Benyamin Tak Tergantikan

Seniman yang juga legenda Betawi Benyamin Suaeb dikenal sebagai sosok yang kreatif sekaligus jahil. Kreativitasnya lewat puluhan film dan album dengan lirik-lirik jahil itu yang membesarkan namanya. Sayangnya, kejahilan itu tidak begitu muncul dalam Konse

Kompas - - HIBURAN - OLEH MOHAMMAD HILMI FAIQ

Konser teatrikal ini digelar Teater Abang None di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, pada Jumat dan Sabtu (15-16/9). Tokoh Benyamin Suaeb atau Babe dimainkan dalam lima sketsa yang setiap sketsa mewakili periodisasi hidupnya. Tokoh Babe dimainkan oleh lima pemain, antara lain Bobtriyan Tanamas, Tommy Tjokro, dan Muhammad Gofur alias Pengky. Kejahilan Benyamin tidak tergambar secara menonjol dan segar sebagaimana citra Babe yang jenaka. Yang paling mencolok barangkali terekam dalam adegan Benyamin semasa bocah ketika mengelabui penjual nasi. Dia dan dua rekannya mengatur siasat berantam dan Benyamin menjadi korban. Tujuannya untuk mendapat belas kasih tiga bungkus nasi. Sayangnya, adegan ini juga kurang greget, cenderung datar. Salah satu penyebabnya karena karakter Benyamin kurang diresapi para pemainnya. Bahkan, ungkapan-ungkapan ikonik seperti ”kingkong lu” atau ”muke lu jauh” khas Benyamin tidak muncul. Secara umum, transformasi Benyamin dari bukan siapa-siapa menjadi legenda tergambar secara mulus dari adegan per adegan. Itu diperkuat oleh bantuan Abang Jantuk (Indra Bekti) dan Mpok Jantuk (Astry Novita Sutono alias Ovie). Mereka berperan sebagai narator yang menjembatani sketsa per sketsa. Bahkan, nyawa pertunjukan yang berlangsung selama dua jam itu ada pada dua sosok tadi, Abang dan Mpok Jantuk. Mereka memegang peran kunci untuk mengombang-ambingkan atau meluruskan jalan cerita. Indra Bekti sebagai Abang Jantuk sebenarnya tidak terlampau bagus dalam membeberkan narasi perjalanan hidup Benyamin. Di beberapa bagian, dia mengalami disorientasi cerita yang harus disampaikan. Tampak jelas dia tidak menghafal dengan baik naskah yang memang panjang itu. Ini, misalnya, terlihat ketika dia harus bercerita tentang tanggal pernikahan Benyamin dan Nonnie. Indra bekti lupa tanggal. Kawinnya tanggal Oktober…” kata Abang Jantuk dengan kalimat mengambang seperti mengingat-ingat. Dia kelihatan bingung. Mpok Jantuk langsung menyambar dengan nada meledek, ”Penonton…. Ada yang kaga latihan, lupa tanggal.” ”Tanggal 2, eh tanggal 3.” dalam konser teatrikal ‘Babe, Muka Kampung Rejeki Kota’ di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (15/9). ”2 apa 3 nih. Mau ambil banyak nih sekalian.” Penonton pun terbahak-bahak. Berulang-ulang improvisasi Mpok Jantuk menyelamatkan Abang Jantuk. Beruntung juga Abang Jantuk dapat mengimbangi improvisasi itu sehingga kekurangan dia karena tidak hafal naskah dapat dialihkan menjadi bahan bercandaan yang menyegarkan. Indra Bekti kerap tidak ikut latihan sehingga tidak hafal sebagian naskah.

Kesegaran Mpok-Abang Jantuk

Pasangan Abang-Mpok Jantuk memberi kesegaran dengan suplai-suplai bahan guyonan yang segar dan kontekstual. Meskipun di beberapa bagian mereka menggunakan formulasi lawakan yang mulai basi dengan menjadikan fisik sebagai bahan candaan. Yang tentu saja menarik adalah tampilan para pemain yang memang enak dilihat dan multitalenta. Para anggota Teater Abang None itu secara fisik menarik dan menguasai beragam keahlian, seperti menyanyi, menari, dan bela diri. Perpaduan yang agak sulit didapat dari seorang pemain teater. Koreografinya juga bagus tampak sekali latihan panjang selama tujuh bulan itu tidak mengingkari hasil. Modal tadi semakin menarik karena sutradara Agus Noor membangun panggung yang demikian agung dan menawan. Multimedia panggung sangat mendukung tata cerita bukan sekadar tempelan. Multimedia itu dapat memberi kesan tiga dimensi yang berkorelasi sangat kuat terhadap cerita. Itu semakin menawan oleh tata cahaya yang juga ciamik. Saking ciamiknya, penonton tak sadar tata latar panggung telah berubah dengan properti lain setiap pergantian sketsa cerita. Keagungan cerita Konser Teatrikal ini belum berhenti di situ. Agus memberi kejutan segar dengan menampilkan Ida Royani. Ida merupakan teman duet Benyamin yang begitu populer pada tahun 70-an. Kala itu ketenaran dan kecantikan Ida setara dengan Raisa pada masa sekarang. Begitu juga dengan Benyamin. Lagu yang mereka nyanyikan seperti ”Hujan Gerimis” masih kerap dinyanyikan sampai sekarang. Ida muncul dalam segmen wawancara dengan Abang dan Mpok Jantuk ketika keduanya menjadi pembaca acara di Bens Radio. Ida tampil selayaknya narasumber. Dialognya lancar dan sangat natural. ”Tante Ida hanya tahu pertanyaannya ini dan ini, terserah jawabnya apa,” kata produser sekaligus pendiri Teater Abang None Maudy Koesnaedi menjelaskan tentang persiapan penampilan Ida Royani. Dalam segmen itu, Ida Royani bercerita tentang masa-masa awal bertemu dengan Benyamin, yang dalam persepsinya sebagai sosok yang dekil dan udik. Ida sempat enggan berduet dengan Benyamin karena persepsinya diperkuat oleh penilaian teman-temannya bahwa Benyamin itu tidak sepadan duet dengan Ida. Tapi, Ida akhirnya bersedia duet dengan Benyamin antara lain karena dorongan produser. Nyatanya hasil duet itu selalu meledak. Benyamin tidak pernah marah diejek Ida. Dia membalas dengan ungkapan, meskipun wajahnya kampung, tetapi rezekinya kota. Ida melihat sendiri uang Benyamin yang bertumpuk-tumpuk di kamar. Juga mobil mewahnya yang pada masa itu masih jarang orang punya mobil. Dalam ingatan Ida, Benyamin orang yang profesional dan sangat menghargai waktu. ”Mau nyanyi jam 9 atau jam 10 malam, dia jemput jam 4 sore. Kami suka marah sama Benyamin.” Ida juga salut dengan spontanitas dicampur kreativitas Benyamin. Ketika rekaman mereka tidak menggunakan teks atau lirik. Semua kalimat itu keluar begitu saja secara spontan sehingga ketika ada bagian fals dan harus direkam ulang, kata-katanya berubah lagi secara spontan. Jika harus direkam ulang sepuluh kali, berarti liriknya berubah sepuluh kali. ”Susahnya kalau lagi show dan lagu itu sudah terkenal kita bingung kata-katanya. Kita karang saja. Akhirnya kita nyanyi juga kita ngarang lagi.” Testimoni Ida terhadap Benyamin itu menjadi penutup sekaligus kado istimewa bagi pencinta Benyamin. Penonton semakin kagum terhadap sosoknya yang memang tidak tergantikan.

FOTO-FOTO: KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Salah satu adegan

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.