Zona Rehabilitasi TNGL Rusak

Warga Didampingi untuk Mengelola Kawasan

Kompas - - NUSANTARA - (NSA)

KUTACANE, KOMPAS — Zona rehabilitasi Taman Nasional Gunung Leuser seluas 30.000 hektar di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, rusak karena ditanami tanaman nonkehutanan, terutama kelapa sawit. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan meminta masyarakat di zona itu tidak memperluas kebun kelapa sawit dan mengutamakan tanaman hutan. Berdasarkan pantauan Kompas, Sabtu (16/9), perbukitan terjal di zona rehabilitasi Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Aceh Tenggara sebagian besar ditanami tanaman non-kehutanan. Saat memasuki Kecamatan Tanoh Alas, tampak perbukitan di sebelah kiri dan kanan jalan telah ditanami sawit. Sebagian besar sawit masih berumur sekitar tiga tahun. Di beberapa tempat ada kelapa sawit yang berumur sekitar 15 tahun. Sebagian perbukitan lain tampak botak, dan batang kayu yang baru ditebang berserakan di sekitarnya. Pemandangan serupa terlihat di Kecamatan Lawe Sigala-gala hingga ke Kecamatan Babul Rahmah, yang berbatasan dengan zona inti TNGL. Namun, di dua kecamatan itu masih ada tanaman kehutanan, terutama cokelat dan kemiri. Dalam Musyawarah Desa Penyangga Gunung Leuser di Kecamatan Babul Rahmah, Aceh Tenggara, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wiratno mengingatkan, pohon sawit sangat berbahaya ditanam di lerang bukit. Pohon sawit mempunyai akar serabut sehingga tidak dapat menahan tanah dengan baik. Pohon sawit juga banyak menyedot air. Musyawarah desa yang diselenggarakan kemarin itu juga dihadiri ratusan warga desa penyangga, Bupati Aceh Tenggara terpilih, Raidin Pinim, dan Kepala Balai Besar TNGL Misran. Wiratno mengatakan, zona rehabilitasi TNGL bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa penyangga dengan prinsip konservasi. Tanaman sawit tidak punya fungsi konservasi. Masyarakat secara perlahan harus mengganti tanaman sawit yang berada di lereng bukit terjal dengan tanaman kehutanan. Masyarakat harus mulai memperhatikan konservasi di zona rehabilitasi. Sehari sebelumnya, musyarawah serupa diadakan di Kecamatan Putri Betung, Kabupaten Gayo Lues, Aceh.

Didampingi

Desa Alur Baning di Kecamatan Babul Rahmah, sebagai desa percontohan, akan didampingi tim dari KLHK untuk melatih warga bertani dengan prinsip konservasi. Petugas akan mendata jumlah penduduk, luas lahan yang digarap, dan jenis tanaman di desa itu. Kepala Desa Alur Baning Dinto Efendi Nababan menyatakan, ada 120 keluarga yang hidup di desanya dan semua menggantungkan hidup sebagai petani di zona rehabilitasi TNGL. Setiap keluarga menggarap lahan ratarata 2 hektar lahan. Sebelum tahun 2000, warga pada umumnya hanya menanam kemiri dan cokelat. Setelah itu, para pembalak hutan meninggalkan lahan terbengkalai. ”Lahan itu awalnya ditanami warga dengan tanaman sawit. Lama-kelamaan, warga memperluas lahan hingga empat kilometer dari tapal batas TNGL,” kata Dinto. Menurut Dinto, warga lebih memilih kelapa sawit karena lebih menjanjikan secara ekonomi. Dari kebun sawit seluas 1 hektar, mereka mendapat sekitar 1 ton tandan buah segar atau sekitar Rp 1 juta per bulan. Penghasilan dari kemiri, menurut Dinto, sebenarnya tidak terlalu jauh dari hasil sawit. Satu hektar kemiri menghasilkan sekitar 150 kaleng per hektar per tahun. Isi satu kaleng sekitar 13 kilogram. Dengan harga sekitar Rp 60.000 per kaleng, petani mendapat Rp 9 juta per tahun atau sekitar Rp 750.000 per bulan. ”Saat harga sawit turun, kadangkadang penghasilan dari kemiri lebih besar. Harga kemiri pun lebih stabil. Kami akan mencoba beralih ke tanaman kehutanan,” kata Dinto. Bupati Aceh Tenggara terpilih, Raidin Pinim, mengatakan, konservasi kawasan TNGL harus sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. ”Bagaimana hutan mau lestari kalau masyarakat di sekitarnya masih miskin,” katanya. Raidin juga meminta pendekatan penegakan hukum kepada warga desa penyangga TNGL harus diubah. Masyarakat harus dibina dan dilatih agar dapat bertani dengan prinsip-prinsip konservasi. Untuk mendukung hal itu, Wiratno mengatakan, Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara harus juga bersama-sama mencari cara agar produk tanaman hutan seperti kemiri punya nilai tambah. ”Kemiri jangan dijual dalam bentuk mentah. Masyarakat harus mengolahnya agar mendapat nilai tambah,” katanya.

KOMPAS/NIKSON SINAGA

Zona rehabilitasi Taman Nasional Gunung Leuser di Kecamatan Babul Rahmah, Kabupaten Aceh Tenggara, rusak karena ditanami kelapa sawit di lereng terjal hingga sempadan sungai, seperti tampak pada hari Sabtu (16/9). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengizinkan warga desa penyangga bertani di zona rehabilitasi dengan tanaman kehutanan, seperti kemiri, cokelat, durian, dan pinang.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.