Krisis Teluk, Suksesi Arab Saudi, hingga Oposisi Qatar

Blokade kuartet Arab—Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir— terhadap Qatar sejak 5 Juni lalu, mulai memasuki babak baru. Empat negara itu, terutama Arab Saudi, mulai menggerakkan kubu oposisi Qatar untuk menggoyang kekuasaan Sheikh Tamim bin Ham

Kompas - - INTERNASIONAL - OLEH MUSTHAFA ABD RAHMAN

Menggunakan kubu oposisi Qatar tersebut barangkali menjadi kartu truf terakhir Arab Saudi untuk menekan Doha, setelah blokade selama tiga bulan terakhir ini tidak berpengaruh sama sekali atas sikap Doha. Bahkan, Doha semakin lantang melakukan perlawanan terhadap aksi blokade kuartet Arab itu. Hal ini terlihat dari munculnya figur Sheikh Abdullah bin Ali al-Thani menjelang berlangsungnya ibadah haji, awal Agustus lalu. Sheikh Abdullah secara tiba-tiba muncul sebagai mediator yang membuat Arab Saudi mengizinkan calon jemaah haji Qatar dapat menunaikan ibadah haji di Mekkah, tahun ini. Sheikh Abdullah dikenal berasal dari poros Bin Ali al-Thani dalam lingkaran keluarga besar Al-Thani yang berkuasa di Qatar saat ini. Namun, Bin Ali al-Thani adalah poros yang tergeser dari garis kekuasaan oleh poros Bin Hamad al-Thani. Emir Qatar saat ini, Sheikh Tamim (37), berasal dari poros Bin Hamad al-Thani. Karena itu, Sheikh Tamim bin Hamad dan lingkaran kekuasaannya di Doha segera memahami, kemunculan Sheikh Abdullah di Arab Saudi dan perannya membantu jemaah haji Qatar lalu, merupakan manuver politik Arab Saudi untuk menggoyang kekuasaan Pemerintah Qatar. Tudingan Doha terhadap manuver Arab Saudi tersebut bisa dilihat dalam forum sidang tingkat Menteri Luar Negeri Liga Arab di Kairo, 12 September. Dalam forum itu, Menteri Negara Urusan Luar Negeri Qatar yang juga ketua delegasi Qatar dalam sidang tersebut, Soltan bin Saad al-Muraikhi, menuduh Arab Saudi berupaya menumbangkan kekuasaan Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani di Doha. Al-Muraikhi menyebut, Arab Saudi berusaha mengganti Sheikh Tamim dengan Sheikh Abdullah sebagai penguasa di Doha. Bahkan, Al-Muraikhi menuduh Arab Saudi, Bahrain, dan UEA berusaha menggoyang pemerintahan di Doha sejak 1996.

Tiga kemungkinan

Belum surut isu munculnya nama Sheikh Abdullah bin Ali al-Thani itu, dua hari kemudian kubu oposisi Qatar untuk pertama kali menggelar konferensi di London, Inggris. Juru bicara kubu oposisi Qatar, Khaled al-Hail, seusai konferensi itu menyampaikan, ada tiga kemungkinan tentang masa depan krisis Teluk ini. Pertama, krisis Teluk akan terus berlanjut hingga tahun 2018. Kedua, ada pergantian rezim di Doha. Ketiga, ada campur tangan asing untuk mengakhiri krisis Teluk. Di Qatar kini juga muncul fenomena kabilah Al-Murrah yang mendukung Arab Saudi dalam konfliknya dengan Qatar. Kabilah Al-Murrah adalah salah satu kabilah di Qatar. Pemimpin kabilah Al-Murrah, Talib bin Lahoom bin Shuraim, kepada stasiun televisi Alarabiya mengatakan, mendukung sikap Arab Saudi dalam konflik dengan Qatar. Dia menegaskan, tidak ada keamanan di Teluk tanpa Arab Saudi. Sejumlah pengamat menyebut, digelarnya konferensi kubu oposisi Qatar di London dan munculnya kabilah Al-Murrah di Qatar tidak terlepas dari peran Arab Saudi dan UEA. Hal ini karena apa yang disebut kubu oposisi di Qatar itu tak dikenal. Otoritas Qatar pun bertindak keras dengan mencabut kewarganegaraan Talib bin Lahoom, pemimpin kabilah Al-Murrah, beserta 50 anggota keluarganya.

Suksesi

Manuver Arab Saudi memanfaatkan kubu oposisi Qatar dalam menghadapi kekuasaan Sheikh Tamin di Doha tidak terlepas dari suksesi di tingkat putra mahkota Arab Saudi, akhir Juni lalu. Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al-Saud pada 21 Juni mencopot Pangeran Mohammed bin Nayef bin Abdulaziz al-Saud (57) dari posisi putra mahkota dan menunjuk putranya, deputi putra mahkota Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz al-Saud (32), sebagai putra mahkota dan juga deputi perdana menteri. Pangeran Mohammed bin Salman, yang secara de facto memimpin Arab Saudi, terlihat lebih agresif dalam memimpin negaranya, termasuk dalam menghadapi Qatar. Putra mahkota ini juga diduga berada di balik manuver Arab Saudi memainkan kubu oposisi Qatar dalam menghadapi rezim Doha. Pangeran Mohammed bin Salman pula yang disinyalir mengins truksikan penangkapan puluhan ulama dan cendekiawan Arab Saudi yang dianggap berseberangan dengan pemerintah dan tidak mendukung dalam konflik dengan Qatar. Sejumlah ulama dan cendekiawan kritis yang ditangkap di antaranya Sheikh Salman al-Ouda, Sheikh Aid al-Qarni, Ali al-Omari, Farhan al-Maliki, dan Mustafa Hassan. Publik Arab pun memahami bahwa pemimpin Arab Saudi saat ini adalah Pangeran Mohammed bin Salman. Apalagi, situs media Maroko, Tangier24, memberitakan, Raja Salman akan menetap semipermanen di Tangier, Maroko. Tangier dikenal sebagai tempat peristirahatan favorit raja-raja Arab Saudi. Raja Salman sepanjang Juli hingga Agustus berada di Tangier dan kembali ke Arab untuk menunaikan ibadah Haji. Menurut situs Tangier24, Raja Salman akan segera kembali ke Tangier untuk menetap dalam waktu agak lama dan menyerahkan urusan kenegaraan kepada putra mahkota. Maka, krisis Teluk saat ini semakin dibayangi pertarungan dua pemimpin muda usia, yaitu Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani. Masalah gengsi, ambisi, reputasi, dan semangat dua pemimpin muda tersebut bisa menjadi kendala untuk menyelesaikan krisis Teluk secara cepat.

AFP PHOTO/FAYEZ NURELDINE

Putra mahkota

Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (kiri) dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani (kanan) dalam dua kesempatan berbeda, beberapa waktu lalu. Dua pemimpin muda dunia Arab ini berseteru setelah Arab Saudi dan tiga negara lain memutus hubungan diplomatik dengan Qatar, 5 Juni.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.