Menziarahi Chopin

Udara terasa sejuk meski hari beranjak siang. Begitu menginjakkan kaki di Warsawa, Polandia, pertengahan Juni lalu, kebesaran nama Fryderyk Chopin langsung terlihat. Kedatangan kami disambut komposer musik klasik kelas dunia itu, yang diabadikan sebagai n

Kompas - - AVONTUR - OLEH EVY RACHMAWATI

Meski telah tutup usia lebih dari 150 tahun lalu, sosok Chopin tetap dikenang bangsa Polandia. Hingga kini, komposisi karyanya kerap dipentaskan di berbagai sudut ibu kota negeri itu. Jejak-jejak komposer kelahiran Zelazowa Wola, 1 Maret 1810, itu bisa dijumpai di Jalan Chopin, Warsawa, yang menghubungkan sejumlah situs sejarah hidup sang genius musik itu. Sosok sang pianis itu bisa dijumpai di Taman Lazienki, Warsawa. Di tepi kolam tampak monumen perunggu Fryderyk Chopin rancangan Wachaw Szymanowski, pemenang kompetisi memperingati seabad kelahiran Chopin. Monumen itu dibangun pada 1926 setelah Polandia merdeka, tetapi kemudian dihancurkan Nazi pada 1940 dan baru dibangun kembali tahun 1958. Patung itu menggambarkan Chopin duduk mencari inspirasi, sedikit miring ke belakang, dan mantel tersibak angin. Agar tercipta suasana indah, ada cabang pohon jatuh tersapu angin kencang. Tangan kanan Chopin terangkat ke udara seolah ada di atas piano tak terlihat saat mencari nada yang tepat. Keseluruhan komposisi mengingatkan pada harpa yang monumental. Sayang, saat kami berkunjung ke taman itu, konser musik Chopin sedang tidak digelar. Menurut Joanna, pemandu wisata, sepanjang tahun ini hingga September, pada siang hari setiap akhir pekan ada pementasan musik karya Chopin di sekitar monumen komposer itu. Para pengunjung bisa menikmati musik sambil duduk santai di atas rerumputan. Meski demikian, pengunjung masih bisa mendengar komposisi pianis virtuoso asal Polandia itu disertai informasi singkat tentang komposer itu dengan memencet tombol di bangku taman yang tersedia di dekat patung itu. Bangku yang terbuat dari batu itu dilengkapi dengan perangkat multimedia.

Kiprah sang komposer

Kepingan kehidupan Chopin saat ia bermukim di Warsawa dan kiprah bermusiknya di Perancis terangkum di Museum Fryderyk Chopin di Warsawa. Untuk menelusuri jejak kehidupan komposer itu, pertengahan Juni lalu, kami mengunjungi museum yang memadukan unsur suara, cahaya, gagasan, dan teknologi itu. Dengan pendekatan multimedia, para pengunjung diajak menyelami perjalanan hidup Chopin dengan cara mereka sendiri. Dituturkan, Chopin (1810-1849) merupakan anak kedua dari pasangan Mikolaj Chopin dan Justyna serta memiliki tiga saudara perempuan. Pada 1810, keluarga itu pindah ke Warsawa karena ayahnya menjadi guru di Warsaw Lyceum. Meski suka menulis dan menggambar karikatur, bakat alami terbesar Chopin ialah bermain piano. Sejak usia enam tahun, ia belajar piano, lalu membuat komposisi. Bakatnya tumbuh luar biasa pesat di bawah bimbingan Josef Elsner dan Wilhelm Waclaw Wurfel. Pada 1826, ia kuliah musik selama tiga tahun di Warsaw University dan meraih predikat ”bakat istimewa, genius musik”. Saat itu, ia menulis komposisi serius pertama, ”Sonata in C Minor, The Fantasy on Polish Airs”. Pada tahun 1829, pianis keturunan Polandia-Perancis itu menggelar konser dan memukau publik di Vienna. Setelah tur konsernya tertunda karena ketegangan politik di Eropa, pada 1831, ia menetap di Paris, Perancis. Akhir Februari 1832, ia memukau elite musik dunia dipimpin Ferenc Liszt dan Francois-Joseph Fetis. Liszt menyebutnya pianis terbaik dunia. Kehidupan Chopin tak melulu soal musik, tetapi juga penuh romantika. Pada 1835, ia bertunangan dengan Maria Wodzinska, tetapi tak berujung ke pelaminan. Setahun kemudian, ia berkenalan dengan perempuan penulis roman Perancis, Aurore Dudevant, yang dikenal sebagai George Sand. Kedekatan mereka jadi momen membahagiakan dan produktif bagi pianis itu. Namun, kebersamaan pasangan itu berakhir dua tahun sebelum musisi itu tutup usia. Setelah berpisah dengan Sand, kondisi kesehatan komposer yang karya-karyanya terinspirasi musik rakyat Polandia itu memburuk. Setelah konser di Paris dan London, Chopin sakit parah dan dirawat saudara perempuannya sampai mengembuskan napas terakhir pada 17 Oktober 1849. Semasa hidupnya, menurut Irena Poniatowska dalam buku Chopin and His Work, Chopin dikenal tertutup, berperilaku aristokrat, dan punya pergaulan luas. Leon Escudier dalam ulasannya pada 1841 dan 1842 menyatakan, ”Dengarkan mimpi Chopin, betapa manisnya ia bernyanyi, betapa sempurna ia mengekspresikan perasaannya saat bermain piano.” Esensi musik Chopin ialah improvisasi. Proses kreatifnya spontan. Ia individual dalam bermusik, baik melodi, harmoni, maupun ritme. Menurut Rhoderick J McNeill dalam buku Sejarah Musik, permainan Chopin amat halus dan detail. Gayanya yang unik menempatkannya sebagai salah satu musisi terbesar aliran romantisisme.

