Diduga Terima Suap, Wali Kota Batu Ditangkap KPK

Kompas - - TTS/KARTUN - (REK/BIL/BAH/DIA/ WER/NIT/APA/AGE)

JAKARTA, KOMPAS — Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap Wali Kota Batu, Jawa Timur, Eddy Rumpoko di rumah dinasnya, Sabtu (16/9) siang. Eddy ditangkap karena diduga menerima suap terkait sejumlah proyek di Kota Batu. Penangkapan Eddy menambah panjang daftar kepala daerah yang ditangkap KPK karena korupsi. Belum genap sepekan ini, KPK menangkap Bupati Batubara, Sumatera Utara, OK Arya Zulkarnaen pada Kamis. Esok harinya, Jumat, KPK menangkap Ketua DPRD Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Iwan Rusmali dan Wakil Ketua DPRD Banjarmasin Andi Effendi. ”Lima orang diamankan, termasuk kepala daerah dan pejabat unit pengadaan. Sejumlah uang juga diamankan. Diduga pemberian terkait dengan fee proyek di daerah setempat. Malam ini masih diperiksa di Polda Jatim,” ujar Basaria Pandjaitan, Wakil Ketua KPK, mengonfirmasi penangkapan Eddy. Setelah ditangkap KPK di rumah dinasnya, Eddy sempat diamankan di Markas Polda Jatim, Surabaya. Kepala Bidang Humas Polda Jatim Komisaris Besar Frans Barung Mangera mengatakan, Eddy menjalani pemeriksaan awal di Polda Jatim. ”Betul memang terjadi penangkapan oleh KPK, tadi (Sabtu) pukul 13.30. Setelah ditangkap di rumah dinasnya di Batu, yang bersangkutan dibawa ke kantor Polda Jatim, pukul 15.30, bersama enam petugas dari KPK dan lima petugas dari Polda Jatim. Pukul 18.30 sudah sampai di Polda Jatim dan akan menjalani pemeriksaan di sini,” kata Frans. Setelah menjalani pemeriksaan awal di Polda Jatim, pada pukul 20.45 Eddy langsung di- bawa petugas KPK ke Bandara Juanda untuk selanjutnya diterbangkan ke Jakarta. ”Tadi saya mandi dan ada yang mengetuk pintu kamar mandi sambil bicara ada OTT. Saya keluar dan langsung dibawa oleh petugas naik mobil ke sini (Polda Jatim). Saya tidak tahu uangnya di mana. Saya sempat menolak dibawa sebelum didampingi pengacara dan mau memberikan informasi kepada wartawan,” kata Eddy soal penangkapannya. Berdasarkan laporan polisi, Eddy ditangkap bersama Philip, rekanan pemilik Hotel Amarta, Batu. Dari tangan keduanya, penyidik KPK menyita barang bukti sejumlah uang di dalam tas yang jumlahnya belum dihitung. Penangkapan Eddy merupakan hasil pengembangan dari penangkapan sebelumnya atas Edi, pegawai negeri sipil yang menangani bagian pengadaan atau unit layanan pengadaan. Penangkapan Eddy itu diduga terkait kasus suap proyek mebeler di Batu. Terkait penangkapan kepala daerah dan anggota legislatif daerah berturut-turut ini, Wakil Ketua KPK Laode M Syarif mengatakan, KPK sama sekali tak bermaksud menciptakan drama sebagaimana kritik dari DPR. Operasi tangkap tangan (OTT) itu, kata Laode, berdasarkan laporan masyarakat akan dugaan korupsi di daerahnya. ”Tak mungkin kami mendiamkan laporan masyarakat. Apalagi jika bukti-buktinya sangat kuat,” katanya. Sebelumnya, anggota DPR, termasuk Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, menilai OTT tidak menolong, tetapi menjatuhkan wibawa bangsa karena menunjukkan banyaknya koruptor di Indonesia.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.