Dunia Sakit: Apa Mau Kiamat

Kompas - - HIBURAN - OLEH JEAN COUTEAU

Banyak orang kini yakin bahwa dunia sudah menjadi gila, bahkan mendekati kiamat. Itu banyak tanda-tandanya. Sebagian bersifat pribadi. Sebagai orang yang belum uzur total, aku kadang membuka Facebook. Dua hari yang lalu, aku betul-betul dibuat kaget. Baru kubuka, terpampang di layarku moncongnya teman lamaku, seorang filsuf gagal yang telah beralih profesi menjadi kurator seni. Wajahnya tampil tetap muda, menantang … dan aku diajak merayakan ulang tahunnya yang ke-63 di FB. Namun, ada kendala: sudah empat tahun dia telah tiada. Kalau tidak menjadi debu, tubuhnya tinggal tulang saja. Adapun rohnya, ya, kesasar entah mana. Tinggal kehadirannya di dunia maya … FB, eFBe .... Ingin menenangkan diriku, aku beralih ke Google. Mencari informasi tentang diriku. Tetapi baru saja ngeklik nama lengkapku: Jean-Yves Couteau. Astaga! Apa yang aku temukan? Bahwa aku sendiri, Jean-Yves Couteau, telah wafat baru-baru ini di Indre-et-Loire, Perancis, di ujung suatu karier politik medioker yang digambarkan di pers sebagai istimewa. Apakah atma (rohku) sudah kesasar? Hello, teriakku menanti gemanya! Hello!!! Apa betul sudah kiamat? Tadi, ketika aku menceritakan itu semua kepada seorang wanita bule, dia memelototkan mata dan ternganga dengan serius, lalu berujar: ”Bumi memang sakit”. Bisa jadi. Namun, mencari opini yang lebih andal, aku bertanya pada teman Bali kawan lamaku: dengan senyum mesem khasnya, dia mencoba meyakinkanku bahwa penyebab sakit dunia terletak pada perilaku seksual orang bule di pantai Kuta. Aku tidak heran: aku baru saja menyaksikan, di pantai Sanur, ”kisah cinta” bule seumurku dengan cewek seumur cucu-cucu kami berdua. Cara si bule memangku cewek itu memang amat berbeda dengan cara lazimnya orang memangku cucu. Hal-ikhwal pangku-memangku ”cucu” seperti itu tak pantas diceritakan di sini, bukan? Apa pun halnya di atas, tanda kiamat kian banyak. Konon di Timur Tengah sudah turun al-Mahdi, yang sibuk membersihkan dunia dari kezaliman. Tiklah di Mbah Google, al-Mahdi dan kiamat, terbaca: Di akhir zaman akan muncul seorang laki-laki dari Ahlul Bait…. Dia memerintah selama 7 tahun, memenuhi dunia dengan keadilan setelah (sebelumnya) dipenuhi oleh kezaliman dan kezaliman. ”Betul, kok! Itulah al-Baghdadi. Maka tak mengherankan jika anak muda berbondong-bondong ke sana! Namun, harus cepat-cepat. Sudah 4 tahun al-Baghdadi menyiapkan kiamat dunia. Hanya tinggal 3 tahun untuk membersihkan sisa kezaliman dunia. ”Aku serius, lo?” Belum selesai di Timur Tengah, calon penyapu dunia kini sudah ramai bersiap-siap muncul di India. Yang dinanti-nantikan di sana bukanlah al-Mahdi melainkan Kalki, awatara terakhir dari Wisnu. Kitab suci yang dijadikan acuan berbeda. Aku pribadi tidak ada masalah dengan awatara itu, asal dia berkenan menanti Kali Yuga yang sebenarnya untuk menampakkan ujung hidungnya. Soalnya, pernah muncul seorang Kalki palsu di Bukit Samprangan, Bali, pada tahun 1994. Bermaksud menyapu seluruh dunia, dia berakhir di penjara. Calon Kalki yang kini siap muncul di India jauh lebih serius. Bisa timbul dari kalangan BJP Modi atau nongol dari pengikut ormas Shiv Sena…. Tujuannya? Melakukan ”pembersihan” sebagaimana dilakukan pengagum Aung Sang Suu Kyi di Myanmar, di seberang Teluk Bengala. Jadi, datangnya kiamat memang terjamin. Tetapi jangan-jangan kiamat ”beneran” datang dari Barat, yang selalu lebih tuntas soal ”sapu jagat” itu. Bukankah si Trump sudah menjanjikan kepada badut dari Korea api dan angkara murka sebagaimana tidak pernah disaksikan dunia ( fire and fury like the world has never seen). Apakah kata-kata Trump hanya berbusa. Siapa tahu tidak! Kalau begitu, kalahlah sang Mahdi, kalahlah sang Kalki, dan kiamat bakal betul-betul tiba. Maka lebih baik Indonesia, di mana pemimpinnya tenangtenang saja. Biar pun dunia dikatakan sakit atau di ambang kiamat, dia tidak tergoyahkan. Disebut Ratu Adil, Satria Piningit, Mahdi, Erucokro, bahkan titisan Mbah Suro, dia tidak berkelit. Langkah demi langkah, dia maju terus, menjalankan tugas…. tugas seorang Joko. Eling lan waskita.

HANDINING

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.