Beda Karakter Satu Nilai

Kompas - - RUANG&DESAIN -

Euis Rohaini yang berdomisili di Maos, Cilacap, Jawa Tengah, awalnya lebih sering berkutat dengan kain-kain batik. Selama bertahun-tahun, pemilik usaha dengan merek Rajasamas ini membuat kain batik khas Cilacap sekaligus mengaplikasikan batik tersebut dalam berbagai varian produk, seperti busana dan perlengkapannya berupa tas dan sepatu. ”Untuk motif klasik ada cebong kumpul, ladrang manis, dan jagung saotong yang kami buat dengan pewarna alam. Tapi, kami juga membuat batik motif kontemporer, juga dengan pewarna alam,” kata Euis, Jumat (8/9). Tak hanya berbisnis, Euis pun memberikan pelatihan membatik di sejumlah sekolah di Cilacap. Kain batik hasil pelatihan yang notabene belum bisa dimanfaatkan oleh Euis diubah menjadi perca-perca kain yang lantas dipadukan dengan material bambu menjadi berbagai produk baru. ”Kami memilih bambu karena di Cilacap bambu sangat berlimpah. Jenis yang kami gunakan adalah bambu tali yang memiliki tingkat kelenturan tinggi sehingga mudah untuk dibentuk,” ujar Euis yang berdarah Sunda ini. Untuk merek produk berbahan batik dan bambu, Euis menggunakan nama Raja Serayu. Produk awal Raja Serayu didominasi wadah-wadah yang bisa digunakan untuk menyimpan barang yang masih berhubungan dengan produk mode. Beberapa di antaranya laundry basket atau wadah cucian yang diberi nama unik, kukumbah; kotak penyimpanan dengan tutup bernama pasagi dan lodong; serta wadah penyimpanan berbentuk bundar dengan tutup di bagian atas. Metode yang digunakan adalah anyaman. Perca batik dijahit rapi berbentuk memanjang yang lantas dianyamkan pada bambu yang menjadi bagan utama. Hasilnya sangat unik. Selain bentuknya yang cantik, detail pengerjaan yang rapi jelas terlihat pada produk yang dihasilkan. ”Tahun 2016, kami mendapat bantuan dari program Designer Dispatch Services (DDS) dari Kementerian Perdagangan (Kemendag). Jadi, kami banyak dibantu oleh desainer produk dalam mengembangkan produk-produk kami,” kata Euis. DDS merupakan program pendampingan antara desainer dan pelaku usaha dalam menciptakan prototipe untuk pasar ekspor. Saat ini, produk Raja Serayu serta beberapa produk sejenis yang juga mendapat bantuan serupa dari program DDS di bawah payung Indonesia Design Development Center (IDDC) Kemendag dipamerkan dalam ajang Pasar Kreasi Indonesia yang digelar oleh Plaza Indonesia. Pameran berlangsung hingga akhir September. Menurut Euis, hingga saat ini Raja Serayu telah mendapat pesanan laundry basket dari Riyadh, Arab Saudi, sebanyak 16 kontainer yang akan dikirimkan secara bertahap. Dalam waktu dekat, Euis akan mengirim dua kontainer berisi 900 laundry basket. ”Menurut mereka, produk saya unik karena ada kombinasi dengan batik yang mencirikan Indonesia. Kalau bambunya, sih, di China juga banyak,” kata Euis yang melibatkan para mantan tenaga kerja Indonesia di lima kecamatan di Cilacap. Selain material bambu, kini mereka tengah mengembangkan material seperti rotan dan rumput alang-alang.

Limbah koran

Serupa dengan Raja Serayu yang menggunakan bahan baku perca, Salam Rancage yang produknya juga dipamerkan di Pasar Kreasi Indonesia menggunakan material limbah koran. Salam Rancage yang digagas oleh Aling Nur Naluri ini bermarkas di Bogor bekerja sama, antara lain, dengan para ibu dari Rumah Kreasi yang difasilitasi Kompas Gramedia. Produk yang dipamerkan berupa wadah cucian, tempat payung, dan kursi kecil yang di bagian tengah bisa dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan barang. Material yang digunakan adalah paduan antara bambu dan limbah koran yang dilinting rapi dan kuat. Untuk wadah cucian dan kursi, selain bambu dan lintingan koran, ditambahkan material lain berupa besi untuk bagian kaki-kaki dan bantalan tempat duduk dilapisi kulit sintetis. Bentuknya unik, mencirikan kreativitas yang tinggi. Ketiga produk yang dipamerkan tersebut juga merupakan hasil kolaborasi Salam Rancage dengan IDDC melalui program DDS. Selain keunikan desain, proses pengerjaan yang detail dan rapi membuahkan hasil akhir berstandar tinggi. Produk Enin, laundry basket bentuk telur yang dipamerkan di Pasar Kreasi Indonesia itu, adalah peraih Merit Prize in Other Natural Materials Category pada Inacraft Award 2017. Produk Enin yang memadukan penggunaan bahan daur ulang berupa limbah koran dan material bambu dinilai memiliki ide desain produk yang sangat kreatif. Menurut Riana Setia dari IDDC, kolaborasi dengan desainer memang menjadi upaya yang tengah dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk-produk Indonesia, utamanya untuk menyasar pasar internasional. Untuk mengetahui kebutuhan atau perlakuan yang sesuai, konsep produk yang akan dikembangkan harus lebih dulu dipahami. Beberapa hal yang menjadi perhatian adalah eksistensi produk bersangkutan, kompetitor, dan perilaku konsumen mereka. Begitu juga dengan pasar yang disasar. ”Namun, selain desain yang mendukung fungsi, estetika juga menjadi patokan. Apalagi untuk pasar internasional. Begitu juga dengan material,” tutur Riana. Produk-produk Salam Rancage, selain menggunakan material unik dari limbah koran, juga telah teruji daya tahannya. ”Mereka pernah bikin bangku berukuran besar dan enggak meletot. Ini artinya ketahanannya oke. Komposisi bahan pelapisnya juga sudah lolos uji,” ujarnya. Nilai tambahnya makin tinggi karena selain menggunakan bahan ramah lingkungan, Salam Rancage juga lekat dengan pemberdayaan. Salah satunya adalah Kampung Koran di kawasan Palmerah, Jakarta, yang melibatkan banyak ibu rumah tangga setempat. Di masa mendatang, selain pasar Jepang yang sudah lebih dulu membukakan pintu untuk Salam Rancage, diharapkan akan makin terbuka pasar di negara-negara lain. Namun, pasar dalam negeri tentu tak dilupakan.

OLEH DWI AS SETIANINGSIH FOTO-FOTO: KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

Dari kanan atas ke bawah: Pameran Pasar Kreasi Indonesia di Plaza Indonesia, Jakarta. Produk dari Rumah Tikar Vinto. Karya dari Raja Serayu. Produk dari Citra Busana. Keranjang cucian dari Salam Rancage. Karya Raja Serayu.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.