”Perkongsian” Bising di Celah Tebing

Enam pemuda tanggung istirahat sejenak sehabis moshing. Sewaktu tiga personel Kelompok Penerbang Roket kembali ke panggung, ditambah ”penumpang” baru, Glenn Fredly, para pemuda ini membentuk barisan, saling berangkulan. Mereka lalu berdansa, mengikuti rau

Kompas - - HIBURAN - OLEH SAIFUL RIJAL YUNUS & HERLAMBANG JALUARDI

Puluhan perempuan merangsek ke depan panggung United We Loud, yang awalnya dipenuhi laki-laki yang asyik saling tabrak. Kolaborasi antara Kelompok Penerbang Roket (KPR) yang cadas dan Glenn yang syahdu adalah salah satu episode yang ditunggu-tunggu penonton di malam kedua Soundrenaline 2017 di Garuda Wisnu Kencana (GWK), Bali, Minggu (10/9) malam. Padahal, di panggung sebelah yang berbatas tebing, band emo asal Amerika Serikat, Dashboard Confessional, juga sedang tampil. Lagu ”Kelelawar” menyalak. Lagu milik Koes Plus ini merupakan lagu keempat yang dibawakan KPR dan pertama untuk Glenn. Lagu sederhana yang terdiri atas 17 kata ini berada dalam album Dheg Dheg Plas keluaran tahun 1969. Aransemen lagu terasa energik. Riff gitar dari Rey Marshall, berpadu dengan suara Glenn yang renyah dan ditambah lengkingan saksofon dari Ricky Manuputty yang ikut mengiringi, membuat penonton cukup belingsatan. ”Salam merdeka. Mana suara tolak reklamasi?” kata Glenn diikuti teriakan penonton yang menggema di antara tebing-tebing cadas kawasan GWK. Glenn dan KPR adalah satu-satunya penampil yang menyuarakan kepedulian lingkungan selama ajang Soundrenaline 2017. Bukan Efek Rumah Kaca seperti tahun sebelumnya atau Navicula yang tuan rumah. Lagu ”Di Mana Merdeka” mereka nyanyikan, lalu ditutup dengan ”Tanda Tanya”. Hanya ada tiga lagu dari musisi beda ”dunia” ini kolaborasikan, dua milik KPR dan satu milik dedengkot rock and roll, Koes Plus. Tidak ada lagu milik Glenn dalam kolaborasi singkat itu. Tanggung. Meski begitu, ”persekongkolan” mereka tetap ditunggu penonton karena perpaduan musik dan era yang berbeda. Glenn menuturkan, pengelompokan genre saat ini cuma mitos. Kolaborasi bisa membawa musik ke dalam dimensi berbeda. ”Musik itu katalisator untuk membuat suara-suara terwakilkan, termasuk suara tentang alam dan lingkungan,” ucapnya. Soundrenaline yang berlangsung pada Sabtu dan Minggu (9-10/9) itu memang mengusung beragam warna. Salah satunya adalah kolaborasi dari berbagai unsur, genre, atau generasi. Kolaborasi yang apik terjadi pada Sabtu menjelang tengah malam. Kolaborasi SRXBS atau Stars and Rabbit dengan band elektronik asal Bandung, Bottle Smoker, membawa aroma baru bagi penonton. Antrean penonton di pintu masuk tidak berhenti hingga kolaborasi ini sampai pada nada terakhir di panggung. ”Perkongsian” ini membawakan delapan lagu, termasuk dua lagu baru ciptaan mereka, ”Moments of Causeless Bliss” dan ”The Edge of Wonderland”, yang baru dibawakan pertama kali. Irama elektronik yang kental dengan nuansa etnik berpadu dengan melodi khas Stars and Rabbit. Kedua lagu ini sepertinya cocok didengarkan ketika bersantai di bukit sembari membaca buku petualangan ke negeri antah-berantah. Lagu ”Man Upon the Hill” adalah pamungkas mereka dan sontak membuat semua penonton berdiri di area yang seharusnya untuk duduk. Elda Suryani, vokalis Stars and Rabbit, yang selalu tampil energik berlompatan ke sana kemari, sampai kehabisan kata melihat animo yang begitu intim dari penonton. ”You, you, you make me ndhredheg,” candanya di tengah lagu. Jika membandingkan kolaborasi yang tampil selama dua hari festival, kolaborasi SRXBS merupakan paduan yang paling rapi dan menawarkan warna paling baru. Kolaborasi keduanya memiliki konsep matang dan saling mengisi satu dengan lainnya. Lengkap dengan karya bersama yang membuat musik mereka lumer dalam harmoni baru.

