Sekeping Surga dari Cigugur

Sekeping surga, sebutan ini mungkin saja berlebihan. Tetapi, itu yang diungkap seorang pengusaha ekspor-impor dari Jakarta asal Garut, Jawa Barat, Laksmi Sartika Marsadinata (61). Ia menunjuk Paseban Tri Panca Tunggal sebagai tempat rangkaian ritual adat

Kompas - - HALAMAN DAPAN - OLEH ABDULLAH FIKRI ASHRI & NAWA TUNGGAL

S” ejumlah tempat wisata rohani di Timur Tengah dan Eropa sudah saya kunjungi. Di sana saya hanya melihat dengan mata fisik. Tetapi, di sini saya bisa melihat keindahannya dengan mata batin. Ada sekeping surga di sini,” kata Laksmi, Senin (11/9), di Cigugur. Laksmi mengikuti sebagian besar agenda Seren Taun sepanjang enam hari itu. Ia menemukan rasa harmoni antara manusia dengan sesama dan alam kehidupannya. Karena itu, ia menyebutkan, di Paseban Tri Panca Tunggal menemu sekeping surga. Pada malam puncak perayaan Seren Taun, Rabu (13/9), digelar ritual Kidung Spiritual. Para pemuka semua agama dan beberapa perwakilan aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang hadir turut memanjatkan doa.

Wisatawan

Beberapa orang dari mancanegara tampak hadir. Di antaranya dua peneliti pada Center for Religious and Cross-Cultural Studies (Program Studi Agama dan Lintas Budaya) Universitas

Gadjah Mada, Yogyakarta, Greg Vanderbilt dan Kelli Swazey. ”Ini menarik sekali. Pemeluk agama dan masyarakat adat sejajar di sini. Ini terbalik dengan kondisi sekarang, di mana agama dipakai untuk mendiskriminasi orang lain,” ujar Kelli. Bagi Greg, ungkapan Bhinneka Tunggal Ika yang kerap ia dengar benar-benar terwujud di dalam perayaan Seren Taun tersebut. ”Di sini luar biasa. Dalam satu keluarga, agama berbeda, tetapi tetap rukun,” ujar Greg. Sebelum malam puncak perayaan Seren Taun, kelompok band punk Marjinal asal Jakarta ikut mengisi acara kesenian. Mike, vokalis kelompok Marjinal, menyatakan kagum terhadap semangat gotong royong warga dalam perayaan Seren Taun. Pengunjung lainnya, ada Anisa Rizky (28) dari Jakarta. Pertama kalinya ia menghadiri perayaan Seren Taun Sunda Wiwitan di Cigugur. Melalui ritual itu ia berusaha menyelami kehidupan para penghayat Sunda Wiwitan. ”Sampai saat ini saya masih memiliki pertanyaan, Sunda Wiwitan bisa disebut sebagai agama atau tidak?” ujar Anisa, yang bergabung ke dalam tim hukum Paseban Tri Panca Tunggal untuk mempertahankan salah satu aset tanahnya yang beralih kepemilikan dari milik komunal adat ke hak milik perorangan. Motivasi dan berbagai latar belakang pengunjung Seren Taun cukup beragam. Di antaranya seperti yang dialami Laksmi itu secara kebetulan. Ia untuk pertama kalinya mengunjungi Cigugur pada empat bulan yang lalu. Tetapi, dia hanya bermaksud datang untuk menjemput pembantu rumah tangganya yang berasal dari Cigugur. ”Sebelum mengajak pulang pembantu, saya sempatkan pergi ke beberapa tempat wisata di Kuningan, seperti Pemandian Air Panas Sangkanurip dan kolam ikan dewa di Cibulan,” kata Laksmi. Laksmi juga menyempatkan singgah di Goa Maria Sawer Rahmat di Desa Cisantana, Cigugur. Di tempat wisata rohani Katolik itu, Laksmi tidak datang untuk beribadah karena dirinya memiliki keyakinan agama yang lain. ”Ketika itu, saya teringat ada keponakan saya di Garut yang pernah bercerita tentang Sunda Wiwitan yang berasal dari Cigugur. Saya bertanya kepada penduduk setempat, di mana kampung Sunda Wiwitan,” ujarnya. Tentu tak ada yang mengenal adanya kampung Sunda Wiwitan. Tetapi, penduduk itu menunjukkan gedung Paseban Tri Panca Tunggal sebagai tempat yang sering digunakan untuk ritual para penghayat Sunda Wiwitan. Hari itu kedatangan Laksmi di Paseban Tri Panca Tunggal disambut Dewi Kanti Setianingsih (42), salah satu putri Pangeran Djatikusumah (85), sesepuh Sunda Wiwitan di Cigugur. Laksmi meminta Dewi Kanti menerangkan perihal Paseban Tri Panca Tunggal itu. ”Saya hanya menjelaskan makna-makna apa saja yang ada di Bale Agung, seperti makna tiang-tiang saka dengan relief-relief para Danawa (raksasa),” ujar Dewi. Empat tiang saka menjadi tiang utama bangunan. Di bagian bawahnya dipahatkan relief para Danawa sebagai simbol energi negatif. Menurut Dewi, di dalam ajaran Sunda Wiwitan, manusia tak bisa menghindar dari energienergi negatif. Dengan kemampuan akal dan budinya itu, manusia harus mampu hidup berdampingan dan mampu mengendalikan setiap energi negatif. ”Seren Taun bukan hanya milik Sunda Wiwitan, melainkan juga milik masyarakat,” ujar Dewi. Bupati Kuningan Acep Purnama saat hadir di puncak perayaan Seren Taun, Kamis (14/9), mengatakan, Seren Taun sudah menjadi salah satu agenda pariwisata di wilayah Kabupaten Kuningan. Pada perayaan itu, wisatawan dalam negeri dan mancanegara memadati hotel-hotel yang ada di Kuningan. ”Demi pengembangan seni budaya, pasti kami dukung,” ujar Acep. Acep menuturkan, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik Kabupaten Kuningan, saat ini tiap tahunnya terdapat lebih dari 3 juta wisatawan mengunjungi Kuningan. Jumlah ini melonjak dibandingkan pada 2011 sekitar 1 juta wisatawan. Begitulah sekeping surga di Cigugur tak hanya bermakna ritual bagi pemeluknya, tetapi juga mengundang kaum urban untuk berkunjung dan kemudian menyadari tentang keberagaman Indonesia.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Warga membawa beras dan hasil bumi saat puncak perayaan Seren Taun 1950 Saka Sunda di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat, Kamis (14/9).

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.