Perempuan Berdaya Merenda Damai

Kompas - - POLITIK & HUKUM - (RINI KUSTIASIH/ ANDY RIZA HIDAYAT)

Pelataran rumah Hasbiyah (40) di Desa Dundang, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Sabtu (7/10), disesaki puluhan perempuan. Aneka camilan disuguhkan. Uniknya, beberapa camilan dikemas ciamik sama halnya dengan keripik di pasar-pasar modern. Keripik Asolole namanya.

Puluhan perempuan yang tergabung dalam Kelompok Sumber Makmur pimpinan Hasbiyah menyambut tamu dari Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Urusan Perempuan (United Nations Women). Selama empat bulan terakhir ini, anggota Kelompok Sumber Makmur menerima bantuan dan pelatihan keterampilan dari UN Women yang bekerja sama dengan Wahid Foundation dalam bidang pemberdayaan perempuan. Kelompok yang berdiri sejak tahun 2000 itu dilatih cara membuat kemasan keripik yang higienis dan modern, lengkap dengan komposisi dan bahan-bahan serta merek andalan. Bahan utama keripik, yakni umbi-umbian, seperti talas, bentul (keladi), singkong, ubi ungu, dan ubi jalar, diolah dengan sistem gotong royong yang padat karya. Mereka juga dibantu alat pengemasan oleh Wahid Foundation dan UN Women. ”Kami dilatih selama beberapa hari oleh Wahid Foundation dan UN Women cara membuat kemasan. Ini hasilnya,” tunjuk Hasbiyah pada salah satu keripik talas yang dikemas dalam kemasan 250 gram. Keripik itu dihargai Rp 15.000 per bungkus. Nama Asolole sengaja dipilih untuk membuat pembeli penasaran dan tertarik membeli. Asolole adalah penggalan lagu dangdut Eny Sagita yang beberapa waktu lalu sangat populer di Jatim. Meskipun baru dilatih beberapa hari, ibu-ibu Kelompok Sumber Makmur berupaya mempraktikkan teori pemasaran guna menarik minat pembeli.

Menyemai perdamaian

Pelatihan yang diterima ibu-ibu di Sumenep itu sebenarnya merupakan bagian dari Program Kampung Damai yang digagas Wahid Foundation dan UN Women. Kampanye perdamaian melalui jargon tanpa diimbangi dengan praktik pemberdayaan ekonomi bagaikan pepesan kosong. Pemberdayaan ekonomi diyakini merupakan salah satu fondasi kuat bagi terwujudnya perdamaian. Kelompok perempuan, utamanya, memiliki peran krusial dalam mewujudkan perdamaian. Direktur Wahid Foundation Yenny Zannuba Wahid mengatakan, program pemberdayaan keterampilan diharapkan bisa mendorong perbaikan ekonomi perempuan dan keluarganya. Dengan kemampuan ekonomi yang membaik, perempuan akan lebih mampu menangkis provokasi negatif, terutama yang dibungkus beragam kepentingan, baik radikalisasi agama, politik, maupun ekonomi. Pemilihan kepala daerah dan pemilihan kepala desa, misalnya, menjadi salah satu alasan tingginya konflik di desa-desa di Sumenep, Madura. Politik uang dan kucuran dana desa menjadi arena pertarungan banal yang membuat warga berselisih. Dana desa yang membanjir dalam tiga tahun terakhir turut memicu kerasnya persaingan dalam pilkades. Pemerintah telah mengucurkan Rp 127 triliun untuk 74.000 desa sejak tahun 2015 dengan rata-rata setiap desa menerima Rp 300 juta (2015), Rp 600 juta (2016), dan Rp 800 juta (2017). ”Meskipun kepala desa sudah terpilih, permusuhan itu masih berlangsung antarwarga. Padahal, sehari-hari mereka adalah kerabat atau tetangga. Sapi warga yang mendukung pihak lawan tiba-tiba banyak hilang dicuri. Warga juga berselisih paham dan saling melempar potas (bom ikan),” kata Hasbiyah. Beruntung, Guluk-Guluk menjadi rumah bagi Pesantren Annuqoyah, yang merupakan salah satu pesantren tertua di Pulau Madura. Pesantren yang didirikan tahun 1887 itu menjadi jangkar perdamaian bagi warga yang berselisih paham. Hampir setiap kali terjadi pertikaian, kiai atau nyai kiai langsung turun tangan menyelesaikan sebelum meluas. ”Kalau ada warga bertikai, mereka mengadu kepada kami. Kalau kiai sudah bicara, semua pihak bertikai akan berdamai,” kata Fadillah (42), salah seorang pengajar Pesantren Annuqoyah. Belum lagi pergantian kepala daerah lewat pilkada yang cenderung membuat warga terbelah dalam beberapa kubu. ”Politik uang membuat warga terbelah. Di sini peran kiai diperlukan. Ulama turun untuk meredam konflik, bukan memanas-manasi,” ujar Fadillah yang juga menantu pendiri Annuqoyah.

Sejarah panjang

Perempuan di lingkungan Annuqoyah menjadi pilihan bagi UN Women dan Wahid Foundation karena pesantren memiliki sejarah panjang serta pengalaman mengembangkan toleransi dan perdamaian. Tidak hanya tertanam ke benak para santri, semangat ini pun tumbuh dalam perilaku sehari-hari warga di sekitar pesantren. Namun, kerap kali persoalan ekonomi membuat warga mudah tersulut provokasi. Perempuan Guluk-Guluk, seperti sebagian besar perempuan lain di Madura, dikenal sebagai pribadi yang ulet dan giat bekerja. Sebagian besar perempuan Guluk-Guluk menikah di bawah usia 20 tahun. Mereka harus membantu keluarga dengan bertani tembakau, jagung, dan padi. Kerap kali penghasilan perempuan lebih besar dari suami, yang umumnya pekerja kasar. Direktur Regional UN Women Asia Pasifik Miwa Kato mengatakan, pemberdayaan perempuan pada dasarnya adalah pemberdayaan masyarakat. ”Tema-tema radikalisme, narkotika, alkohol, dan kekerasan lainnya melibatkan peran penting perempuan untuk mengikisnya. Bagaimanapun pendidikan dalam keluarga memainkan peranan krusial untuk mencegah keluarga terlibat dalam kekerasan dan konflik,” ujarnya. Presiden Joko Widodo dalam peresmian Kampung Damai di Annuqoyah mengingatkan, konflik sekecil apa pun harus segera diatasi. Untuk bangsa sebesar Indonesia yang majemuk, konflik sekecil apa pun mesti diredam dengan berbagai cara. Perempuan dan pesantren terbukti memiliki kekuatan dan potensi untuk meredam gejolak di masyarakat. Seperti dikatakan pemimpin Pesantren Annuqoyah, Abdullah A’la, toleransi dan perdamaian adalah karakter kehidupan pesantren.

KOMPAS/RINI KUSTIASIH

Kelompok perempuan Sumber Makmur di Desa Dundang, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, mengikuti pelatihan pembuatan kemasan keripik dari umbi-umbian yang didukung oleh Wahid Foundation dan UN Women, Sabtu (7/10). Kelompok yang berdiri sejak tahun 2000 ini telah memulai usahanya dengan biaya sendiri demi perbaikan ekonomi keluarga. Sejak Juni 2017, kelompok ini disokong Wahid Foundation dan UN Women agar makin berdaya secara ekonomi.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.