Bermain, Taklukkan Diri

Konon, musuh terbesar kita adalah diri sendiri. Cara paling mudah mengujinya adalah berhadapan dengan tantangan. Beragam permainan diciptakan untuk mengetahui seberapa jauh kita bisa menang atas diri sendiri. Hadiah besar menanti di ujung ujian.

Kompas - - HIBURAN - OLEH FRANSISCA ROMANA NINIK

Afni (22) menghadapi enam kaleng minuman yang disusun seperti piramida dari jarak tertentu. Tugasnya menjatuhkan kaleng itu dengan menjepretkan karet gelang dalam waktu satu menit. Lima kaleng jatuh sekaligus dalam 20 detik pertama. Tetapi, satu kaleng tersisa tak kunjung jatuh hingga waktu habis. ”Yaahh .... ” Dia masih punya dua ”nyawa” untuk mencoba. Tekad kuat tergambar dari raut mukanya yang serius. Setelah beberapa kali usaha, satu jepretan karet menjatuhkan tiga kaleng teratas. Tak mau menyerah, dia kemudian berhasil menjatuhkan tiga kaleng terakhir sebelum waktu habis. Afni bersorak, penonton pun bertepuk tangan. Hadiah Rp 5 juta dalam genggaman. Baru kali ini Afni ikut serta dalam permainan Minute to Win It yang ditayangkan di stasiun televisi MNC TV setiap Senin pukul 16.30. ”Saya berlatih sendiri di rumah. Saya juga meniru tantangan dan caranya lewat Youtube. Kelihatannya gampang, ternyata susah karena waktu terbatas. Banyak yang gagal,” tutur mahasiswi tersebut. Minute to Win It merupakan franchise game show internasional yang telah ditayangkan di lebih dari 50 negara. Versi pertama ditayangkan di Amerika Serikat pada 14 Maret 2010 di stasiun televisi NBC. Di Indonesia, acara ini tayang perdana pada 17 Juli lalu. ”Permainan melibatkan fisik sehingga dinamis dan menarik. Saat melihat, orang mengira gampang, tetapi saat dilakukan sulit. Serunya di situ,” kata Production Division Head MNC TV John Fair. Ada 10 level yang harus dilalui peserta dengan bermacam tantangan di setiap levelnya. Jika berhasil melewati satu level, peserta mendapatkan hadiah uang mulai Rp 1 juta hingga tertinggi Rp 100 juta. Ada titik aman di mana peserta bisa membawa pulang sejumlah uang meskipun tidak berhasil menyelesaikan tantangan di suatu level. Mereka dibekali tiga nyawa atau tiga kali percobaan untuk menyelesaikan permainan. Jenis permainan lain seperti menyusun 24 krayon kecil berdiri di atas piring tanpa menjatuhkannya, memindahkan bola di atas permukaan segelas air ke gelas lain dengan meniupnya, menjatuhkan kartu yang dijepit jepitan jemuran dengan jepretan karet, menyusun masing-masing enam gelas plastik di atas dua ujung mistar panjang, menjatuhkan kaleng dengan yoyo yang diikat di perut, dan banyak lagi. Sebelum mulai, peserta diberi penjelasan cara memainkan tantangan di setiap level. ”Benda-benda yang dipakai adalah benda-benda yang sehari-hari kita lihat. Bola pingpong, kaleng minuman, karet, tisu, pensil. Ada ratusan macam permainan sesuai pakem Minute to Win It. Format sama dengan permainan asli. Dimungkinkan sedikit modifikasi sesuai kultur lokal, misalnya di sini menggunakan gayung atau papan penggilasan cucian,” ujar John. Siapa saja bisa ikut serta dalam Minute to Win It dengan usia minimal 16 tahun. Pada musim pertama ini, lanjut John, ratusan orang tertarik mendaftar. Selain audisi dengan datang di studio, peserta juga bisa mengirim video untuk kebolehan menyelesaikan tantangan. Setelah empat episode ini, baru satu orang yang berhasil sampai di level 7. Hadiah besar memang menggiurkan bagi peserta. ”Namun, permainan ini tidak semata mengejar hadiah. Ada pelajaran tentang proses, kesabaran, fokus, strategi, juga tekad untuk mengejar impian,” katanya. Game show internasional lain yang diadaptasi di Indonesia adalah Sasuke atau lebih dikenal sebagai Ninja Warrior, permainan olahraga kreatif asal Jepang. Hingga kini acara itu telah disiarkan di lebih dari 150 negara. Di Indonesia, Sasuke Ninja Warrior Indonesia memasuki musim kedua dan ditayangkan stasiun televisi RCTI setiap Sabtu dan Minggu pukul 17.00. Model permainan juga sama dengan pakem yang sudah ada, yakni mengalahkan tantangan-tantangan yang melibatkan kemampuan keseimbangan, kekuatan tubuh, kelincahan, dan strategi. Ada 26 model tantangan yang dipilih sesuai dengan panduan keselamatan dari Tokyo Broadcasting System, stasiun televisi Jepang yang menyiarkan pertama kali acara Sasuke tahun 1997. ”Sasuke Ninja Warrior ini memiliki banyak nilai, terutama bagaimana mengalahkan diri sendiri. Bukannya saling meneriaki agar kontestan lain kalah, peserta justru saling menyemangati,” kata Fabian Dharmawan, General Manager Production Operation RCTI. Peserta juga datang dari beragam kalangan, dari pengusaha, karyawan, pedagang, tukang bangunan, hingga nelayan. Sekat antarmereka hilang saat bersama-sama menjadi peserta. Mereka saling berbagi kiat menghadapi tantangan. Fabian menceritakan, salah satu peserta adalah Eko Karyanto, seorang nelayan asal Kendal. ”Dia bermimpi ingin seperti Makoto Nagano, nelayan yang sukses menjadi juara Sasuke Jepang,” katanya.

Menuju Midoriyama

Musim kedua ini terjaring 1.000 peserta yang dieliminasi menjadi 500 orang melalui uji coba untuk menjalani challenge stage (babak awal), warrior stage (babak pendekar), semifinal 1, semifinal 2, grand final, dan Midoriyama. Midoriyama adalah menara setinggi 30 meter yang dipanjat dengan tali tunggal. Tantangan yang dihadapi peserta, antara lain, meluncur di kain panjang, papan keseimbangan, berdiri di atas ayunan lalu meloncat dan mendarat di jaring, beraksi dengan platform berbentuk kupu-kupu yang berputar lalu mengambil tali untuk meloncat, dan panjat tali. Peserta gagal jika jatuh di air di sekeliling tantangan. Keberhasilan ditentukan dari catatan waktu dalam menyelesaikan rangkaian tantangan. Semakin sedikit, kian baik. ”Sejauh ini, tanggapan pemirsa positif. Acara ini menginspirasi, terutama nilai-nilai di balik permainan. Tidak hanya badan sehat, tetapi juga semangat sebuah komunitas yang kreatif dan penuh kekeluargaan,” kata Fabian.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

ARSIP RCTI

Suasana rekaman salah satu episode program hiburan ”Minute To Win It Indonesia” di Studio MNC TV, Jakarta, Jumat (11/8) (atas). Sasuke Ninja Warrior Indonesia 2017 (bawah).

ARSIP RCTI

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.