40 Hektar Lahan Gambut di Pulang Pisau Terbakar

Kompas - - NUSANTARA - (IDO)

PULANG PISAU, KOMPAS — Dalam lima hari terakhir sedikitnya 40 hektar lahan gambut di Desa Bahaur Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, terbakar. Hingga Sabtu (16/9), petugas masih berusaha memadamkan api. Tim Satuan Tugas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan juga mengidentifikasi lahan yang terbakar karena berdekatan dengan perkebunan sawit. Komandan Satuan Tugas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kalimantan Tengah Kolonel (Arm) M Naudi Nurdika mengatakan, kebakaran sudah bisa dikendalikan sehingga ada penurunan luas kawasan yang masih terbakar, hingga Sabtu kemarin tersisa sekitar 20 hektar. Penyebab kebakaran belum diketahui pasti karena petugas masih fokus pada pemadaman api. ”Kondisinya sekarang masih berasap, tetapi sudah berkurang jauh daripada hari-hari sebelumnya. Kami juga menambahkan dua helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk melakukan pengeboman air dari udara,” kata Naudi di sela-sela patroli udara di Pulang Pisau, Sabtu. Berdasarkan pantauan Kompas dari helikopter bersama Naudi, sebagian lahan terlihat menghitam bekas terbakar. Namun, sebagian lahan lain masih mengepulkan asap. Beberapa ratus meter di atas lokasi itu ada dua helikopter yang terbang mengelilingi area terbakar sambil masing-masing memuntahkan 4.000-5.000 liter air. ”Semua upaya kami kerahkan sebelum kebakaran menjalar ke mana-mana,” kata Naudi. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pulang Pisau Salahudin mengatakan, pihaknya telah membuat delapan posko di sekitar lokasi kebakaran. Posko dibangun untuk mempercepat pengendalian kebakaran. ”Jika melalui darat saja, kebakaran sulit dikendalikan. Petugas kesulitan akses karena lokasinya jauh. Selain itu, sumber air juga minim,” kata Salahudin. Salahudin menambahkan, pihaknya masih mengidentifikasi status kawasan dari lokasi kebakaran tersebut. ”Area itu berdekatan dengan kebun sawit, kami masih menunggu laporan dari tim di lapangan soal statusnya,” katanya. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Tengah Dimas Novian Hartono mengatakan, pemerintah harus terbuka soal wilayah yang terbakar. Jika wilayah tersebut masuk dalam konsesi, harus ditindak. ”Kalau memang area milik perusahaan, harus ada tindakan tegas ke perusahaan sesuai dengan aturan yang berlaku,” katanya.

Tak terdeteksi

Kebakaran hutan dan lahan di Pulang Pisau tidak terpantau citra satelit. Titik api yang muncul di lokasi tersebut dideteksi dari patroli udara dan koordinasi dengan masyarakat setempat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pangkalan Bun mendeteksi, terdapat 29 titik panas dengan tingkat kepercayaan 50-90 persen. Seluruh titik panas tersebut berada di tujuh kabupaten. Rinciannya, antara lain, di Kabupaten Lamandau 21 lokasi, Seruyan (2 lokasi), Sukamara (2), serta masing-masing satu lokasi di Palangkaraya, Kotawaringin Barat, Katingan, dan Kabupaten Murung Raya. Prakirawan BMKG Pangkalan Bun, Januar R Pratama, menjelaskan, titik api di Pulang Pisau tidak terdeteksi karena masuk dalam blank area. Blank area terjadi karena keterbatasan lebar pindai satelit. ”Satelit itu berputar mengelilingi bumi, jadi tidak diam di tempat. Saat melakukan scanning, ada daerah yang tidak terkena scanning,” ucap Januar.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.