Gerbang Neraka, Bukan Demit Rumahan

Kompas - - HIBURAN - (MOHAMMAD HILMI FAIQ)

Rizal mencoba keluar dari formulasi film horor Indonesia yang selama ini lebih banyak mengeksplorasi demit rumahan: tokoh utama yang diteror demit di rumahnya. Lewat Gerbang Neraka, Rizal membangun narasi tentang demit penunggu piramida Gunung Padang. Percobaan yang mantap meskipun tidak sepenuhnya berhasil. Ketidak berhasil anyang mencolok sangat kentara pada latar atau properti yang digunakan dalam film. Ini, antara lain, terlihat pada tembok-tembok piramida Gunung Padang yang terlalu artifisial, terlalu rapi, mengilap, dan coraknya yang terlihat kurang nyata. Begitu juga dengan gerbang dan bebatuan yang ada di sekitar piramida. Batu-batu yang berjatuhan dan berlompatan itu lebih mirip properti panggung teater sekolah. Gunung Padang, situs megalitikum yang berada di Jawa Barat, menjadi inspirasi produser dan penulis naskah Robert Ronny dan sutradara Rizal mengembangkan cerita Gerbang Neraka produksi Legacy Pictures ini. Mereka lalu membayangkan bentuk piramida berundak yang divisualisasikan lewat teknologi computer generated imagery (CGI)— teknologi grafis tiga dimensi untuk memberi efek khusus pada film. Pengambilan gambar untuk visualisasi yang menggambarkan para tokoh berada dalam piramida ini dilakukan di dalam bangunan, lebih persisnya rumah, yang didesain sedemikian rupa sehingga menyerupai perut goa atau lambung piramida. Sekilas visualisasi itu mengingatkan kita pada film-film Hollywood seperti The Mummy (1999), The Mummy Returns (2001), atau The Mummy: Tomb Of The Dragon Emperor (2008), tiga film laris yang dibintangi Brendan Fraser. Setidaknya 30 persen film Gerang Neraka menggunakan CGI. Film Indonesia yang menggunakan teknologi CGI, seperti Garuda Superhero (2015), Jagoan Instan (2016), dan Rafathar (2017), hasilnya kurang meyakinkan. Lebih parah lagi, film-film berbiaya mahal sampai belasan miliar rupiah itu jeblok di pasaran. Hasil CGI Gerbang Neraka meskipun tidak seabsurd film-film itu, tetapi belum cukup meyakinkan secara visual. Beberapa bagian masih terkesan ganjil. Rizal juga canggung dalam mengeksplorasi adegan perkelahian di akhir film. Gerakan-gerakan silat terkesan main-main belaka. Padahal, jika digarap lebih serius dengan menyewa pesilat atau koreografer yang paham silat secara bagus, bisa memberi nilai lebih. ”Perkelahian dengan makhluk gaib sengaja dibatasi biar tetap menonjol unsur horornya,” kata Rizal, yang juga sutradara film laris Jailangkung. Gerbang Neraka bercerita tentang situs Gunung Padang dalam perspektif fiksi dengan melibatkan tiga tokoh utama, yaitu Tomo Gunadi (Reza Rahadian), seorang wartawan majalah Ghoib yang meliput piramida Gunung Padang. Dia bekerja sama dengan Guntur Samudra (Dwi Sasono), paranormal yang juga mempunyai acara televisi tentang dunia mistis. Mereka bersinergi Kepala Tim Arkeologi Arni Kumalasari (Julie Estelle). Setiap karakter berkembang dengan baik di dalam film ini sehingga logika yang dibangun berjalan secara berkesinambungan. Proses transformasi Tomo, misalnya, digambarnya secara singkat dan simbolis, tetapi efektif. Dia semula adalah wartawan idealis yang antara lain mendapat penghargaan setelah menulis tentang korupsi. Namun, dia beralih menjadi pragmatis karena tuntutan materi yang tidak dapat dia penuhi sebagai wartawan idealis. Ketika menjadi pragmatis itulah dia bekerja sama dengan seorang paranormal yang dia minta mengusir demit di salah satu tempat dan kemudian meminta bayaran warga. Duitnya dibagi dua. Dwi yang memerankan paranormal Guntur pun berhasil melepaskan karakter Dwi yang selama ini terkesan konyol dan kerap melucu. Ia secara khusus berdiskusi dengan seorang indigo untuk memahami dimensi lain kehidupan ini. Hasil dialog itu dia jadikan bahan untuk mengembangkan karakternya sebagai dukun yang juga selebritas. ”Saya sebatas bertanya untuk keperluan film. Ada juga sih cerita lebihnya,” kata Dwi. Film ini mulai dikerjakan sejak dua tahun lalu. Robert Ronny secara khusus melakukan penelitian dan studi pustaka sebelum menulis naskah film. Dari bahan itu, dia memberanikan diri untuk me n g interpretasi kan bentuk piramida Gunung Padang yang berupa bangunan lima sisi dan berundak karena situ sini dikelilingi lima gunung. ”Tapi ini murni fiksi biar tidak mengaburkan dengan situs aslinya,” kata Ronny. Ronny, yang sukses memproduseri Ada Apa Dengan Cinta 2 dan Kartini ini, merasa sekarang waktu yang pas merilis film ini karena melihat film horor tengah laris. Tapi melihat Gerbang Neraka, kebesaran nama Ronny dan Rizal sepertinya belum cukup untuk menciptakan film demit yang menjanjikan.

FOTO-FOTO: LEGACY PICTURES

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.