Kisah Si Gadis Lindu

Koleksi terbaru adibusana Hian Tjen menetas dari ilhamnya setelah terpesona menyaksikan gugusan bintang-bintang di angkasa. Potongan busananya boleh jadi simpel dan tidak neko-neko, tempat detail yang melekat sungguh tidak sederhana pembuatannya. Ini gara

Kompas - - GAYA HIDUP - OLEH SRI REJEKI

Hian, perancang busana yang banyak membuat gaun-gaun pengantin dan baju-baju couture atau adibusana, hobi berjalan-jalan ke sejumlah negara. Suatu kali, perjalanannya ke Maroko membawanya menyadari keberadaan susunan bintang yang membentuk jalur menuju selatan. Gugusan bintang atau galaksi ini, berdasarkan hasil penelitian ilmuwan, digunakan sebagai pedoman kawanan burung yang hendak bermigrasi menghindari musim dingin di daerah utara. Cerita tentang galaksi yang menuntun burung-burung semakin lengkap ketika tiba di Estonia. Di sana, sebuah legenda berkisah tentang gugusan bintang-bintang yang sama. Dikisahkan, seorang dewi bernama Lindu, anak raja langit yang menolak dinikahkan dengan Matahari, Rembulan, maupun Bintang Kutub. Ini karena ia telah terpikat pada keindahan Cahaya Utara atau aurora. Namun, Lindu harus patah hati karena Cahaya Utara kemudian tidak menepati janjinya untuk kembali. Baju pengantinnya penuh dengan tetesan air mata. Lindu ke- mudian melayang-layang ke langit diikuti kawanan burung-burung yang terbang mengelilinginya. Dalam mitologi, jejak air matanya dipercaya sebagai jalur migrasi burung-burung untuk mencari tempat yang lebih hangat menjelang musim dingin. Hian konsisten untuk menerapkan tema yang ia pilih, mulai dari warna, detail aplikasi, hingga bentuk busana. Termasuk juga panggung peragaan busananya di Hotel Raffles, Jakarta, beberapa waktu lalu yang bertema angkasa. Panggung itu berbentuk x dengan bagian tengah diberi kubah tinggi dengan hiasan ribuan lampu berwarna biru. Kubah ini bak langit malam hari yang bertaburan bintang-bintang. Untuk palet warna busana Hian Tjen Couture Collection 2017-2018 ini, ia memilih warna-warna seperti dusty pink, biru, emas, perak, dan abu-abu yang mewakili cerita. Sebuah baju tube dress dengan bagian bawah yang mekar dan sebuah jaket lengan panjang dibuat dari bahan semacam karung goni yang berwarna gemerlap keemasan. Di antara benang-benang goni disisipkan benang-benang warna emas dan bertabur dengan serbuk glitter berwarna emas yang membuat warnanya menjadi gemerlap. Warna biru gelap seperti langit malam menjadi gaun panjang yang menyapu tanah atau sebuah blus lengan panjang dengan hiasan ban kecil di pinggang. Kain ini berhias motif langit dan segala isinya, termasuk zodiak dan rasi bintang. Hian bekerja sama dengan Ian Permana, ilustrator yang berdomisili di Bali untuk mewujudkan imajinasinya tentang langit dan legenda Dewi Lindu. Ilustrasi ini kemudian dicetak di Italia karena hasil yang bagus belum bisa ia peroleh di dalam negeri.

Detail istimewa

Potongan bajunya terlihat sederhana dan tidak jelimet, seperti gaun-gaun panjang yang mekar di bagian bawah, celana panjang, kulot, atau rok A line, jaket, dan blus. Namun, gaun-gaun ini dilengkapi dengan detail aplikasi yang membuatnya menjadi istimewa. Detail-detail ini baru terlihat kerumitannya setelah kita amati dari dekat dan mendengarkan sang perancang berkisah tentang proses pembuatan atau pemasangannya. Cerita-cerita tentang koleksi terbaru Hian yang diberi judul Magellani yang berarti galaksi, dapat disimak di saluran Youtube dan Instagramnya. ”Orang sekarang maunya model yang simpel-simpel saja. Ini sudah menjadi tren dua tahun terakhir. Tetapi, mereka mau ada sesuatu di bajunya yang membuat istimewa,” ungkap Hian. Pada sebuah gaun lebarnya, Hian menggambarkan kerlip bintang melalui perantara bulu-bulu angsa. Bulu-bulu ini dipelintir sedemikian rupa sehingga ujungnya meruncing. Bulu-bulu yang sebelumnya telah diwarnai ini lantas disusun dengan bagian tengah berupa kristal swarovski. Susunan hiasan dari bulu-bulu ini juga menghiasi bagian leher dan bahu sebuah blus yang dipadu dengan rok pleats atau plisket. Hiasan serupa juga ditempatkan di bagian bawah gaun yang bergelombang. Lain lagi dengan sebuah busananya yang bermotif geometris susunan segitiga. Bentuk segitiga dianggap sebagai bagian dari bentuk yang menyusun bintang. Setiap segitiga disusun dari warna yang berbeda-beda dengan lebar dua sentimeter. Kain harus dipotong-potong, disusun sedemikian rupa, lantas dijahit satu-satu. Susunan harus dibuat sepresisi mungkin agar ujung-ujungnya saling bertemu. Melenceng sedikit, motifnya tidak akan jadi. ”Butuh dua minggu untuk menjahitnya saja. Ini belum termasuk proses mengerjakan sebelumnya,” kata Hian, perancang yang seangkatan dengan Tex Saverio ini. Sebuah dress-nya disusun dari tumpukan rimpel atau ruffle yang menggambarkan susunan awan dengan bagian ujung ditempeli payet-payet. Sebuah gaun dengan motif kumpulan awan yang bentuknya seperti motif mega mendung pada batik cirebon, dibordir dengan saksama lalu dipadukan dengan torso yang transparan. Hian turun tangan sendiri untuk menangani detail-detail yang rumit. Setelah timnya mampu meneruskan dengan kualitas pengerjaan yang sama, Hian akan melepas dan memercayakan pengerjaannya pada tim. ”Memang beginilah baju couture. Orang sekarang mencari yang seperti ini. Tren di luar pun seperti itu untuk label-label, baju-baju mereka dihiasi dengan kerajinan tangan tingkat tinggi,” kata Hian. Meski Hian ingin garis rancangnya kali ini sederhana, pada beberapa busana ia masih menaburkan banyak payet dan kristal. Namun, untuk membuatnya tidak terlalu mencolok, ia melapisinya dengan kain tile. Karya-karya Hian, terutama gaun-gaun pengantin, banyak disukai pelanggannya dari Timur Tengah. Saat Kompas bertandang sebelum pergelaran busana, di bengkel kerjanya di Jakarta Utara, Hian tengah kedatangan tamu dari Qatar yang sedang mengepas baju pengantin. Selain tile atau tulle, Hian juga menggunakan material silk gazar dan scuba untuk mendapat kesan kaku dan berbentuk. Di tangan Hian, Dewi Lindu tenang bersemayam di busana-busananya yang indah.

Koleksi busana Hian Tjen Couture 2017-2018

FOTO-FOTO: KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.