Pebinis Global Menikmati Pasar Asia

Abad ke-21 adalah Abad Asia. Ini bukan kalimat baru lagi sebenarnya. Namun, menyenangkan mengetahui cerita lapangan dari para pebisnis. Mereka bergembira dengan bisnis di Asia yang sangat menguntungkan. Julius Baer, misalnya, bank publik terbesar ketiga d

Kompas - - INTERNASIONAL - OLEH SIMON SARAGIH

Oleh sebab itu, Julius Baer akan meningkatkan jumlah stafnya untuk menjaring para warga kaya Asia. Perburuan terhadap warga kaya Asia bertujuan menawarkan pengelolaan kekayaan mereka. ”Penambahan staf yang kami lakukan tahun lalu terbukti memberi hasil besar,” kata Chief Executive Officer (CEO) Boris Collardi kepada televisi Bloomberg di Singapura, Kamis (14/0). Asia menyumbang 20-25 persen terhadap total bisnis Julius Baer di seluruh dunia. ”Pasar Asia menggembirakan,” kata Collardi. Bank asal Swiss ini adalah salah satu di antara bank-bank global yang melayani secara khusus kepentingan kaum kaya Asia. Tahun lalu Collardi sudah mengatakan Asia akan menggantikan posisi Eropa sebagai pemberi pendapatan tertinggi dalam lima tahun ke depan. Sebuah lembaga bernama Asian Private Banker menempatkan Julius Baer di urutan kelima terbesar bank swasta (untuk urusan private banking), khusus di Asia. Urutan pertama adalah UBS, diikuti Citi, Credit Suisse, dan HSBC. DBS (Singapura) di urutan keenam diikuti OCBC (Singapura), lalu BNP Paribas, Morgan Stanley, dan Goldman Sachs. Bank-bank asing memang merupakan pihak yang menikmati keuntungan bisnis pengelolaan kekayaan warga terkaya Asia. Akan tetapi, itu baru soal bisnis pengelolaan kekayaan warga Kaya. Asia juga menjadi sasaran penyaluran kredit masif bagi lembaga keuangan global dan lokal. Menurut situs CNBC, Kamis, pasar kredit Asia tumbuh masif untuk penyaluran kredit. Hal ini ditegaskan oleh Ilfryn Carstairs, seorang pejabat bagian investasi dari Varde Partners, yang berbasis di Singapura. Semua pihak ingin meraih keuntungan dari bisnis penyaluran kredit ini. Hal ini berbeda dengan situasi di Barat, di mana suku bunga rendah tidak lagi mampu merangsang investasi untuk pertumbuhan ekonomi. Begitu besar kesempatan bisnis di Asia termasuk di bursa saham. Keiko Tashiro, Direktur Senior Pelaksana Daiwa Securities, menegaskan, Daiwa akan melakukan ekspansi di Asia Tenggara. Tashiro juga berperan mengawasi operasi bisnis Daiwa di luar Jepang. Tashiro menyebutkan Asia Tenggara adalah pasar penting yang akan terus berkembang. Pandangan ini makin dikuatkan dengan program ”One Belt, One Road”, program pembangunan infrastruktur berdasarkan inisiatif China yang akan mengembangkan perekonomian Asia. ”Risiko geopolitik Korea Utara tidak menghambat potensi Asia. Asia Tenggara, misalnya, akan sangat penting. Daiwa telah meningkatkan kehadiran bisnis di Asia Tenggara,” kata Tashiro. Kekayaan yang dimiliki warga Asia juga merupakan sebuah kesempatan besar dalam sektor produk luks atau mewah di Asia. ”Asia memiliki banyak kontribusi soal pemasaran produk kategori ini,” kata Ravi Thakran, Direktur Pelaksana dan Ketua L Catterton, kepada televisi CNBC. Demikian pula soal perolehan keuntungan dari perdagangan saham, Asia berada di depan dibandingkan dengan kawasan mana pun. Indeks saham global mencapai rekor terbaru, tetapi Asia berada di urutan terdepan soal kenaikan indeks. Performa bursa-bursa di Asia melampaui belahan dunia lain dan ini baru saja dimulai, demikian keterangan Societe Generale (SocGen), sebuah bank asal Perancis. Pandangan ini didasarkan pada tiga faktor, yakni dinamika perolehan laba perdagangan saham, valuasi harga saham perusahaan yang lebih masuk akal, dan ketersediaan likuiditas. Hal ini dinyatakan Frank Benzimra, Kepala Strategi Saham Asia (SocGen) dalam laporannya pada 14 September. Asia Pasifik juga menjadi lokasi lebih separuh dari 3,3 juta anjungan tunai mandiri (ATM) di dunia sepanjang 2016, menurut Rowan Berridge, dari sebuah lembaga bernama RBR. ”Pada akhir 2022 jumlah ATM di China saja akan melebihi jumlah ATM di Eropa dan Amerika Utara,” katanya.

Efek ”taper tantrum”

Hal yang menarik lagi adalah para investor asing ternyata selalu saja balik ke Asia walau beberapa kali sering lari jika ada kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS, yang disebut sebagai efek taper tantrum. Sudah empat kali Bank Sentral AS menaikkan suku bunga, akhirnya Asia tidak gentar lagi akan pelarian modal. ”Ini (pelarian modal sebagai efek kenaikan suku bunga) tidak lagi terjadi, satu bukti telah terjadi de-coupling antara tindakan Bank Sentral AS dan situasi yang dihadapi bank-bank sentral di Asia,” kata Sian Fenner, ekonom dari Oxford Economics di Singapura. Investor asing telah mengalirkan lebih dari 20 miliar dollar AS ke pasar modal India sepanjang 2016 dan 6,5 miliar dollar AS pada 2017 hingga Maret. Ini adalah jenis investasi portofolio. Di samping itu, India kemasukan 60 miliar dollar AS investasi asing langsung (FDI) hingga Maret 2017, yang menjadikan India sebagai penerima FDI terbesar di dunia. Cerita serupa terjadi untuk negara-negara lain di Asia. Kombinasi pertumbuhan ekonomi dan laba tinggi dari bisnis di Asia membuai investor asing bergeming atas tindakan Bank Sentral AS soal kenaikan suku bunga. ”Masalahnya Asia menawarkan tingkat laba yang tinggi,” kata Radhika Rao, ekonom dari DBS Bank di Singapura. Kenaikan arus modal masuk oleh investor asing yang haus laba sekaligus telah meningkatkan cadangan devisa negara-negara Asia. ”Ini adalah strategi kuat alamiah dalam menghadapi pengurangan likuiditas oleh Bank Sentral AS,” kata Frederic Neumann, Kepala Riset EKonomi Asia di HSBC Holdings Plc, Hongkong.

REUTERS/BOBBY YIP

Warga menggunakan layanan anjungan tunai mandiri (ATM) di Bandara Hongkong, Selasa (5/9). Pada akhir 2022, jumlah ATM di China diprediksi akan melebihi jumlah ATM di Eropa dan Amerika Utara (atas). Seorang pekerja bertugas di pusat distribusi barang terbesar Amazon di Hyderabad, India, Kamis (7/9). India merupakan negara tujuan investasi asing langsung (FDI) terbesar di dunia.

AFP PHOTO/NOAH SEELAM

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.