Berbagi Inspirasi ke Pelosok Negeri

Mereka menjelajah pelosok negeri yang bertolak belakang dengan suasana kota tempat tinggal mereka. Berlatar belakang aneka profesi, tujuan mereka selain berlibur adalah memberi inspirasi bagi anak-anak di pelosok negeri untuk berani menggapai mimpi seting

Kompas - - PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN - OLEH ESTER LINCE NAPITUPULU

Teriakan lantang dari sekitar 130 siswa yang berdiri di halaman SDN Mata Wa Matee memecahkan kesunyian Desa Lolowano, Kecamatan Tana Righu, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (9/9). Para siswa menyanyikan lagu-lagu daerah dan menyampaikan salam dengan lantang saat menyambut kedatangan kakak guru dari beberapa daerah di Indonesia dalam kegiatan KFC Berbagi Inspirasi Pendidikan yang bekerja sama dengan Komunitas 1000 Guru. Kakak guru yang berasal dari Jakarta, Bandung, Bali, hingga Kalimantan berprofesi sebagai dokter, bidan, pramugari, seniman, vlogger/blogger, dosen, karyawan KFC Indonesia, hingga mahasiswa, tak kalah antusias menyambut semangat anak-anak. Perjalanan jauh dengan mobil dari ibu kota Tambolaka, Sumba Barat Daya, menuju sekolah selama sekitar dua jam, terbayar dengan keceriaan anak-anak. Sumba Barat Daya berada di Pulau Sumba di selatan Pulau Flores. Tinggal di desa yang kering, belum ada fasilitas listrik maupun sinyal telepon, tak membuat anak-anak generasi penerus bangsa di salah satu pelosok negeri ini patah semangat bersekolah. Sehari-hari mereka belajar di enam ruang kelas sempit berlantai tanah. Dinding anyaman bambu yang tak sepenuhnya sampai ke atap seng dan daun pun berlubang di sana-sini. Mereka berbagi duduk di bangku bambu dan diajar para guru yang sebagian besar guru honorer. Suasana akrab segera tercipta saat 25 kakak guru memperkenalkan diri. Saat seorang kakak guru yang berasal dari Jakarta bertanya di mana Jakarta, dengan serempak dan suara lantang para siswa menjawab, ”Di sana .... ” seraya tangan mereka menunjuk ke arah jalan keluar desa. Pun ketika ditanyakan di mana Kota Bandung, Bogor, atau Kalimantan Timur misalnya, jawaban mereka sama, ”Di sana .... ” Jawaban lugu anak-anak ini begitu melekat dalam ingatan kakak guru yang datang ke pelosok dengan semangat travelling and teaching tersebut. Seusai perkenalan, pengajar dari Komunitas 1000 Guru mengajak siswa masuk ke kelas masing-masing. Lalu, digelarlah beragam kegiatan mulai dari pengenalan profesi, menyanyi, hingga permainan. Para siswa terlihat senang karena mendapatkan aneka topi bertuliskan nama, tas sekolah, hadiah jika berani maju atau menjawab pertanyaan. Kakak guru banyak membawa alat peraga, seperti peta Indonesia berukuran besar, gambar planet-planet, lembar kerja siswa yang sederhana dan bergambar, juga buku bacaan dan alat tulis yang menarik. Para siswa juga diajak bermain dan bergembira di luar kelas. Setelah sekitar tiga jam, acara ditutup dengan membagikan makanan bergizi, yakni bubur kacang hijau dan telur rebus, kepada semua siswa.

Tersentuh

Ketika para kakak guru dan siswa asyik bercengkerama di halaman sekolah sambil berfoto ria dengan telepon genggam atau kamera, Eka Alfiana Ramasari (25), bidan PNS di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, salah satu kakak guru, duduk di satu ruang kelas. Matanya berkaca-kaca sambil melihat foto-foto bersama anak-anak di kameranya. ”Saya benar-benar terharu dan tersentuh melihat anak-anak yang bersemangat. Mungkin di Kalimantan juga banyak sekolah yang seperti ini, yang anak-anaknya juga tidak beralas kaki ke sekolah. Tapi ini pengalaman saya yang pertama melihat langsung potret kehidupan dan pendidikan di pedalaman,” katanya dengan suara bergetar. Eka bersyukur untuk liburan bermakna bersama Komunitas 1000 Guru ini. Awalnya, dia berencana liburan ke Thailand, tetapi dibatalkan oleh agen perjalanan. Liburan pun dialihkan ke Yogyakarta, tetapi lagi-lagi batal. Tak sengaja dia melihat Instagram history temannya yang menunjukkan soal Komunitas 1000 Guru. ”Saya tertarik dengan ajakan untuk libur di pulau yang indah sambil berbagi inspirasi dengan jadi pengajar di sekolah pedalaman,” tutur Eka. Byanmara, mahasiswa semester kelima Institut Teknologi Bandung, sudah beberapa kali ikut Komunitas 1000 Guru berjalan-jalan ke daerah pedalaman seraya menyisihkan waktu untuk menjadi pengajar di SD terpencil. Bahkan dia menjadi sukarelawan untuk regional Bandung. ”Meskipun saya hanya bisa melakukan hal sederhana, saya berharap yang kami lakukan memberi inspirasi untuk anak-anak,” katanya. Komunitas 1000 Guru digagas Jemi Ngadiono pada 2012, yang ingin menyajikan cara travelling yang bermakna. Menurut Jemi, Komunitas 1000 Guru mengakomodasi anak-anak muda, mulai dari mahasiswa hingga profesional muda, yang hobi jalan-jalan alias travelling, tak sekadar mengeksplor keindahan alam daerah-daerah pedalaman di Indonesia yang menawarkan pengalaman dan pemandangan eksotis. Kesempatan jalan-jalan itu juga bisa jadi kesempatan menjadi sukarelawan pendidikan. Dalam perjalanan mengeksplorasi daerah-daerah pedalaman, Jemi menemukan banyak anak yang tidak punya tas, tidak bersepatu, dan mengenakan seragam lusuh saat sekolah. Ada pula anak-anak yang bolos sekolah. Pasalnya, mereka tidak sempat sarapan pagi, lalu pulang saat istirahat, dan tak kembali lagi ke sekolah.

Semua bisa jadi guru

Jemi lalu berinisiatif menjadikan semua orang sebagai guru bagi anak-anak pedalaman. Yang diajarkan bukan pelajaran sekolah, melainkan sekadar berbagi cerita soal pekerjaan atau profesi yang mungkin belum pernah didengar atau dibayangkan siswa di pedalaman. Juga soal Indonesia yang luas, permainan yang asyik dan menyenangkan sambil memasukkan materi soal lingkungan hidup, dan banyak aktivitas ringan lainnya. ”Kalau sambil jalan-jalan, orang diajak berdonasi dan berbagi untuk pendidikan, serasa tidak terpaksa. Banyak yang akhirnya ketagihan dan ikut memberi inspirasi dengan mengajar siswa SD di pedalaman,” kata Jemi. Restoran cepat saji di Indonesia, KFC Indonesia, mendukung Komunitas 1000 Guru untuk membuat proyek Smart Center. Ada 35 SD di NTT dan daerah lain yang menjadi sasaran program ini untuk mendukung pendidikan dan pemberian makan bergizi bagi anak-anak daerah pedalaman.

FOTO-FOTO: KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU

Komunitas 1000 Guru mengajak siswa SDN Mata Wa Matee di Kabupaten Sumba Barat belajar di alam (atas). Mereka juga mengajar siswa daerah pedalaman di ruang kelas (bawah).

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.