran rudal dari truk peluncur. Pengamat menilai, hal ini memperlihatkan kepercayaan diri akan mobilitas dan keandalan sistem peluncur bergerak tersebut. Pada uji sebelumnya, rudal diluncurkan dari landasan peluncur. Jong Un menegaskan, Korut hampir menyelesaikan produksi senjata nuklir meski berada di bawah tekanan sanksi internasional. Dia juga mengindikasikan lebih banyak uji coba rudal akan dilakukan.

Rapat tertutup

Seusai rapat darurat yang berlangsung tertutup, DK PBB menekankan, semua negara harus menerapkan sanksi PBB secara penuh sesegera mungkin. Duta Besar Jepang untuk PBB Koro Bessho menyebut peluncuran rudal itu sebagai tindakan memalukan yang tidak hanya mengancam keamanan Jepang, tetapi juga seluruh dunia. Bessho dan mitranya dari Inggris, Perancis, dan Spanyol mendesak agar seluruh sanksi terhadap Korut segera diterapkan. Dubes Inggris untuk PBB

Matthew Rycroft menyebut aksi Korut sebagai ”aksi provokasi yang ceroboh, ilegal, buruk, dan mengerikan”. Rycroft memaksa mitra dagang terbesar Korut— tanpa menyebut langsung China—untuk menerapkan sanksi PBB sepenuhnya. Rudal Hwasong-12 dan Hwasong-14 sebelumnya diluncurkan dengan sudut nyaris tegak lurus untuk mengurangi jarak tempuh. Namun, dua uji coba terakhir memperlihatkan Pyongyang mencoba sudut peluncuran operasional untuk menguji apakah hulu ledak rudal dapat mengatasi gesekan dan panas saat rudal kembali masuk ke atmosfer. Korut diyakini harus melakukan uji coba lebih banyak untuk menguji akurasi dan keandalan Hwasong-12. Namun, Kim Dongyub, analis pada Institut untuk Studi Asia Timur yang berbasis di Seoul, mengatakan, pernyataan Jong Un mengindikasikan, negara itu siap memproduksi rudal untuk operasional. Kim juga yakin, Hwasong-14 akan diuji dengan sudut peluncuran operasional. Pengamat menyatakan dapat memahami kecemasan akan rudal Korut dapat menghantam pesawat sipil meski kemungkinan itu sangat rendah. ”Jika pesawat penumpang terkena (rudal), tekanan terhadap AS dan sekutunya untuk melakukan aksi militer akan sangat tinggi,” kata Vipin Narang, pakar keamanan Asia Selatan di Institut Teknologi Massachusetts (MIT), seperti dikutip BBC.

Olimpiade Musim Dingin

Di Lima, Peru, Ketua Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach tetap optimistis krisis Semenanjung Korea tak akan memengaruhi pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang, Korsel. Hal ini disampaikan Bach seusai memimpin rapat IOC ke-131 untuk menentukan tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2024 dan 2028. Bach mengatakan, IOC memantau sidang DK PBB dan terus mendorong solusi diplomatik untuk menyelesaikan masalah itu. Olimpiade Musim Dingin dijadwalkan berlangsung di Pyeongchang pada 8-25 Februari 2018. Anggota IOC asal Korut, Ung Chang, berharap Olimpiade tetap berjalan sesuai rencana. Ketika ditanyakan apakah Korsel akan aman saat berlangsungnya Olimpiade, dia menjawab, ”Tidak ada yang tahu.” Bach mengatakan, IOC tak akan melibatkan diri dalam diplomasi soal Korea. ”Kami akan mengamati dengan saksama. Kami tak terlibat dalam hal ini,” ujarnya.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Wali Kota Batu Eddy Rumpoko meninggalkan ruangan Subdit III Tindak Pidana Korupsi Polda Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (16/9), untuk bertolak ke Jakarta. Wali Kota Batu ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) KPK atas dugaan kasus suap proyek mebeler di Kota Batu. Berita di halaman 15

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.