Nilai

Kompas - - GAYA HIDUP - OLEH SAMUEL MULIA

K” etika kamu miskin, belum sukses, semua kata bijakmu terdengar seperti kentut. Tapi, ketika kamu kaya dan sukses, kentutmu terdengar sangat bijak dan menginspirasi.” Itu adalah ungkapan Jack Ma yang saya baca di akun media sosial seorang teman lama.

Mata duniawi

Perkataan itu benar sebenar-benarnya. Makanya dari dulu saya selalu bercita-cita jadi sukses dan kalau bisa juga kaya raya. Karena sesungguhnya sudah saya rasakan menjadi orang tak terkenal, tak sukses, dan tak kaya raya. Dalam kehidupan sehari-hari, kalau saya sedang pergi ke taman bermain bernama mal, selalu dilakukan pemeriksaan oleh petugas keamanan. Dari sana saja saya dapat melihat bagaimana mereka memperlakukan setiap orang yang melintas. Kalau yang perlente, pemeriksaan biasanya tidak dilakukan, atau dilakukan secepat kilat. Namun, berbeda dengan yang terlihat seperti orang tak mampu dan dekil dalam penampilannya. Pemeriksaan akan lebih ketat. Kadang pertanyaan diajukan petugas keamanan. Padahal, yang perlente pun kadang menipu. Namun, demikianlah kejadian dalam kehidupan ini. Kita mudah tertipu dengan penipu. Di taman bermain itu pun atau di perkantoran elite acap kali saya melihat sosok yang menuruni mobil mewah, mengenakan pakaian yang rapi, berjalan dengan bahasa tubuh yang kaku dan menjaga jarak. Maka, petugas keamanan akan menundukkan badannya memberi hormat seperti seorang raja. Itu belum memperhitungkan orang yang bersangkutan termasuk kategori orang terkenal. Di suatu hari, saya bepergian dengan teman saya yang kondang dan sukses. Kami menggunakan maskapai penerbangan yang sama, membayar dengan harga yang sama, dan duduk di kelas yang sama, tetapi sambutan yang saya terima sungguh berbeda. Pramugari menyambutnya dengan nama teman saya itu karena namanya memang kondang banget. Sementara kepada saya, ia hanya menganggukkan kepala. Tak usah saya ceritakan perlakuan yang didapatinya selama penerbangan. Keramahan itu bahkan terus berlanjut, bahkan ketika pesawat mendarat dan kami keluar dari pesawat. Semua perlakuan itu tak saya dapati sebagai manusia biasa, sebagai manusia ’tak bernama’. Padahal, seperti saya katakan tadi, saya membayar dengan harga yang sama, duduk di kelas yang sama.

Mata surgawi

Beberapa hari sebelum tenggat waktu menyetor tulisan ini, saya dihubungi teman lama yang meminta saya berbagi pengetahuan dan aturan dalam berpakaian untuk staf di kantornya. Waktu saya tanyakan mengapa harus sampai mengundang orang luar, ia mengatakan begini, ”Kalau orang dalam sendiri enggak digubris, perlu ada yang menegur dari luar.” Jadi dalam beberapa keadaan, seperti menegakkan sebuah aturan main, beberapa perusahaan pun sampai harus meminta bantuan orang luar yang dianggap berpengalaman, yang dianggap ahli, yang dianggap punya nama dan kapasitas. Padahal, saya tahu pasti, waktu saya berbagi tentang pengalaman saya di beberapa perusahaan itu, mereka yang hadir dan mendengarkan saya berkicau juga sudah mengerti dan tahu apa yang saya bagikan itu. Mereka sejujurnya juga sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Jadi nama yang terkenal memiliki kekuatan yang luar biasa. Nama besar diperlukan untuk menasihati sesuatu yang sejujurnya kita semua juga sudah tahu. Kita mendatangkan pembicara-pembicara kondang, padahal mungkin yang mendengar juga sudah tahu apa yang sedang dibicarakan manusia ternama dan sukses itu. Namun, manusia menyukai untuk mendengar sebuah konfirmasi dari orang semacam itu. Konfirmasi yang dibutuhkan untuk lebih meyakinkan dirinya atau nasihat orang tak bernama yang sekali waktu pernah mampir ke telinganya. Jadi seperti kata Jack Ma, kentut orang kaya dan sukses saja bisa terdengar sangat bijak dan menginspirasi. Padahal, kentut mereka sendiri sebuah inspirasi yang tak dipedulikan. Maka dari itu, lebih afdal mendengar kentut eh... petuah orang kondang daripada tetangga di sebelah rumah yang cara pandang dan nasihatnya bisa jadi setali tiga uang. Kemudian saya ini bertanya, apakah ketika saya disebut sebagai manusia bernilai, maka yang dimaksudkan adalah manusia yang dinilai itu hanya didasari kekayaan, didasari tingkat intelektual semata, atau orang bisa menghormati saya karena saya ini orang biasa dan tidak sukses? Nurani saya langsung menyambar. ”Selama kamu menumpang di dunia ini, kamu akan dinilai dari kacamata dunia. Kalau kamu mengharap bahwa dunia memiliki mata surgawi, kamu ke laut

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.