Ganjar Mengaku Ditawari Uang

Setya Novanto Berpesan Jangan Galak soal KTP Elektronik

Kompas - - POLITIK & HUKUM - (REK)

JAKARTA, KOMPAS — Mantan Wakil Ketua Komisi II DPR Ganjar Pranowo mengaku pernah ditawari uang oleh anggota Komisi II DPR periode 2009-2014, Mustokoweni Murdi. Penawaran uang itu terjadi seusai Komisi II DPR rapat dengan Kementerian Dalam Negeri. Namun, Ganjar menyatakan menolak tawaran uang dari Mustokoweni tersebut. Ganjar menjelaskan, tawaran uang tersebut dilakukan seusai rapat Komisi II dengan Kementerian Dalam Negeri, tetapi rapat itu bukan membahas proyek kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el). Cerita tersebut diungkapkan Ganjar saat menjadi saksi perkara korupsi KTP-el di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta untuk terdakwa Andi Agustinus alias Andi Narogong, Jumat (13/10). Namun, cerita ini tak bisa dikonfrontasi ke Mustokoweni karena yang bersangkutan meninggal tahun 2010. ”Dik, ini jatahmu, kata Mustokoweni kepada saya ketika itu. Saya tidak tahu itu uang apa. Lalu, saya jawab, sudah enggak usah. Pe’en (ambillah untukmu),” kata Ganjar dalam kesaksiannya dalam sidang yang dipimpin hakim Jhon Halasan Butarbutar. Ganjar melanjutkan, ”Saya ditawari setelah rapat, tetapi bukan rapat soal KTP elektronik. Saya juga tidak tahu itu uang apa. Namun, saya tidak menerima uang itu. Saya katakan kepada Bu Mustokoweni agar dia ambil saja uang itu.” Ganjar yang kini menjabat Gubernur Jawa Tengah juga mengungkapkan, saat masih menjabat Wakil Ketua Komisi II DPR, dia pernah diberi tas (goodie bag) berisi sejumlah uang oleh orang tak dikenal. Pemberian tersebut dilakukan di sela-sela istirahat rapat Komisi II DPR. Namun, setelah mengintip isi tas tersebut yang diduga amplop uang, Ganjar memanggil orang itu dan mengembalikan bingkisan tersebut. ”Apakah Anda tahu siapa yang memberikan bingkisan atau titipan itu kepada Anda?” tanya hakim Jhon Halasan mengejar pengakuan Ganjar. ”Sampai hari ini masih misteri, Yang Mulia, karena sampai sekarang saya tidak tahu siapa orang itu dan siapa yang menyuruh. Saat bingkisan diberikan, saya sedang berbincang-bincang dengan staf di masa istirahat rapat. Saya langsung mengembalikan bingkisan itu,” ujar Ganjar. Selain Ganjar, sidang juga menghadirkan sejumlah saksi lain, yakni Dedi Priyono yang merupakan kakak Andi Agustinus.

Bertemu Novanto

Dalam kesaksiannya, Ganjar juga mengaku pernah bertemu dengan Setya Novanto, sekitar tahun 2011. Saat itu, Novanto adalah Ketua Fraksi Partai Golkar DPR. Pertemuan itu terjadi di Bandara Ngurah Rai, Bali. ”Itu pertemuan tidak sengaja. Saat itu Pak Setya Novanto sempat sebentar bicara soal proyek KTP-el. Dia bilang, jangan galak-galak, urusan KTP-el sudah beres. Maksudnya mungkin karena urusan proyek itu sudah selesai diputuskan pemerintah,” kata Ganjar. Terkait peran Novanto, Dedi Priyono mengaku pernah meminta pengusaha Muda Ikhsan Harahap untuk memberi maupun menerima sejumlah uang dari pihak tertentu melalui rekeningnya. Total aliran uang melalui rekening Muda Ikhsan mencapai 1,5 juta dollar AS. Dalam sidang-sidang sebelumnya terungkap, Muda Ikhsan adalah kenalan Irvanto Hendra Pambudi, keponakan Novanto. Irvanto ketika itu menjabat Direktur PT Murakabi Sejahtera, salah satu peserta lelang proyek KTP elektronik. Di akhir lelang, PT Murakabi kalah, dan lelang dimenangi Konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI). Dalam dakwaan jaksa disebutkan, Andi berperan mengatur pemenangan PNRI dengan memecah konsorsium menjadi tiga supaya memenuhi persyaratan tender, yakni PNRI, Astra Graphia, dan PT Murakabi. Rencana ini diatur di ruko milik Andi di daerah Fatmawati.

KOMPAS/ALIF ICHWAN

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo hadir dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat (13/10). Ganjar menjadi saksi dengan terdakwa Andi Narogong dalam perkara dugaan korupsi pengadaan KTP elektronik di Kementerian Dalam Negeri.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.