Milenial dan Politik Digital

Kompas - - OPINI - Oleh WASISTO RAHARJO JATI

Politik Indonesia yang masih didominasi oleh nuansa formalistik, struktural, dan skriptual akan mengalami perubahan menjadi informalistik, egaliter, dan digital. Hal tersebut dapat diindikasikan dengan munculnya kelompok milenial yang kini sedang tumbuh dan berkembang dalam ruang publik. Situasi kekinian menunjukkan bahwa terjadi kegagapan yang dialami oleh para elite politisi senior ketika menghadapi kelompok milenial ini. Kegagapan itu justru ditanggapi dengan adanya sikap arogansi elite yang justru menimbulkan sikap antipati dari kalangan milenial. Seperti yang dtunjukkan dalam kasus penistaan agama, G30S/PKI, isu komunisme, dan minoritas telah memperlihatkan bahwa generasi senior yang tidak mampu membendung adanya sikap kritis milenial dengan beragam informasi yang didapatkan. Kondisi itu menunjukkan adanya pendekatan primordial berbasis identitas yang selama ini menjadi kompor politik mendapatkan kritikan meluas di kalangan milenial. Populasi kalangan milenial di Indonesia cukup menarik jika dikaji lebih mendalam, baik secara sosio politik maupun sosio budaya. Mereka adalah generasi yang terlahir tanpa ikatan emosi sejarah dengan peristiwa politik sebelumnya sehingga membentuk pandangan politik milenial yang independen. Tidak adanya keterikatan sejarah ini justru membuat kalangan milenial secara sosio politik berusaha mencari legitimasinya sebagai generasi baru dan tampil berbeda di Indonesia. Memang harus diakui bahwa kalangan milenial juga berada dalam posisi dilematis, yakni di satu sisi mereka adalah generasi yang protektif karena sengaja dibentuk dan dikonstruksi oleh para orangtua untuk menjadi generasi yang ideal dan mekanis. Namun, di sisi lain, mereka adalah generasi reaktif yang dengan secara cepat mampu menyerap segala sumber informasi berkat adanya teknologi dan berusaha untuk adaptif dalam setiap dinamika zaman. Secara sosio budaya, generasi milenial adalah kelompok masyarakat yang berusaha menampilkan dirinya sebagai kelompok modern yang terlepas dari ikatan primordial dan identitas. Adanya faktor agama dan etnisitas yang selama ini menjadi isu krusial dalam demografi Indonesia tidak terlalu mereka hiraukan. Pada faktanya, teknologi digital kemudian menuntut generasi milenial untuk menjadi kalangan melek informasi. Oleh karena itu, faktor informasi menjadi identitas baru kalangan milenial ini karena melalui kepemilikan informasi dapat berpengaruh pada posisi dan status mereka di ruang publik. Situasi hari ini menunjukkan bahwa limpahan informasi yang sifatnya anti-mainstream berkembang pesat di kalangan milenial melalui beragam portal dunia maya. Dengan kata lain, kalangan milenial sekarang ini menggunakan politik peron, yakni secara silih berganti menunggu informasi yang berkembang. Mereka akan menjadi yang terdepan dalam perubahan, tetapi mereka akan juga siap ke belakang jika kepemilikan informasi yang disampaikan berkurang. Seolah mereka ingin melakukan dekonstruksi atas narasinarasi sejarah masa lalu dengan situasi kekinian. Hal yang terpenting bagi kalangan milenial adalah budaya eksis dan narsis yang sejatinya adalah upaya mereka mencari perhatian publik agar dianggap sebagai generasi agen perubahan.

Realita politik milenial

Adanya potret dilematis itu yang kemudian bisa dibaca dalam melihat gejala politik kelas menengah muda hari ini dalam menyikapi isu politik kekinian. Pada umumnya generasi milenial ini memiliki pandangan berbeda dengan generasi senior sebelumnya. Mereka tidak terlibat intrik dan konflik terbuka di ruang publik, tetapi terlibat sengit di dunia maya. Artinya, secara politis, generasi milenial ini adalah sekelompok pemain aman yang berusaha mengambil sikap risiko politik yang kecil di ruang publik. Namun, di dunia maya, mereka akan menjadi pengambil risiko dengan berusaha mencermati dan mengomentari isu-isu yang sifatnya high politics. Hal itulah yang terkadang membuat sikap dan gerak generasi milenial menjadi sulit terbaca dalam politik. Kondisi itulah yang kemudian menarik minat generasi senior untuk menyelami kehidupan mereka. Oleh karena itu, langgam politik Indonesia hari ini dihadapkan pada realita politik sebagai mitos kini berganti menjadi politik sebagai realitas. Artinya, basis pembacaan politik Indonesia yang selama ini cenderung sakral dan simbol berusaha dimentahkan kalangan milenial menjadi kasual. Munculnya berbagai macam kalangan milenial untuk merintis sebagai politisi menarik untuk dibaca bahwa ada idealisme murni yang mereka usung untuk pembangunan bangsa dan negara. Generasi senior berusaha mendekati kembali kalangan milenial melalui gaya mereka yang cenderung gandrung dengan budaya populer namun kritis. Namun, yang terjadi adalah fait accompli di mana generasi senior gagal menjadi milenial. Senior ingin berusaha untuk menjadi patron atas milenial, sementara milenial ingin menjadi patron atas senior dengan sikap mereka berbeda. Kondisi tersebut yang memancing adanya kontestasi pengaruh antara senior dan milenial. Oleh karena itu, dalam rentang tahun ini hingga nanti tahun 2045, suksesi kepemimpinan politik di Indonesia akan beralih kepada kalangan milenial. Pada tahun 2045, Indonesia telah mencapai 100 tahun kemerdekaan dan besar kemungkinan terjadi perubahan mendasar atas capaian masa depan dan kenangan masa lalu yang akan dinarasikan secara progresif dan berbeda. Senior pun harus rela untuk kemudian meninggalkan panggung dan menyerahkan estafet kepemimpinan. Oleh karena itu, keberadaan generasi milenial ini perlu dikembangkan dan ditumbuhkan agar siap menjadi generasi pemimpin Indonesia di masa mendatang. WASISTO RAHARJO JATI Peneliti Pusat Penelitian Politik LIPI

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.