29.000 Butir Tablet PCC Disita

Obat Akan Diedarkan di Indonesia Timur

Kompas - - TTS/KARTUN - (REN/DIA/MUL)

MAKASSAR, KOMPAS — Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Makassar, Sulawesi Selatan, memperketat pengawasan peredaran obat ilegal. Peningkatan pengawasan dilakukan setelah badan itu menggerebek pedagang besar farmasi di Makassar dan menyita 29.000 butir obat berlabel PCC atau paracetamol, caffeine, carisoprodol.

Obat PCC itu akan diedarkan ke beberapa wilayah di kawasan timur Indonesia, seperti Papua dan Sulawesi, termasuk Sulawesi Tenggara. Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Makassar Muhammad Guntur, Sabtu (16/9), mengatakan, temuan obat PCC di pedagang besar farmasi di Jalan Korban 40.000 Jiwa menjadi bukti peredaran obat ilegal juga dilakukan pedagang resmi. Penggerebekan dilakukan pada Jumat (15/9) sore berdasarkan informasi dari masyarakat. ”Kami menemukan 29.000 butir obat PCC yang dikemas dalam 29 bungkus masing-masing berisi 1.000 butir. Ada dua tersangka yang kami proses dan mintai keterangan. Tersangka menyebut obat diperoleh dari Pasar Pramuka, Jakarta Timur. Kami akan menyelidiki lebih lanjut. Kami menyayangkan karena obat ilegal ini ditemukan di pedagang resmi,” kata Guntur.

Dicampur tramadol

Berdasarkan hasil penelitian BBPOM Sulsel, kandungan 29.000 butir itu PCC murni dan sebagian sudah dicampur dengan tramadol. Ini sama dengan hasil penelitian Dinas Kesehatan Sultra dan BBPOM setempat terkait dengan kasus PCC di Kendari. Guntur mengatakan, sejauh ini kedua tersangka terkait temuan PCC ini akan dijerat dengan Pasal 196 dan Pasal 197 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Ancaman hukumannya adalah 15 tahun penjara dan denda hingga Rp 1 miliar. ”Kami masih memproses kasusnya. Setelah semua rampung, kami akan serahkan kepada kepolisian dan kejaksaan,” kata Guntur. Terkait dengan temuan itu, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Sulsel Komisaris Besar Dicky Sondani mengatakan, pihak kepolisian, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulsel dan kota/kabupaten, serta BBPOM akan memperketat pengawasan dan peredaran obat ilegal. Pengawasan terutama dilakukan di bandara dan pelabuhan serta tempat lain yang bisa menjadi pintu masuk obat terlarang dan narkotika. ”Selama ini, kasus temuan obat ilegal dan narkoba umumnya masuk dan keluar Sulsel melalui pelabuhan dan bandara. Selain Jakarta, Malaysia melalui Kalimantan juga menjadi asal obat ilegal dan narkoba yang masuk ke wilayah ini,” ujar Dicky. Menteri Kesehatan Nila F Moeloek di Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu, meminta aparat bertindak tegas mengungkap merebaknya kasus penyalahgunaan obat berbahaya yang terjadi di Tanah Air belakangan ini. Kementerian Kesehatan juga telah membentuk tim untuk menyelidiki kasus itu. Dari Kendari dilaporkan, sampai dengan Sabtu, polisi belum menemukan perkembangan terbaru motif di balik peredaran obat PCC. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes Oscar Primadi dalam keterangan tertulisnya menyebutkan tentang kepastian jumlah korban. Oscar, mengutip Kepala Dinkes Sultra Asrum Tombili, memastikan bahwa jumlah korban penyalahgunaan PCC 76 orang dan seorang di antaranya meninggal.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.