Koleksi terbanyak

Perjalanan hidup dan karya-karya sang genius musik itu bisa ditelusuri melalui berbagai koleksi di Museum Chopin. Saat tiba di gedung museum yang dikenal sebagai Kastil Ostrogski, sejenak kami menikmati keindahan bangunan berdinding batu bata merah itu. Sayup-sayup terdengar suara perempuan berlatih menyanyi opera dari gedung di sebelah museum itu. Begitu memasuki gedung berlantai lima itu, rombongan kami pun berpencar untuk menikmati koleksi museum itu. Sebagian rekan dari Indonesia memasuki sebuah ruangan untuk melihat sejumlah barang peninggalan komposer itu, antara lain piano, kursi, dan sketsa wajah Chopin. Sejumlah rekan lain berswafoto di depan grand piano dan kostum opera abad ke-19. Di salah satu ruangan ada sejumlah bilik kaca dilengkapi kursi dan papan pemutar musik berlayar sentuh. Begitu kami menyentuh layar, ”Mazurka in G Major, Kulawy WN8” karya Chopin pun mengalun lembut. Di sudut ruangan, beberapa pengunjung menyimak kisah hidup dan karya Chopin melalui layar televisi yang ada di dinding. Untuk mendapat penjelasan tentang koleksi museum itu secara interaktif, tersedia puluhan televisi layar sentuh dilengkapi dengan audio. Beberapa pengunjung tampak membaca buku virtual dan lembaran kerja musik dengan tulisan tangan Chopin. Selain berada ruang baca, sejumlah pengunjung juga menikmati fasilitas permainan mengikuti irama musik. Di gedung seluas 890 meter persegi yang dibuka untuk umum sejak 2010 itu, dipajang sekitar 430 item. Menurut data Museum Chopin, di gedung itu ada setidaknya 105 tempat pajangan, 12 buku virtual, 70 stasiun multimedia, 39 instalasi video, 4 grand piano bersejarah, 85 manuskrip musik, dan toko yang menjual beragam cendera mata terkait Chopin. Museum itu menyimpan koleksi terbesar Chopin, yakni 7.500 item. Koleksi itu mulai dikumpulkan Jane Stirling, murid Chopin, lalu diperluas sejak 1899 oleh Masyarakat Musik Warsawa. Pada 1934, tugas itu diambil alih Institut Fryderyk Chopin. Sebagian koleksi ditetapkan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sebagai kenangan dunia pada 1999. Komposisi kehidupan Chopin yang diabadikan melalui monumen, museum, dan pementasan karyanya menunjukkan, ia tak hanya dipandang sebagai komposer. Kiprah genius musik yang mendunia itu menumbuhkan semangat bangsa Polandia untuk bangkit setelah wilayahnya porak poranda saat konflik di Eropa.

FOTO-FOTO: KOMPAS/EVY RACHMAWATI

Salah satu bangunan di dalam kompleks Taman Lazienki di Warsawa, Polandia, Kamis (15/6) (atas). Para pengunjung tengah menyaksikan Monumen Chopin (kiri). Benda peninggalan komposer Chopin (bawah).

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.