Menjadi Bebas di Alun-alun Merdeka

Sebanyak 44 penerbang paramotor sukses lepas landas dari Lapangan Garuda, Grudo, Ngawi, dan mendarat di Alun-alun Merdeka, Ketanggi, Ngawi, Jawa Timur, Minggu (3/9). Penerbangan hampir satu jam dan berjarak hampir empat kilometer itu dianugerahi pengharga

Kompas - - KOTA - OLEH AMBROSIUS HARTO M

Sebelum pendaratan paramotor, alun-alun terbesar di Jawa Timur seluas 6,8 hektar itu telah menjadi jantung kegiatan masyarakat ”Bumi Bambu”, julukan Kabupaten Ngawi. Nama Ngawi sendiri berasal dari kata awi yang artinya bambu. Alun-alun Merdeka yang dibangun dan ditata kembali sejak 2014 bukan lagi tanah lapang luas, melainkan menjadi beberapa taman khusus. Alun-alun dibelah Jalan Merdeka, yang sekaligus membagi menjadi sisi timur dan barat. Batas barat adalah Jalan Imam Bonjol, yang menjadi lokasi Masjid Agung Baiturrahman. Batas utara Jalan Teuku Umar (Kantor Bupati Ngawi). Batas timur ialah Jalan Jaksa Agung Suprapto (Kantor DPRD Ngawi). Batas selatan adalah Jalan MH Thamrin, yang menjadi lokasi Gapura Ngawi Ramah dan kedai UPT Alun-alun. Di sisi barat dan sisi timur alun-alun terdapat jalan miring yang dipenuhi deretan kedai makanan dan minuman. Barisan warung itu antara lain menawarkan menu nasi campur, nasi pecel, tahu campur, bakso atau bakwan, mi rebus dan mi goreng, nasi goreng, es kelapa, es dawet, kopi, dan teh. Kawasan jajan itu buka dari pagi sampai malam dan amat ramai pengunjung saat akhir pekan dan masa liburan. Selain itu, di sisi timur ada Taman Lalu Lintas. Di lokasi ini terdapat sejumlah patung polisi, rambu, marka, jalur, lampu, dan petunjuk bagaimana seseorang sebaiknya berlalu lintas. Di dekatnya ada Taman Merpati yang merupakan kawasan sederhana untuk bermain anak-anak dan warga bersantai. Ada pula ayunan, jungkat jungkit, halang rintang, seluncuran, istana mini, dan bangsal kecil. Di dekat kedua taman tersebut ada Jalan Miring Alun- alun Sisi Timur. Ada pula lapangan untuk basket, futsal, tenis, dan sepak bola, jalur jalan, lari, dan terapi batu. Selain itu, ada Taman Terapi yang dilengkapi peralatan buatan untuk melatih kebugaran. Sementara di sisi barat ada Taman Merak yang dilengkapi sejumlah balai mini. Di sampingnya terdapat panggung pergelaran beratap terpal membran dan tempat duduk berundak dan melingkar dari beton. Ada juga Taman Skateboard untuk bermain sekaligus melatih ketangkasan pada papan luncur, sepeda BMX, dan sepatu roda. Lapangan dengan panggung untuk hiburan pentas musik dan acara besar, seperti pidato, ceramah, dan doa bersama, juga ada. ”Alun-alun ini menjadi salah satu daya tarik yang membanggakan,” kata Zainal Arifin, warga Ngawi. Setiap pagi, lelaki berusia 40 tahun itu menyempatkan diri berolahraga sekaligus menikmati suasana alun-alun sebelum berangkat kerja. Keberadaan sarana olahraga dan hiburan di alun-alun menjadi karunia bagi pelajar yang gedung sekolahnya berada di dekat kompleks lapangan tersebut. ”Pelajaran olahraga di alun-alun untuk bermain basket, tenis, futsal, sepak bola, atau lari jadi menyenangkan,” kata Adinda Fitriani, pelajar SMP, saat ditemui di alun-alun.

Penataan

Bupati Ngawi Budi Sulistyono mengatakan, alun-alun diyakini sudah ada sejak lama. Ada yang berspekulasi bahwa tempat itu sudah ada sejak era Kerajaan Majapahit. Pemerintah Kabupaten Ngawi menganggap hari jadi daerah pada 7 Juli 1358, saat penetapan Ngawi sebagai desa panambangan dan swatantra. Jika pada era Majapahit alun-alun Ngawi belum ada, mungkin tanah lapang ini sudah ada saat Kesultanan Mataram, yang menetapkan Ngawi pada November 1828 sebagai kawasan mancanegara berstatus Narawita (pelungguh). Menjadi lazim dalam tata ruang wilayah di Jawa, setiap daerah, apa pun statusnya, selalu memiliki alun- alun atau tanah lapang yang dikelilingi sejumlah bangunan berfungsi penting. Bersamaan dengan penetapan Ngawi oleh Mataram itu, pemerintah kolonial Hindia-Belanda mencanangkan pembangunan Benteng Van den Bosch di daratan yang pertemuan Sungai Bengawan Solo dan Sungai Bengawan Madiun, sekitar satu kilometer dari alun-alun. Peta bertahun 1873 yang dibuat Hindia-Belanda menunjukkan, Ngawi telah memiliki struktur daerah ideal dengan alun-alun sebagai pusat kegiatan yang dikelilingi kantor pemerintahan, masjid, dan kantor perwakilan dagang. Menurut Budi, pemerintah ingin memaksimalkan fungsi alun-alun sebagai ruang terbuka publik. Jika dibiarkan hanya berupa tanah lapang, manfaatnya dirasakan sedikit. Jika ditata menjadi taman-taman khusus, diyakini lebih berguna. Karena itu, pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi bahu-membahu dana untuk penataan total alun-alun sejak 2014, dengan menggelontorkan dana hampir Rp 15 miliar. ”Tujuan penataan alun-alun agar dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat yang di sisi lain tidak menghilangkan ciri daerah,” kata Budi. Mengubah wajah alun-alun bisa dikatakan strategi cukup baik yang ditempuh pemerintah. Tanah lapang itu menjadi lebih hidup karena menarik masyarakat untuk berkegiatan budaya, ekonomi, sosial, olahraga, dan seremonial. Jika hanya sekadar lapangan luas, mungkin hanya bermanfaat untuk upacara atau pasar pada waktu tertentu. Saat ini, warga Ngawi telah dapat memanfaatkan jantung daerah itu untuk berbagai kegiatan. Namun, mereka juga menghadapi tantangan untuk menjaga dan melestarikan alun-alun tersebut. Kendala besar yang masih terlihat adalah sampah berserakan, yang menjadi pertanda pengguna tanah lapang itu masih jorok dan mungkin kurangnya pegawai kebersihan. Sejumlah fasilitas, di antaranya lintasan batu untuk terapi, lapangan olahraga yang berumput tinggi, dan peralatan latihan kebugaran, sudah atau mulai rusak sehingga perlu perawatan atau perbaikan. Jangan sampai alun-alun tidak menarik lagi dan ditinggalkan masyarakat.

FOTO-FOTO: KOMPAS/AMBROSIUS HARTO

di Alun-Alun Merdeka, Ngawi, Jawa Timur, Sabtu (26/8). Alun-alun seluas 6,8 hektar itu dibagi jadi beberapa taman sehingga menjadi pusat kegiatan masyarakat untuk berolahraga, hiburan, dan wisata. Beberapa warga berlari di lintasan, bersepeda, dan berjalan di jalur terapi batu alun-alun itu.

Suasana

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.