Ki Nartosabdo Berhiphop

Kompas - - HIBURAN - HILMI FAIQ) (MOHAMMAD

Lagu-lagu Ki Nartosabdo telanjur dikenal orang dalam balutan musik rancak dan meriah pantura atau juga campursari ala Didi Kempot. Bintang Indrianto sebagai pengaransemen lagu sekaligus pemain bas menafsir ulang lagu-lagu Ki Nartosabdo dalam rentang musik yang lebih kaya. Dia bahkan menyeberang ke jazz hingga hip hop. Bintang mengajak penonton berhiphop lewat lagu-lagu Ki Nartosabdo di Bentara Budaya Jakarta dalam acara Musik Kamisan: Pentas Album Gambang Suling Ki Nartosabdo oleh Bintang Indrianto, Kamis (14/9). Gambang Suling merupakan album kedua Bintang yang diproduksi Demajors. Malam itu dia mengusung Imam Garmansyah (kibor), Bianglala Voices (choir), dan Eugen Bounty (saksofon). Juga ada sinden Sri Yanti, pengrawit Sulasno Wigati, dan dalang sekaligus penabuh gamelan Bagiyanto. Bintang terkenal sebagai basis kreatif. Dia tidak saja mahir meramu musik, tetapi juga mengonsep panggung. Beragam pergelaran musik, terutama jazz, lahir dari pemikirannya. Sebutlah alpura-pura bum kompilasi Bass Heroes atau album Jazz Hijau Walhi. Yang terakhir itu, Bintang berkolaborasi dengan Margie Segers, Bonita & the Hus-Band, Iwa K, dan Bianglala Voices. Rentang kiprahnya di dunia musik demikian panjang. Setidaknya sejak awal 1990-an, ketika Bintang Indrianto dengan grup pop-rock Dimensi, hingga sekarang. Kamis malam pekan lalu, Bintang dan sebagian besar penampil memakai pakaian serba gelap. Latar belakang panggung memakai kain hitam dengan cahaya minimalis. Terkesan kelam, tetapi indah. Bintang ingin menyampaikan pesan kerendahan hati lewat warna hitam itu. Hitam yang mudah menyatu dengan warna-warna lain. Itu pula yang ditangkap Bintang terhadap Ki Nartosabdo lewat musik dan lirik-liriknya. Panggung dibuka dengan pertunjukan berbau teatrikal. Bintang memainkan basnya ditimpali suara drum dan kibor. Lalu dalang meresponsnya dengan memainkan beberapa sosok wayang dan gunungan. Dilanjutkan dengan lagu ”Layu-layu” dan ”Tanah Airku” karya Ibu Sud. Bagiyanto bergaya dalang bertanya Album Gambang Suling Ki Nartosabdo bersama Bintang Indrianto dalam Musik Kamisan BBJ di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (14/9). kepada Bintang tentang motif yang membuatnya berani menafsir lagu-lagu Ki Nartosabdo. Bintang menjawab bahwa dia tertarik dengan lagu-lagi Ki Nartosabdo setelah bergaul dengan Sujiwo Tejo, Agus Noor, Djaduk Ferianto, dan Butet Kartaredjasa. Sang dalang mengingatkan agar Bintang tidak sembarangan bertanya kepada orang. Dalam dialog itu, dalang bertanya dalam bahasa Jawa, lalu diterjemahkan Imam ke dalam bahasa Sunda, dan dijawab Bintang dalam bahasa Indonesia. Dialog yang menjadi ajang penjelasan di balik proses kreatif itu, juga menjadi penegas bahwa musik dan lagu-lagu Ki Nartosabto mampu melintasi beragam budaya dan etnis. Betapa lagu-lagu Ki Nartosabdo juga melintasi zaman. Bintang tidak pernah bertemu langsung dengan Ki Nartosabdo, yang berpulang pada Oktober 1985. Meski demikian, dia tertarik setelah terlibat dalam sebuah proses kreatif untuk mengenang jasa Ki Nartosabdo. ”Saya berpikir, sayang sekali kalau hasil kreasi ini berhenti. Saya lalu teruskan dan jadilah album ini,” kata Bintang.

Permainan bas

Dalam setiap lagunya, Bintang memberi posisi lebih pada permainan bas. Bas yang biasanya hanya sebagai aksen atau penjaga ritme kali ini muncul lebih dominan. Bahkan, dalam beberapa lagu, bas memainkan instrumentalia menggantikan lirik lagu. Iringan saksofon dan kibor memberi kesan jazzy yang kental. Namun, lagu-lagu itu tidak kehilangan rasa etnisnya, terutama etnis Jawa, karena suara gamelan dan rebab sesekali terdengar di sana. Bahkan, di bagian akhir lagu ”Ojo Lamis” dan ”Klinci Ucul”, rasa etnis itu dipertebal dengan suara sinden. Pada lagu ”Mbok Yo Mesem”, Bintang membukanya dengan melodi bas. Suaranya yang tebal dan tempo sedang memberi stimulus kepada siapa pun yang mendengarnya untuk menggoyangkan kepala. Di bagian tengah, Bintang memainkan melodi secara solo dengan basnya. Bas menjadi panglima. Dalam lagu ini ada rasa bebop, juga cool jazz. Lalu terdengar bunyi senar bas dibetot, disusul rap Bianglala Voice yang repetitif, ”This is the song you can hear from my soul. Gambang, gambang, gambang, you can hear from my soul”. Disusul intro panjang saksofon yang melodius dan menenteramkan. Melantunlah ”Swara Suling (Gambang Suling)” dengan gaya hip hop. Lebih rancak dan ceria. Malam itu, lagi-lagi Bintang menunjukkan kreativitasnya sebagai pemusik. Dia meramu ulang lagu-lagu Ki Nartosabdo menjadi lebih bisa diterima oleh kuping-kuping penikmat jazz sampai pencinta hip hop.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Pentas

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.