Mencari bentuk

Pergelaran musik Soundrenaline genap menginjak tahun ke-15 sejak mulai dilaksanakan pertama kali pada 2002. Kali ini, ajang yang untuk ketiga kalinya dilaksanakan di kawasan GWK ini mengangkat tema ”United We Loud”. Kenduri musik Soundrenaline 2017 yang menampilkan lebih dari 70 penampil dari dalam dan luar negeri menghibur sekitar 83.000 penonton selama dua hari. Jumlah penonton tahun ini memang lebih sedikit dibandingkan tahun lalu yang mencapai lebih dari 100.000 orang. Empat band asal luar negeri menjadi jualan meski tidak mampu mengerek jumlah penonton. Mereka adalah JET, Cults, Dashboard Confessional, dan MEW. Tidak ketinggalan band-band idola 90-an, seperti Base Jam, /rif, Sheila on 7, hingga penampil-penampil baru yang bercorak elektronik. Pantas saja kolaborasi adalah ”proyek” utama dalam pentas kali ini. Total ada sembilan kolaborasi dari musisi berbagai genre dan generasi. Sebut saja Andien dan Scaller, Barry Likumahuwa dan Abdul and Coffee Theory, atau Endah n Rhesa dan Adhitia Sofyan. Selain itu, ada United We Loud Project yang dikurasi oleh Nikita Dompas atau Rhythm of People yang digawangi Iga Massardi. Novrial Rustam, Managing Director Kilau Indonesia, selaku penyelenggaraan ajang ini, menyampaikan, kolaborasi para musisi merupakan cara agar musik yang hadir terasa jauh lebih keras. Konsep kolaborasi ini diharapkan menjadi pembeda dibandingkan pentas Soundrenaline sebelumnya. Lewat kolaborasi, sekat-sekat genre, warna, dan melodi jauh lebih melebur dan bisa menghadirkan nuansa baru yang lebih eksploratif. Meski demikian, kolaborasi di Soundrenaline bukan hal yang benar-benar baru. Tiga tahun terakhir, perkongsian antarmusisi telah dilakukan, seperti Efek Rumah Kaca dan Barasuara pada 2015 atau Soundrenaline Project tahun lalu.

Agar tak hambar

Kolaborasi di ranah musik sebenarnya hal yang lumrah. Lembaran lama musik dalam negeri pernah punya catatan baik ihwal kerja sama ini. Karya kolaborasi yang paling fenomenal bisa jadi adalah album Guruh Gipsy, yang beredar 1977. Album itu dianggap sebagai cetak biru musik populer Indonesia. Pengamat musik Denny Sakrie (alm) menyejajarkan album Guruh Gipsy dengan album Sgt Pepper’s Lonely Heart Club Band milik The Beatles sebagai karya yang sama-sama berpengaruh pada zamannya. Tahun-tahun berikutnya, kolaborasi semakin jamak terjadi. Belakangan ini, kerja sama antarpemusik, baik penyanyi solo maupun band, makin marak. Produknya berupa aransemen baru lagu masing-masing, ada juga yang berbentuk lagu baru. Namun, karya kolaborasi itu lebih banyak dinikmati di panggung dan sedikit yang terdokumentasi dalam bentuk album. Trio Endank Soekamti bikin album Kolaborasoe pada 2014 yang berisi 14 lagu kolaborasi mereka dengan musisi lain, seperti Slank, Naif, Coboy Junior, hingga Didi Kempot. Pada 5 September lalu, produser eksekutif Urban Gigs melepas album kompilasi bertajuk Unreleased Project. Ada enam pasang band ”dijodohkan” dengan tanggung jawab mencetak dua lagu baru. Mereka adalah Rock n Roll Mafia dan Elephant Kind, Silampukau dan The Hydrant, The Brandals dan Agrikulture, Mocca dan Payung Teduh, Barasuara dan Scaller, serta Kelompok Penerbang Roket dan Kimokal. Pada akhirnya, enak atau tidak adalah urusan selera. Hanya, seperti dituturkan Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca, berdasarkan pengalamannya, kolaborasi itu bukan sesuatu yang mudah. Selain itu, juga butuh visi, komitmen, dan kerja sama yang kuat agar kolaborasi itu tidak hambar.

Dashboard Confessional

tampil dalam pergelaran Soundrenaline 2017 (atas). Rey Marshall, gitaris Kelompok Penerbang Roket (bawah).

FOTO-FOTO: KOMPAS/SAIFUL RIJAL YUNUS

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.