Menggantung Asa di Tanah Harapan

Kompas - - KOTA - OLEH JOHNNY TG

Keluarga Karjo Utomo turut serta dalam rombongan jang sedianja akan diberangkatkan dengan kapal-lajar ,,Lapamase” menuju Tulang Bawang, Lampung Utara. Sedjak setahun lalu mereka dimasukkan dalam golongan tunakarya. Mereka gagal berdagang, sehingga tidak mampu membajar sewa rumah. Pak Karjo sekeluarga lalu ditampung diasrama Tunakarya, sambil tidak sabar menunggu saat menudju ,,Tanah Harapan”. Sumatera dikenal sebagai ,,Tanah Harapan” bagi para tunakarya. (Kompas, Jumat, 14 Maret 1969, halaman 1). Memindahkan penduduk dari Pulau Jawa ke pulau lain, terutama ke Sumatera Selatan, Lampung, telah terjadi sejak zaman Hindia Belanda. Saat itu dikenal dengan istilah kolonisasi dengan daerah sasaran antara lain Pringsewu, Gisting, dan Tataan. Tujuannya, untuk menambah tenaga kerja bagi onderneming dan memindahkan petani di daerah sekitar perkebunan, diharapkan akan menambah pasokan bahan makanan bagi pekerja kebun. Bagi warga Dusun Kepucukan dan Simbar di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, tidak pernah terpikir akan pergi dari dusunnya pascabencana gas beracun dari kawah Sinila, Dieng, pada 20 Februari 1979. Pemerintah dengan program transmigrasinya memindahkan 2.000 pengungsi dari kedua dusun tersebut menuju Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Diawali pemberangkatan 99 kepala keluarga (462 jiwa) melalui Semarang pada 19 Maret 1979. Banyak kisah haru mewarnai proses ini. Ada calon transmigran yang lari dari tempat pengungsiannya karena mengira daerah transmigrasi adalah daerah penderitaan. Dengan sabar, petugas dari Kanwil Ditjen Transmigrasi Jateng mencari mereka yang lolos dari pengungsian. Lurah Simbar, Abdul Aziz, yang ikut bertransmigrasi menceritakan barang-barangnya dijual menjelang keberangkatan para transmigran. Satu set kursi ukir yang biasanya paling murah Rp 50.000 hanya ditawar Rp 8.000. Daripada tidak laku, maka berapa pun harganya mereka terima, termasuk harga ternak. Murzeni (50) asal dusun Kepucukan terpaksa harus meninggalkan rumah yang baru satu bulan ditempati dan dibangun dengan biaya Rp 400.000. Untuk ukuran desa, rumah Murzeni tergolong mewah. Pemerintah pusat sudah menyiapkan rumah dan tanah seluas 5 hektar, termasuk 1 hektar tanaman karet di Baturaja bagi transmigran asal Dusun Kepucukan dan Simbar. Perjalanan panjang melelahkan menuju lokasi tidak selalu dirasakan para transmigran. Yayasan sosial Soegijapranata Semarang bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Tingkat I Jateng memberangkatkan 33 kepala keluarga (184 jiwa) transmigran swakarsa asal Kabupaten Banyumas, Jateng, dengan pesawat terbang menuju Tajau Pecah, Kalimantan Selatan. Sebelum berangkat, selama empat hari di Purwokerto mereka diberi pelatihan berbagai keterampilan yang diharapkan dapat berguna di tempat tinggal yang baru. Di Tajau Pecah, pemerintah sudah menyiapkan rumah, 2 hektar tanah, dan jaminan hidup selama 12 bulan untuk mereka yang tinggal di daerah pasang surut.

KOMPAS/PRAMONO BS

KOMPAS/MARTHIAS D PANDOE

Keluarga transmigran asal Wonogiri, Jawa Tengah, tiba di Sitiung, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung, Sumatera Barat, Rabu (1/12/1976). Rombongan transmigran dari Desa Kepucukan dan Simbar, Banjarnegara, Jawa Tengah, menuju Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, Senin (19/3/1979).

KOMPAS/MAX MARGONO

Para transmigran mandiri naik pesawat di Bandara Juanda, Surabaya, Jawa Timur, menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Minggu (15/5/1977).

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.