Gerakan Perempuan Nelayan Thailand

Kompas - - AVONTUR -

Melaut dengan suami, seperti yang dilakukan oleh Maree Kunsette (60), menjadi bagian kegiatan sehari-hari. Duduk di bagian depan perahu kecil dengan tenang, matanya menyapu hamparan laut untuk menentukan titik di mana menyimpan bendera sebagai pertanda menurunkan jaring di Laut Andaman di pesisir barat Satun, di bagian selatan Thailand, akhir Juli lalu. Kunsette menjadi salah satu contoh keluarga nelayan yang mulai membuka wawasan pentingnya pemberdayaan peranan perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga. Mulai dari kegiatan melaut, mengorganisasi hasil tangkapan, hingga memasarkan hasil tangkapan. Hampir 90 persen hasil tangkapan mereka terserap di Bangkok. Para perempuan nelayan ini tergabung dalam kelompok gerakan pemberdayaan perempuan nelayan bernama Fisherfolk. Kelompok ini mayoritas digerakkan para ibu-ibu hingga remaja putri. Kaum pria berperan sebagai pendukung. Kelompok yang dibina Oxfam Thailand ini mampu memangkas jalur perdagangan melalui para tengkulak sehingga mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga nelayan. Dengan pemberdayaan ini, para perempuan pekerja pun mendapat upah yang sesuai dengan standar upah minimum sebesar 300 baht atau setara Rp 120.000 per hari. Mereka juga mulai menyadari pentingnya menjaga ekosistem laut dengan menghentikan kegiatan penangkapan berlebih dengan tetap menjaga keseimbangan antara tetap berpenghasilan dengan melaut dan menjaga regenerasi perikanan. ”Kami ingin tetap menjaga laut kami. Bukan untuk generasi kami, melainkan untuk generasi anak cucu kami,” kata Maben Aman (56), salah satu nelayan yang juga melaut pada hari itu. foto dan teks: Kompas/ Kompas/Rony Ariyanto Nugroho

Menunggu Tangkapan

Melaut di Lautan Andaman

Diskusi Gerakan Perikanan Perempuan Nelayan

Kendaraan Melaut

Rapikan Sebelum Dikemas

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.