Kurdi

Kompas - - INTERNASIONAL - TRIAS KUNCAHYONO E-mail: trias.kuncahyono@kompas.com

Keputusan parlemen Irak menolak usulan referendum kemerdekaan Kurdi tiba-tiba menegaskan sebutan bagi mereka selama ini: salah satu bangsa terbesar tak bernegara di dunia. Meskipun, teramat sulit untuk memastikan berapa jumlah mereka (diperkirakan antara 29 juta-35 juta jiwa). Sebab, mereka hidup tersebar di banyak kota dan negara, dan sebagian besar tinggal di wilayah-wilayah pegunungan dan dataran tinggi pertemuan antara wilayah Turki, Irak, dan Iran. Karena itu, sering dikatakan ”Orang-orang Kurdi tidak mempunyai teman, kecuali gunung-gunung” (Jacob L Shapiro: 2016). Adalah kesepakatan Sykes-Picot (ditandatangani 16 Mei 1916 oleh diplomat Inggris Sir Mark Sykes dan diplomat Perancis François Georges-Picot secara rahasia) yang menjadi sumber tercerai berainya orang-orang Kurdi. Kesepakatan itu membagi wilayah Kekhalifahan Ottoman di bawah kekuasaan Perancis (bagian utara) dan Inggris (bagian selatan), tanpa kesepakatan atau berembuk dengan mereka yang tinggal di wilayah itu, termasuk orang-orang Kurdi. Wilayah-wilayah itu kini menjadi negara Irak, Jordania, Lebanon, dan Suriah. Sejak itulah, orang-orang Kurdi terpisah-pisah (Stefano M Torelli, ed: 2016). Ahmad Khani (1651-1707), penyair kondang Kurdi yang juga dikenal sebagai penulis hebat, astronom, dan filosof, mengungkapkan nasib orang-orang sebangsanya itu dalam puisi yang diberi judul Mem ú Zín (Mem dan Zín). Lihat, dari Arab hingga Georgia, Orang-orang Kurdi menjadi seperti menara, Turki dan Persia dikepung mereka. Orang-orang Kurdi berada di keempat penjuru. Kedua belah pihak telah membuat orang-orang Kurdi sasaran panah nasib. Mereka disebut sebagai kunci perbatasan Setiap suku membentuk benteng yang tangguh. Kapan pun Lautan Ottoman (ottomans) dan Laut Tajik (Persia) Mengalir keluar dan mengagitasi, Orang-orang Kurdi bersimbah darah Dengan memisahkan mereka (Turki dan Persia) seperti tanah genting. Puisi yang ditulis tahun 1682 itu sebenarnya bercerita tentang kisah cinta klasik Kurdi. Namun, Ahmad Khani yang lahir dari suku Xani di Provinsi Hekari, Kurdistan, lewat puisi itu juga mengungkapkan pandangan politiknya. Menurut Ahmad Khani, salah satu identitas yang jelas dari orang-orang Kurdi adalah hebat tetapi tertindas (David McDowall: 2007). Mereka—orang-orang tertindas itu—hidup tersebar, seperti ditulis Ahmad Khani, di Republik Armenia dan Azerbaijan, di Suriah, Turki (antara lain di Istanbul dan Ankara), Khurasan (Iran bagian timur), Tabriz (Iran barat laut), serta Teheran (ibu kota Iran). Benarkah mereka salah satu bangsa tak bernegara terbesar di dunia? Tetapi, kapan, impian orang-orang Kurdi—memiliki negara sendiri—akan menjadi kenyataan, tidak ada yang tahu pasti. Yang pasti, negara-negara tempat mereka berada sekarang ini tidak memberi peluang bagi terwujudnya impian mereka itu. Sekalipun sangat sulit mewujudkan impiannya, kisah ”bangsa tak bernegara” itu sangat menarik. Dari mereka telah lahir tokoh besar antara lain Saladin (1138-1193); Amir Badr Khan atau Badr Khan Pasha (meninggal 1868), penguasa Cizre-Botan yang pernah memberontak melawan Kekhalifahan Ottoman, meskipun sudah mendapat gelar ”pasha” dari penguasa Ottoman; dan sekarang tentu Massoud Barzani, Presiden Pemerintah Regional Kurdistan di Irak, yang terus memperjuangkan referendum. Dua misionaris Katolik asal Italia pada akhir abad ke-18, Maurizio Garzoni (1734-1804) dan Giuseppe Campanile (1762-1835), disebut sebagai yang mengawali studi tentang Kurdi. Kedua misionaris itu mempelajari peradaban dan bahasa Kurdi. Dan, pada awal tahun 1990-an, orang Italia yang lain, Luigi Luca Gavalli-Sforza, untuk pertama kali menyodorkan hasil studinya mengenai asal, migrasi, dan penjajaran genetik Kurdi lewat bukunya The History and Geography of Human Genes, 1994 (Ferdinand Hennerbichler: 2012). Berbagai studi menjelaskan bahwa orang-orang Kurdi adalah termasuk orang-orang kuno yang telah mengembangkan identitas mereka sejak lebih dari 2.000 tahun lampau. J Bulloch dan H Morris (1992) dalam No Friends but the Mountains: The Tragic History or the Kurds berpendapat bahwa komposisi etnik orang Kurdi adalah hasil percampuran Indo-Eropa dan suku pra-Iran. Selama ribuan tahun mereka hidup di wilayah yang disebut Kurdistan serta di perbatasan Turki, Iran, Irak, Suriah, dan republik bekas Uni Soviet. Tak satu pun negara itu menyambut baik masa depan kemerdekaan Kurdi, dan tak ada negara yang lebih keras daripada Turki dalam usaha menghapus identitas Kurdi (Simon Haddad: 2001). Sekalipun berbagai studi ilmiah dilakukan, mitos tentang asal muasal orang Kurdi tetap hidup dan dipercaya. Ada mitos yang mengisahkan bahwa orang Kurdi adalah keturunan anak-anak yang sembunyi di gunung-gunung untuk menyelamatkan diri dari kejaran Zahhak, raksasa pemakan anak-anak. Mitos ini yang ”menjelaskan” mengapa mereka tinggal di gunung-gunung. Mitos lain menceritakan, orang-orang Kurdi adalah anak-anak gadis budak Raja Salomo (Sulaeman), yang diasuh setan bernama Jasad. Mereka tinggal di gunung karena dimarahi raja. Mitos lainnya menyatakan bahwa istri Abraham (Ibrahim), yakni Sarah, adalah orang Kurdi yang lahir di Harran. Apa pun kisah yang dituturkan mitos itu, yang pasti sejarah dan mitos memainkan peranan penting dalam nation building. Dan, sejarah serta mitos itulah yang antara lain melahirkan nasionalisme orang-orang Kurdi. Ekspresi nasionalisme pertama kali muncul pada abad ke-19, di saat Kekhalifahan Ottoman melakukan proses sentralisasi. Akan tetapi, tetap saja, semangat nasionalisme itu tak mampu menjadi senjata untuk mewujudkan impian mereka. Kesempatan untuk merealisasikan impian—memiliki negara sendiri—muncul setelah PD I berakhir. Namun, Perjanjian Sèvres (1920) yang menghapus Kekhalifahan Ottoman memberikan otonomi pada Kurdi, tak bertuah bagi orang-orang Kurdi. Dan, akhirnya orang-orang Kurdi terus berkelana mencari negerinya.

HANDINING

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.