Menanti Kualitas Terbaik Polwan

Meskipun Kepolisian Negara RI telah berkiprah lebih dari tujuh dekade, kesan maskulinitas masih sangat kental. Hal itu tak lepas dari masih rendahnya partisipasi satuan polisi wanita untuk tugas strategis Polri.

Kompas - - POLITIK & HUKUM - (MUHAMMAD IKHSAN MAHAR)

Bagi publik, polwan identik dengan tugas di korps lalu lintas. Setiap hari, sejumlah polwan silih berganti tampil di layar kaca untuk mengabarkan kondisi lalu lintas terkini. Mereka terlihat cantik dan terawat. Kulit putih dan polesan riasan mempermanis seragam korps bayangkara. Tak hanya itu, mayoritas polwan juga ditempatkan di tugas-tugas ”kewanitaan”, seperti unit pelayanan anak dan perempuan yang ada di jajaran kepolisian wilayah. Kenyataan itu pun diakui Kepala Polri Jenderal (Pol) Tito Karnavian. Ia mengungkapkan, polwan terkesan sebagai second class citizen di Polri. Meskipun mereka dididik menjadi polisi profesional, banyak polwan justru ditugaskan menjadi pengantar air minum para pejabat. Selain itu, publik juga hanya memandang polwan melalui paras fisiknya. Hal itu tidak lepas dari kehadiran para polwan yang mengunggah foto mereka di media sosial, mulai dari Facebook hingga Instagram, yang kemudian menjadi viral. ”Kami prihatin dengan kondisi itu sehingga kami berupaya untuk membangkitkan peran polwan. Terutama untuk memberikan hak yang setara dalam jabatan dan karier dengan anggota kepolisian laki-laki,” ujar Tito. Sebagai langkah awal, Tito memprakarsai ekspedisi Puncak Cartensz pada 17 Agustus lalu. Ia ingin menunjukkan bahwa polwan juga memiliki kemampuan fisik yang sama dengan para laki-laki. Ekspedisi itu merupakan upaya awal untuk ekspedisi seven summits yang selanjutnya akan mengincar Puncak Kilimanjaro, Tanzania, Afrika.

Minim

Berdasarkan data Asisten Sumber Daya Manusia Polri 2017, anggota polwan berjumlah 23.533 orang atau hanya 5,6 persen dari total jumlah anggota Polri sebesar 419.823 orang. Dari jumlah itu, hanya empat polwan yang berstatus perwira tinggi dengan pangkat brigadir jenderal. Sementara itu, mayoritas polwan berpangkat brigadir dua (bripda) yang berjumlah 9.812. Data itu membuktikan bahwa polwan belum memiliki posisi sentral dalam peran dan tugas kepolisian. Para polwan berpangkat jenderal juga umumnya mengabdi di Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri. Prestasi cemerlang para polwan bisa dihitung dengan jari, misalnya Brigjen (Purn) Rumiah Kartoredjo yang masih menjadi satu-satunya polwan yang menjabat sebagai kepala Polda. Kemudian, yang kini menjadi panutan bagi polwan-polwan muda adalah Inspektur Jenderal (Purn) Basaria Pandjaitan, Wakil Ketua KPK. Basaria juga menjadi polwan dengan pangkat tertinggi dalam sepanjang sejarah Polri. Lalu, apa masalah yang dihadapi polwan? Tito mengungkapkan, permasalahan utama polwan untuk setara dengan anggota kepolisian laki-laki ialah adanya gap regenerasi. Hal itu disebabkan hilangnya perekrutan taruni polwan ketika Polri masih satu kesatuan dengan Angkatan Bersenjata RI dalam kurun waktu 1967-1998. Perekrutan taruni baru dibuka kembali pada 2002. Alhasil, kehadiran polwan saat ini masih didominasi yang masuk melalui proses seleksi calon perwira. Oleh karena itu, Polri mulai mempersiapkan sejumlah polwan untuk mengisi posisi penting. Salah satu yang sudah lulus tahap penilaian ialah Brigjen (Pol) Sri Handayani. Saat ini, Sri tengah mengemban tugas sebagai Kepala Sekolah Pembentukan Perwira Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri. Tak hanya itu, Polri juga tengah menyiapkan zona integritas di wilayah tertentu yang dianggap rawan tindak korupsi, seperti di kepolisian resor (polres) bandara. Menurut rencana, salah satu polres bandara akan ditempati oleh polwan, mulai dari kepala polres hingga para kepala bidang. ”Kami akan cari yang bagus dan tepat sebagai kapolda. Langsung penempatan wilayah tipe A karena yang tipe B sudah pernah dilakukan. Artinya, nanti ditempatkan di daerah yang agak keras,” kata Tito dalam peringatan HUT ke-69 polwan, Agustus lalu. Secara terpisah, komisioner Komisi Kepolisian Nasional, Poengky Indarti mengatakan, untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas polwan, Polri harus mempersiapkan para polwan dari level pendidikan. Selain itu, komitmen pimpinan Polri juga diperlukan untuk sungguh-sungguh meningkatkan peran polwan, terutama dengan memberikan kepercayaan di posisi strategis. ”Yang perlu ditunjukkan polwan adalah kualitas terbaik dalam setiap menjalankan tugas. Sebab, polwan tidak hanya cocok menjadi sespri (sekretaris pribadi), tetapi juga mampu secara profesional menangani tugas pelayanan, pengayoman, perlindungan, dan penegakan hukum,” tuturnya.

Keunggulan

Selain karena penampilan yang bisa menjadi oasis bagi citra kepolisian, serta tidak rentan terhadap perilaku koruptif, sesungguhnya polwan memiliki keunggulan lainnya. Berdasarkan sebuah tesis berjudul ”Prospective Female Officer Perceptions of Policing” (Todak, Natalie Erin: 2012), menjelaskan bahwa polwan mengutamakan keinginan menolong orang lain dalam menjalankan tugas kepolisian sehingga mayoritas polwan mengesampingkan peran penindakan hukum. Hal itu disebabkan polwan ingin meminimalisasi kemungkinan terjadinya masalah dalam bertugas yang dapat mengisolasi mereka dari lingkungan profesinya. Menurut Sandra Wells dan Betty Sowers dalam buku mereka Police Women: Life with The Badge (2005), kehadiran perempuan di kepolisian dan lembaga penegak hukum lain karena mereka ingin memperlihatkan kekuatan dan mampu independen di profesi yang didominasi laki-laki. Selain itu, polwan juga ingin melawan berbagai citra negatif terkait peran perempuan yang dianggap sebelah mata. Sudah saatnya Polri memberi polwan ruang, menunjukkan jati diri dan kemampuannya.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

KOMPAS/WISNU AJI DEWABRATA

Dalam rangka HUT ke-69 polwan, anggota polwan Polrestabes Surabaya membagikan bingkisan kepada warga di Jalan Darmo, Surabaya, Kamis (24/8). Lebih dari tujuh dekade usia Polri, kesan maskulinitas pada aparat penegak hukum ini masih tampak. Sudah saatnya polwan diberi kesempatan sama.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.